Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Tangis Naira


__ADS_3

"Kenapa Naira ngomong gitu? Atau jangan jangan...??" gumam Miko. Dan sedetik kemudian ia berlari menyusul Naira.


"Nai... " Teriak Miko disepanjang koridor sekolah. Tapi teriakannya itu sama sekali tak dihiraukan Naira. ia malah berlari kencang sampai ke toilet wanita.


"Hiks... Hiks... Hiks... Kenapa lo sejahat itu sih Mik. Kenapa lo mudah banget berpaling sama orang lain? Apa yang kita lakuin selama ini gak berarti apa apa buat lo?" isak Naira terduduk dibalik pintu kamar mandi sambil memeluk kedua lututnya.


Tok... Tok... Tok...


"Nai... buka pintunya" teriak Miko mengetuk pintu kamar mandi.


"Lo pergi aja, gak usah peduliin gue!" ucap Naira yang masih terisak dibalik pintu.


"Nai... plissss keluar dulu. Gue gak ngerti maksud lo apa" ucap Miko.


Akhirnya mau tak mau ia membuka pintu dengan mata yang sembab dan memerah akibat menagis. segugukan.


"Kenapa? Lo masih mau ngelak semua ini? jelas jelas Kania yang udah bilang sendiri sama gue. Kalian itu bentar lagi mau TUANANGAN jadi buat apa lo kesini? buat apa lo perduliin gue?" ucap Naira berusaha menahan air matanya agar tak tumpah.


"Nai.. lo udah...?"

__ADS_1


"Iya, gue udah inget semuanya. Kenapa lo malah ambil kesempatan dalam kesempitan sih Mik? Disaat gue gak inget siapa lo. Lo malah berpaling dengan orang lain, seakan lupa sama gue. Lo malah enak enak berduaan sama 'dia'. Apa kebersamaan kita selama ini gak berarti apa apa buat lo? apa lo jadiin gue pacar lo cuma buat ngusir kebosanan lo? apa lo selama ini hanya mempermainkan gue? Lo gak mikir Mik, gimana terlukanya gue saat Kania bilang kalian mau tunangan!" ucap Naira panjang lebar dengan nafas yang menggebu.


"Mulai sekarang kita gak ada hubungan apa apa lagi!" lanjut Naira dan segera pergi dari sana. meninggalkan Miko yang masih berdiri mematung berusaha mencerna setiap kata kata Naira.


"Jadi dalang masalah ini adalah Kania?" batin Miko geram dan segera pergi dari sana.


Naira sampai dikelasnya, disana juga sudah ada para sahabatnya yang setia menunggunya.


"Nai, lo kenapa? kok nangis?" tanya Rayna dan menuntun Naira untuk duduk.


"Hiks.. hiks... hiks... Miko... " ucap Naira yang kembali menangis.


"Enggak, dia gak sakitin gue" jawab Naira.


"Terus?" tanya Lucy lagi.


"Dia sakitin hati gue" jawab Naira dan menutup wajahnya dengan kedua tanganya sambil menangis sejadi jadinya.


"Hati??" gumam Salsa berusaha mencerna ucapan Naira barusan.

__ADS_1


"Nai lo udah inget siapa Miko sebenarnya?" tanya Salsa.


Naira mengangguk pelan, dan itu justru membuat keempat sahabatnya berkeringat dingin. Bagaimana tidak? merekalah yang menyampaikan hoaks itu pada Naira dan kini mereka sudah masuk kedalam perangkap sendiri.


"Terus sekarang apa yang buat lo sakit hati?" tanya Dea.


"Kalian udah tau kan, Miko sama Kania akan tunangan sebentar lagi. dan itulah yang buat gue sakit hati" jawab Naira menyeka air matanya.


"Lo percaya sama berita itu?" tanya Lucy.


"Iyalah, Kania sendiri yang bilang sama gue tadi" jawab Naira.


"Whatt??? dia bilang gitu sama lo?" pekik Salsa terkejut tak percaya.


"Emang kenapa?" tanya Naira yang mulai kepo.


"Gini ya Nai, berita itu belum pasti. jadi lo gak usah percaya percaya amat. Bisa jadi batal kan? kita gak tau apa yang akan terjadi besok" jawab Rayna memberi pengertian.


"Iya Nai, lagipula Kania kan mulutnya lemes. Bisa lagi itu hanya karangan dia semata. lo tau kan demi mendapatkan cinta, orang bisa berkorban apa saja tanpa memikirkan resikonya" tambah Dea.

__ADS_1


"Duhh gimana kalau Naira tau kami juga yang bersangkutan dalam hal ini. Bisa bisa dipecat sebagai sahabat" batin Salsa kalang kabut.


__ADS_2