
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh," jawab Farid seraya berdiri menyambut sang guru dengan hormat.
"Aaah, sudah lama kamu gak ke sini, Rid. Bagaimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah Pak Kiai."
"Sibuk apa sekarang? Masih suka merukyah orang?"
"Alhamdulillah masih."
"Alhamdulillah."
Pak Kiai melepaskan sorbannya, lalu meletakkannya di belakang kursi.
"Loh, ini minum sama makanannya mana toh? Mara, Ra."
Tidak lama kemudian gadis cantik itu datang lagi.
"Iya, Abi."
"Tolong ambilkan minum dan gorengan hangat. Ini ada tamu jauh kenapa malah dikasih isi toples saja? Ayo."
"Masih untung dikasih isinya, Bi. Tadinya mau ta kasih toplesnya aja."
"Husss! kamu itu."
Cemara segera pergi melihat tangan abinya sudah terangkat ke atas. Tentu saja itu hanyalah sebuah guyonan.
"Sekarang mara sudah berubah, ya, Pak Kiai."
"Berubah cangkangnya saja, Rid. Isinya masih sama. Saya juga kadang bingung harus diapakan anak itu."
"Biarkan saja, Pak Kiai. Mara itu baik kok. Dia juga pintar mengaji. Hanya saja memang tidak semanis kakaknya yang lain. Tapi bukan masalah besar."
"Tidak semua memahami dia seperti kamu, Rid. Kadang orang menyalahkan karena Abi sebagai pimpinan pondok disalahkan karena tidak bisa mendidik anak sendiri."
"Orang lain memang lebih suka mencari kesalahan, Pak Kiai. Untuk apa kita mendengar mereka. Baik buruknya mara kan keluarga yang tahu. Tidak perlu penilaian orang lain."
Pak Kiai manggut-manggut sambil tersenyum tipis.
"Ini dia bakwan hangat dan pisang gorengnya. Kalau mau pisang mulusnya, Mas Farid ambil saja ke kebun sendiri. Jangan menyusahkan orang rumah."
__ADS_1
"Maraaa."
"He he he. Maaf, Bi."
Gadis itu duduk di kursi tepat di samping Farid.
"Bagaimana kamu sekarang setelah istrimu lama pergi?"
"Pergi? Ke mana? Belajar lagi kah? Ke mana? Kairo? atau ...."
Farid menoleh sambil tersenyum.
"Istri mas sudah lama meninggal, Mara."
"Ooopsss."
Mara menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Maaf, Mas."
Farid menggelengkan kepala.
"Jadi gimana sekarang, Rid? Kamu sudah punya istri lagi?"
"Owalah, setia banget, Mas. Hebat! Cowok zaman sekarang, nih, ya. Belum juga kering udah gatel nyari wanita lai. Mas Farid emang beda."
"Tau dari mana?" tanya Farid dengan nada lembut dan memanjakan.
"Sinetron."
Tuk!
"Awww!"
Farid memukul kepala Mara dengan telunjuknya.
"Jangan kebanyakan nonton televisi. Hafalan kamu sudah sampai juz berapa, hmmm?"
"Satu juz lagi, Mas." Mara menjawab dengan semangat sambil mengacungkan jarinya.
"Anak pintar. Lanjutkan, ya. Nanti kalau sudah selesai, mas kasih kamu hadiah."
"Beneran?"
__ADS_1
Farid mengangguk. "Kamu mau hadiah apa?"
"Cincin."
"Cincin?"
Amara mengangguk mantap. "Biar mara bisa kasih tahu ke temen-temen kalau mara juga dikasih cincin sama laki-laki. Ha ha ha."
Untuk sesaat Farid merasa terkejut sekaligus heran. Hatinya menduga hal lain yang semoga dugaan Farid salah.
"Mara ... masuk, Nak. Sudah waktunya makan sayang."
Suara umi memanggil. Tidak lama kemudian dia keluar.
"Eh, Farid. Apa kabar?"
"Alhamdulillah umi."
"Mara, ayo kita makan dulu."
"Mas, jangan lupa bawakan Mara cincin ya."
Farid tersenyum.
Pak Kiai menghela nafas panjang setelah Mara dibawa pergi oleh ibunya.
"Ujian, Rid. Manusia selalu punya ujian. Entah apa ujiannya tapi kita pasti akan mendapatkan ujian itu."
"Karena Allah tau bahwa Pak Kiai mampu."
Cemara. Anak seorang kiai yang memiliki kekurangan sejak lahir. Dia tumbuh tapi tidak dengan jiwanya. Cantik layaknya seorang gadis biasa, namun dia memiliki pola pikir seperti anak sekolah dasar. Meski begitu, kepintarannya melebihi anak-anak kiai yang lainnya.
Musibah dan anugerah yang datang secara bersamaan. Tergantung mana yang akan kita ambil. Bersedih hati karena musibahnya, atau bersyukur karena anugerahnya.
"Iya, kamu ke sini pasti ada perlu kan? Ada apa, Farid?"
Meski malu dan merasa ini tidak pantas, Farid akhirnya jujur. Bagaimana dia mencintai Khadijah, bagaimana kondisi ibunya saat ini. Tentang Hanifah yang semakin besar dan butuh sosok seorang ibu.
"Santri di sini memang banyak, tapi saya tidak tahu harus memilih siapa untuk kamu."
"Saya akan terima siapapun yang pak Kiai pulihkan untuk saya."
"Termasuk Cemara?"
__ADS_1
Farid tertegun. "Saya bersedia, Pak Kiai." Akhirnya Farid menyanggupi.