Sahabat Somplak Mencari Jodoh

Sahabat Somplak Mencari Jodoh
Berangkat bersama


__ADS_3

...Keesokan harinya...


Kringgg....


Bunyi alarm yang sangat melengking membangunkan tidur gadis cantik yang masih bergulung di bawah selimut tebalnya.


"Duhh berisik banget sih" Dengan malas Dea mematikan alarmnya.


Ceklek.


Mama Riska masuk ke kamar Dea.


"Bangun, udah pagi ini"


"Jam berapa sih?"


"Jam 6"


"Hoammm... gila masih ngantuk mah" ucap Dea dengan suara seraknya.


"Bangun cepet, atau mama siram pake air seember" Ancam mama Riska.


"Ishh mama gak ada kasian kasiannya sama anak sendiri!"


"Biarin, orang kamu pemales kayak gitu"


"Loh tunggu? kok Dea udah ada disini sih?" Dea baru tersadar akan sesuatu.


"Emang ini kan rumah kita? terus kamu mau dimana?"


"Tadi semalem... "


"Temen kamu yang anterin, sampe gendong ke kamar"


"Whatttt!!! Maksud mama tiang listrik itu?!" Pekik Dea histeris.


"Siapa yang kamu bilang tiang listrik? emang tiang listrik bisa gendong orang?"


"Maksud Dea, jadi si Chiko yang... "


"Iya"


"Kenapa mama biarin sih? kan bisa bangunin Dea" Ucap Dea memberenggut kesal.

__ADS_1


"Udah gak udah banyak komentar, sana mandi!"


'Tiang listrik sialan!' umpat Dea dalam hati.


"Malah bengong? buruan!"


"Iya, iya, ihh mama kebiasaan deh, pagi pagi udah bikin bad mood aja!" gerutu Dea.


***


"Selamat pagi om, tante" sapa Chiko saat masuk kerumah Dea.


"Pagi nak Chiko, duduk dulu" ucap Papa Max.


"Bentar ya, tante panggilin Dea" ucap mama Riska hendak melangkah, namun Dea sudah lebih dulu muncul.


"lah tiang listrik lo ngapain disini?" tanya Dea terkejut melihat Chiko yang pagi pagi datang kerumahnya.


"Dea, namanya Chiko bukan tiang listrik, kamu yang sopan ihh kalau ngomong" ucap mama Riska.


"Gak papa tante, udah biasa" jawab Chiko melirik Dea.


"Mah, kenapa Chiko disini?"


"Apa!!"


"Pah, yang bener aja dong, Dea kan masih bisa naik taksi" sungut Dea kesal.


"Tidak ada penolakan, titik!" ucap papa Max tegas.


"Ihh papaaa"


"Emang papa kenal sama Chiko?"


"Seratus persen kenal" jawab mama Riska mewakili.


"Seratus persen?" gumam Dea.


"Udah sana berangkat!" suruh mama Riska.


"Tapi mah... "


"Ayo" ajak Chiko menggandeng Dea tiba tiba.

__ADS_1


"Eh.. "


"Om, tante, kami berangkat ya" pamit Chiko.


"Iya hati hati kalian" ucap Papa Max.


... Di mobil ...


"Lo ngapain sih dateng kerumah gue pagi pagi hah?" tanya Dea masih kesal.


"Lo gak denger kata papa lo tadi?" jawab Chiko datar.


'kenapa papa tiba tiba nyuruh nih orang berangkat bareng gue? atau ada sesuatu yang gak gue ketahui?'


"Cepetan nyetirnya! entar telat. Gue gak mau yah dihukum lagi!" protes Dea.


"Ini baru jam enam lewat sepuluh, ngapain cepat cepat? mau jemput maut?"


"Enak aja! gue belum ketemu sama pangeran gue, masa udah duluan ketemu sama malaikat maut sih"


"Lo pikir ini dunia dongeng pake pangeran segala" protes Chiko.


"Oh jelas dong, masa princess secantik gue ketemunya sama rongsokan manusia" jawab Dea mulai berhalu.


"Lebih baik lo tunda dulu halunya, karena kita udah nyampe" Ucap Chiko, membuat Dea tersadar.


Mereka segera turun, Dea berjalan duluan meninggalkan Chiko yang masih di belakangnya.


"Dia sangat sopan" cibir Chiko.


"Pagi gaess" sapa Dea dengan wajah cerianya ketika masuk ke kelasnya.


"Tuh muka ceria amat" sahut Naira.


"Lo baru tau kalau muka gue ceria setiap hari?"


"Elah, lo kesambet apaan tadi? ekpresi lo beda banget hari ini?" tanya Salsa.


"Atau semalem lo dapet jackpot?" timpal Lucy.


"Jackpot pala lo!"


"Gue yakin dibalik wajah ceria lo hari ini, pasti ada sesuatu yang tersembunyi" ucap Rayna menelisik dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Njirr lo gak usah gitu juga liatnya kali, gue berasa kaya buronan!" sungut Dea.


__ADS_2