
Sementara Vino mengantarkan Rayna, kini Naira diam diam masuk ke kamar kakaknya itu, ia mencari cari benda yang ia cari. Bukan maksud Naira usil dengan barang kakanya, namun Naira penasaran apakah kakaknya masih menyimpan itu?
Ia membuka laci dikamar Vino satu persatu ia periksa.
"Aha ketemu!" ucap Naira menemukan benda yang sedari tadi dicarinya.
"Tuh kan apa. gue bilang, kak Vino itu masih cinta sama Rayna, dasar dia aja yang gengsian!" gumam Naira dan mengambil benda itu, setelah itu cepat cepat keluar kamar Vino sebelum kakanya kembali dan ia ketangkap basah.
"Sayang kamu ngapain? kaya maling aja" tanya mama Indri yang melihat gelagat anak gadisnya itu.
"Ya ampun mama ngagetin aja!" ucap Naira terlonjak kaget.
"Lagian ngapain ngendap ngendap gitu? persis kaya orang maling aja" ucap mama Indri terkekeh.
"Naira emang lagi maling mah" jawab Naira santai.
"Astaga kamu ini. Ck.. " decak mama Indri pada anaknya.
"Mamaaaa" teriak Satria menghampiri sang mama.
"Ada apa hem?" tanya mama Indri.
"Hehehe gak papa, cuma lagi pengen teriak aja" jawab Satria menyengir kuda.
"Dasar kamu!" sahut Naira menggelengkan kepalanya.
"Sat, kamu ini sudah dewasa loh. Liat penampilan aja berantakan gitu, astaga" decak Naira memperhatikan penampilan sang adik dari atas sampai bawah.
"Satria ke kamar dulu" ucapnya segera pergi sebelum kakanya itu meneruskan ceramahnya.
__ADS_1
*****
Pagi harinya Naira berangkat dengan dijemput Miko, Seperti biasa Miko selalu pagi bila berangkat bersama Naira. Tapi kalau ia sendiri bisa bisa berangkat 10 menit sebelum bel berbunyi disekolah.
Sesampainya disekolah mereka bergandengan tangan menyusuri koridor sekolah.
"Pagi Nai" sapa Lucy yang datang bersama Leon.
"Pagi" balas Naira tersenyum.
"Gimana? lo udah temuin buktinya?" tanya Lucy antusias.
"Udah tenang aja. Dan bener kan dugaan gue" jawab Naira.
"Bukti apaan sih yank?" tanya Leon.
"Ada deh" jawab Lucy tersenyum simpul.
"Morning all" sapa Salsa yang datang bersama Andri.
"Eh Nai, gimana? udah ketemu?" tanya Salsa penasaran.
"Kalian tenang aja buktinya udah ketemu. nah tugas kita cuma mengusun rencana gimana buat mereka bersatu" jawab Naira tersenyum.
"Bersatu?" gumam Andri.
"Emang ada apaan sih nyet?" bisik Leon pada Miko.
Miko hanya mengangkat bahu. "Udahlah urusan cewek palingan" jawab Miko cuek.
__ADS_1
"Wihh ada apaan nih pagi pagi udah ngumpul?" sahut Dea yang baru datang bersama Rayna, dan juga ada Chiko dibelakangnya.
"Bagi sembako" ketus Leon.
"Heh lele bisa diem gak sih! gue gak nanya sama lo!" jawab Dea tak kalah ketus.
"Ray, gimana semalem?" tanya Lucy menaik turunkan alisnya.
"Gimana apanya?" bukannya menjawab Rayna justru balik bertanya.
"Enak gak jalan sama kak Vino?" tanya Lucy.
"Nah itu tuh yang gue kesel. Nai sebenarnya lo lagi ngerjain gue atau ngisengin gue sih?" tanya Rayna menatap Naira.
"Ngerjain dan ngisengin apa bedanya ogeb!" sahut Naira.
"Ya pokoknya gitu deh. Untung semalem gue gak kedatangan arwah kucing dipinggir jalan!" sungut Rayna.
"Emangnya kenapa? lo udah bunuh kucing? atau lo menganiaya kucing dipinggir jalan?" tanya Dea.
"Iks, gak gitu. Kalian tau gak?"
"Enggak!" jawab Dea.
"Gue belum selesai ngomong ege!" kesal Rayna karena sahabatnya ini asal potong omongan orang saja.
"Semalem kak Vino hampir nabrak kucing tau gak!" ucap Rayna.
"Whatt??" pekik para gadis itu histeris. Sontak membuat para lelaki menutup kupingnya.
__ADS_1
"Lo serius? kok bisa sih? Kak Vino gak pernah seceroboh itu?" tanya Naira masih dengan keterkejutannya.
"Ya mana gue tau. Kayanya dia lagi mikirin sesuatu deh, gue liat dia kaya gak fokus gitu" jawab Rayna. Membuka mereka yang awalnya terkejut kini mengulum senyumnya masing-masing.