Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Hukuman


__ADS_3

Pagi harinya Dea terpaksa berangkat dengan menggunakan taxi, mobilnya berada di bengkel karena tidak bisa dinyalakan. Entah apa penyebabnya Dea tak tahu. Dan kalau memakai motor sepertinya Dea tak punya keberanian, minta diantar? Oh no! Dea tidak suka merepotkan kedua orangtuanya.


"Pak cepatan dong, ini bentar lagi bel bunyi" Desak Dea pada pak sopir.


"Iya neng maaf, didepan macet banget" Ucap pak sopir.


"Haeuhh ada apaan sih? Pagi pagi udah macet aja!" Gerutu Dea melihat jalanan dididepan yang nampak padat, padahal ini masih pagi.


"Fiks telat bener nih. Mana pelajaran bu Dewi lagi. Oh my god, bisa abis gue"


"Kalau gue punya sayap udah pasti langsung terbang, gak usah nunggu nunggu kaya gini lagi!" Dea tak henti hentinya bersuara. Sementara pak sopir hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Dea yang seperti cacing kepanasan karena telat.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, barulah Dea sampai didepan gerbang sekolahnya. Dan benar saja pintu gerbang sudah ditutup rapat. Menandakan bahwa pelajaran sudah dimulai.


"Haduhh bener kan? Huuft.. Tau gini mending gue minta anter aja sama papa" Ucap Dea mengerucutkan bibirnya.


"Neng... " Panggil supir taksi itu pada Dea.


"Lah bapak ngapain masih disini? Pengen sekolah lagi?" Tanya Dea.


"Bayarnya belum neng" Jawab supir taksi itu, dan sukses membuat Dea mengumpat dalam hati. Bisa bisanya dia lupa membayar, sudah seperti orang miskin saja pikirnya.


"Ini pak, makasih" Ucap Dea memberikan selembar uang berwarna biru.


Taksi itupun meninggalkan perkarangan sekolah.


Tak lama terdenger suara motor mendekati Dea. Iapun menoleh kebelakang dan melihat Chiko yang baru datang.


"Lah tiang listrik lo telat juga?" Tanya Dea.


"Pake nanya lagi, yaiyalah. Kalau gue gak telat gak mungkin gue baru nyampe jam segini kupret!" Geram Chiko.

__ADS_1


"Yaelah gue kan cuma nanya doang, gak usah ngegas gitu juga kali. Lo kaya lagi PMS aja!" Sungut Dea kesal.


"Heh kalian ngapain berdua disini?" Tanya pak Bani menghampiri mereka.


"Ngapel!" Jawab Dea asal. Oh tidak sepertinya Dea masih terbawa emosi sampai tak menyadari siapa lawan bicaranya.


"APA!!" pak Bani membukatkan matanya mendengar penuturan Dea.


"Emm tidak seperti itu pak, kita telat tadi. Jadi apakah sekarang kita boleh masuk?" Ujar Chiko.


"Tidak!" Jawab pak Bani tegas.


"Ah bapak gak asyik! Ayolah pak masa kita disuruh berdiri seharian disini? Bapak mau sekolah ini viral gegara ada siswa yang dihukum berjemur sampe mati?" Cerocos Dea membuat pak Bani ingin sekali melakban mulut cerewetnya, jika saja ia tak berpikir bahwa Dea adalah anak orang.


"Kalian berdua, ikut keruangan saya!" Ucap pak Bani tegas dan segera membuka gerbang supaya mereka bisa masuk.


"Bapak tempat kita itu dikelas, bukan diruangan bapak!" Ketus Dea.


"Gak usah banyak tingkah, ayo!" Ajak Chiko menarik paksa tangan Dea.


"Tiang listrik sialan! Gak usah ditarik tarik gitu juga kali. Gue anak orang, bukan anak kambing!" Kesal Dea cemberut. Namun tak dihiraukan Chiko.


"Heh lo denger gak!" Ucap Dea karena Chiko masih saja menariknya dan tak mendengarkan ucapannya.


"Gak!" Ketus Chiko.


"Sumpah Demi apapun kenapa gue bisa ketemu sama lo sih! Makhluk terpaling nyebelin yang pernah gue temui didunia ini! Harusnya cewek cantik kaya gue ketemu sama cogan ganteng atau seenggaknya pangeran berkuda putih. Lah ini malah ketemu sama tiang listrik oleng kaya lo!" Gerutu Dea mengerucutkan bibirnya.


"Nih anak gak cape apa nyerocos terus daritadi?" Batin Chiko.


Tak terasa mereka telah sampai diruangan pak Bani.

__ADS_1


"Duduk!" Titah pak Bani, yang langsung dituruti mereka.


"Kalian tau apa kesalahan kalian?" Tanya pak Bani memasang muka seriusnya.


"Tau pak" Jawab mereka berdua.


"Oke kalau kalian sudah tau, saya tidak perlu repot repot menjelaskan. Dan karena kalian sudah ngapel di jam pelajaran maka pulang sekolah ini kalian harus membersihkan sekolah ini, dari menyapu, mengepel, membersihkan jendela, dan lain sebagainya, pokoknya sampai sebersih mungkin" Ucap pak Bani membuat Dea membulatkan matanya dengan mulut yang sudah ternganga.


"Pak yang benar aja dong! Masa bapak nyuruh kita jadi cleaning servis sekolah!" Protes Dea tak setuju.


"Pak, apakah tidak ada hukuman lain? Lagipula kami tadi bukan ngapel pak tapi TELAT" ucap Chiko menekan kalimat akhirnya.


"Tidak! dan kalian tidak bisa menolaknya. Kalau sampai kalian tidak mengerjakan perintah saya. Maka hukuman akan saya tambah dua kali lipat, dan saya akan memberikan surat panggilan orangtua!" Ucap pak Bani tegas.


"Pakk... " Rengek Dea memelas.


"Tidak ada penolakan! sekarang kalian bisa keluar dan ingat tugas kalian nanti!" Ucap pak Bani.


Dengan bibir yang sudah mengerucut tajam, Dea melangkah keluar bersama Chiko.


"Gara gara lo tiang listrik! Jadi dihukum kan?" Ucap Dea menyalahkan Chiko.


"Lo juga ikut andil disini!" Ucap Chiko tak mau disalahkan.


"Terserah lo deh, gue mau ke kelas"


"Ingat, jangan coba coba kabur nanti" Peringat Chiko sebelum akhirnya berjalan menuju kelasnya.


"Duhh sial banget sih hari ini. Kenapa juga hukumannya harus begitu? Ngebersihin rumah aja gak pernah, lah ini disuruh ngebersihin sekolah. Yang bener aja dong, bisa bisa tulang gue copot semua nanti" Gerutu Dea dalam perjalanan ke kelasnya.


"Lagian guru sekarang aneh aneh banget kalau ngasih hukuman".

__ADS_1


__ADS_2