
Malam harinya Salsa tengah berada di warung nasi goreng langganannya. Ia memang sering kesini kalau tidak selera makan dirumah.
"Kang, mba Wenny kapan kesini?" Tanya Salsa berbincang pada kang Doni.
"Ndak tau lah neng, mba Wenny sibuk jadi Ndak bisa kemari" jawab kang Doni
"Sekali kali ajak mba Wenny kesini kang, Salsa udah lama gak ketemu" ucap Salsa mengunyah makanannya.
"Wes lah nanti kalo gak sibuk pasti akang ajak kesini" ucap kang Doni.
"Neng Salsa kenapa jarang kesini?" Tanya kang Doni.
"Biasa kang, namanya juga anak muda jalan sama temen, lagipula banyak tugas dari kampus" jawab Salsa santai.
"Oh kirain kemana" ucap kang Doni.
"Qilla udah sekolah kang?" Tanya Salsa.
"Udah neng, baru masuk kelas satu SD" jawab kang Doni.
Salsa memang sering mengobrol bersama kang Doni, bahkan sampai warungnya ditutup. Wenny adalah istri kang Doni yang tinggal di kampung, dan Qilla adalah anak kang Doni yang masih berumur 6 tahun.
"Yaudah kang, Salsa pamit ya, udah malem ini. Ntar mama nyariin" pamit Salsa lalu mengulurkan uang membayar makanannya.
"Wes lah, hati hati ya" ucap kang Doni yang diangguki Salsa.
Salsa berjalan menuju rumahnya. Ia tak memakai motor atau mobilnya, karena warung kang Doni lumayan dekat dari rumahnya.
Tidak ada angin tak ada hujan, seorang pria berlari kencang dan merampas tas Selempang Salsa, membuat si empunya menjerit minta tolong.
"Tolonggggg, Tolongggg, Copeettt" teriak Salsa.
__ADS_1
Namun karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, jalanan nampak sepi, tak ada satupun orang yang lewat membantu Salsa.
"Emppttt" Salsa merasakan ada seseorang yang menutup mulutnya dengan saputangan.
"Emmppttt" Salsa terus memberontak tapi tenaga seseorang itu jauh lebih kuat darinya.
Bugh.
Bugh.
Sebuah bogeman mentah mendarat sempurna dipipi pria itu.
"Brengsek!" Umpat seorang pria yang telah menolong Salsa.
"Andri" batin Salsa melihat siapa yang telah menolong
"Hei anak muda berani kau.." geram seseorang itu.
Bugh.
"Beraninya sama perempuan, dasar luknut!" Sentak Andri melayangkan pukulan ke wajah pria itu.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Tiga kali pukulan yang Andri layangkan untuk pria itu. Sehingga membuatnya terjatuh dan berlari kencang menghindari Andri.
"Lo gapapa?" Ucap Andri menghampiri Salsa dan memberikan tas Salsa.
__ADS_1
Salsa hanya menggelengkan lemah, dan sedetik kemudian ia menangis.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Isak tangis Salsa sambil menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.
"Hey tidak perlu menangis, premannya sudah pergi" ucap Andri mengelus punggung Salsa memberikan ketenangan.
"Apa dia melukaimu?" Tanya Andri menatap Salsa, yang hanya dijawab gelengan kepala dari Salsa.
"Makasih ya ndri, kalau gak ada Lo tadi, gue gak tau nasib gue gimana" ucap Salsa tulus.
"It's okay, btw darimana Lo Ini udah malem" tanya Andri.
"Gue habis dari warung nasi goreng langganan gue. Gue udah biasa pulang malem, tapi baru kali ini gue ketemu sama preman kaya dia" jelas Salsa.
"Ndri itu bibir kamu berdarah, aku obatin ya" tawar Salsa melihat sudut bibir Andri yang berdarah.
"Nggak usah kok, ini cuma luka kecil, nanti gue obatin dirumah" tolak Andri.
"Ndri nanti infeksi gimana? Lagian Lo terluka juga karena gue" ucap Salsa mengeluarkan betadin dan kapas dari tasnya, lalu dengan telaten mengobati luka Andri.
"Nah sudah" ucap Salsa lalu memasukkan kembali betadin kedalam tasnya.
"Makasih" ucap Andri.
"Tidak masalah" jawab Salsa.
"Yasudah lebih baik Lo pulang, biar gue anter" tawar Andri.
"Gak usah kok ndri. Gue bisa sendiri" tolak Salsa tak enak.
"Kalau Lo dicopet lagi, siapa yang nolongin?" Tanya Andri membuat Salsa terdiam.
__ADS_1
"Ayo!" Ucap Andri membimbing Salsa berdiri.
"Makasih sekali lagi ndri" ucap Salsa yang dibalas anggukan kepala dari Andri.