
Setelah pulang sekolah Dea juga ikut nebeng lagi dengan Chiko, awalnya Dea ingin memesan taxi online namun, entah kenapa ia berubah pikiran dan ingin ikut dengan Chiko.
Sepanjang perjalanan Dea tak henti hentinya mengoceh, untung Chiko sempat meminjam headset Miko tadi, jadi sudah dipastikan Chiko tak bisa mendengar ocehan Dea yang unfaedah itu.
"Chiko... " panggil Dea.
"Heh tiang listrik!" Kali ini Dea memukul bahu Chiko, karena merasa panggilannya tak direspon.
Chiko melepaskan headsetnya.
"Kenapa?"
"Hauss" jawab Dea menunjukkan muka memelas nya.
"Terus??"
"Yahh kok lo gak peka banget sih jadi cowok! dasar tiang listrik sialan!" sungut Dea kesal.
"Dia kenapa sih? kok tiba tiba marah marah? lagi PMS kali" batin Chiko merasa bingung.
"Chik, traktir makan yah, tuh disana aja" ucap Dea menunjuk warung mie ayam pinggir jalan.
__ADS_1
"Dihh lo yak, dateng dateng minta makan!" ketus Chiko.
"Chiko yang ganteng dan tidak PELIT plisss yah, gue udah laper banget nih, kalau gue pingsan di sini gimana? lo bisa masuk penjara karena telah menyiksa anak gadis orang. Susah tau nyari anak yang cantik dan imut kaya gue" celoteh Dea yang mulai mengeluarkan kenarsirannya.
"Hmm... " jawab Chiko hanya berdehem dan memberhentikan motornya ditempat warung yang ditunjuk Dea.
"Mas mie ayamnya satu yah, kasih ayamnya yang banyak, terus sayurnya banyak juga yah, kuahnya asin dikit yah, terus mie nya jangan terlalu lembek, sama kerupuknya jangan ketinggalan. Terus es teh manis satu" pesan Dea pada tukang mie ayam itu. Membuat Chiko dan tukang mie ayam itu menelan saliva susah payah, mendengar request Dea yang sangat sangat banyak.
"I-iya neng" ucapnya dan mulai membuatkan pesnanan Dea.
"Lo gak makan?" tanya Dea pada Chiko.
Setelah pesanan siap, Dea langsung melahap mie ayam itu seperti orang yang sudah lama tak makan.
"Pelan-pelan aja kali, gue gak bakal minta" ucap Chiko.
"Iyalah, kalau lo minta itu namanya juga boong, masa iya lo udah neraktir gue, terus lo makan juga punya gue" jawab Dea.
"Haiss gue penasaran deh, ngidam apasih nyokap lo dulu. Sampai bisa ngelahirin anak secerewet lo" decak Chiko menggelengkan kepalanya.
"Yeee gue gak cerewet kali, yang namanya mulut itu buat ngomong sama buat makan!" ketus Dea tak Terima dikatai cerewet.
__ADS_1
"Serah lo deh, udah cepetan makannya. Gue masih ada kerjaan" ucap Chiko memilih mengalah.
"Lo gimana sih, tadi nyuruh pelan pelan, sekarang nyuruh cepetan, entar gue keselek mie gimana? lo mau tanggung jawab?!" kesal Dea berdecak.
"Salah lagi" batin Chiko.
Sementara tukang mie ayam disana hanya menyimak dari jauh obrolan dua anak muda itu, ia sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dea yang terkesan cerewet, dan Chiko yang selalu disalahkan.
"Anak jaman sekarang mah beda" gumamnya terkekeh.
Setelah selesai makan, kini Chiko mengantarkan Dea ke rumahnya, tak butuh waktu lama, kini motor Chiko sudah sampai didepan rumah Dea.
"Makasih yah tiang listrik yang baik hati tapi nyebelin, nih" ucap Dea memberikan helm pada Chiko.
"Hemm... " jawab Chiko hanya berdehem.
"Btw ikhlas gak lo tadi? kalau lo gak ikhlas gue muntahin disini sekarang" ucap Dea.
"Iya... Iya... IKHLAS DUNIA AKHIRAT!" jawab Chiko menekan kalimatnya, membuat Dea tersenyum sumringah.
"Yaudah sekali lagi makasih yah" ucap Dea, dan setelah itu Chiko pergi meninggalkan perkarangan rumah Dea.
__ADS_1