Salah Paham

Salah Paham
Pertemuan Bambang


__ADS_3

Di perpustakaan yang memiliki ribuan buku yang tersusun rapi memberi kesan kedamaian, Bambang duduk di salah satu meja panjang dan mulai membuka bukunya untuk menikmati kedamaiannya. Hari-hari pertama pindah di sekolah baru sungguh melelahkan dan untungnya dia memiliki akal untuk mengatasinya.


Setiap selesai makan di kantin, Bambang selalu menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan. Larangan untuk jangan ribut dan mengganggu murid lain ketika membaca menjadi keuntungan yang dimanfaatkan dengan baik oleh Bambang. Dengan begini, murid-murid lain tidak akan terus mengejarnya dan mengajukan banyak pertanyaan padanya.


Bukannya dia sombong atau tidak suka bergaul dengan orang lain, hanya saja dia sangat tertekan bila diapit oleh banyak orang. Apalagi selalu diberi pertanyaan pribadi yang membuatnya salah tingkah ketika menjawabnya. Dia tidak cocok dengan keramaian, kedamaian adalah ruang terbaik untuknya.


"Gina yang disuruh, aku yang lakuin. Keadilan macam apa ini?" Suara gerutu yang tidak pelan datang dari seorang siswi yang sedang membawa setumpuk buku cetak Matematika. Langkah kaki siswi itu sangat keras hingga Bambang dapat merasakan kekesalannya secara tidak langsung.


Bambang mengenali siswi itu, dia merupakan salah satu teman sekelasnya. Jika Bambang tidak salah mengingat, nama siswi itu adalah Lila. Salah satu murid yang suka mendekatinya.


Benar saja, ketika siswi itu melihat Bambang, ekspresi kekesalannya berubah menjadi senyum ceria. "Eh, Bambang." Ucapnya antusias.


Siswi itu meletakkan buku cetak di tangannya secara acak di rak buku, lalu duduk di hadapan Bambang dengan wajah berseri-seri.


"Masih ingat namaku, 'kan?" Tanya siswi itu dengan penuh ambisi.


Bambang mengangguk kaku, "Um, Lila?"


"Bambang?" Balas Lila.


"..."


"Hahahaha, astaga imutnya." Lila tertawa keras ketika melihat ekspresi terpana Bambang. Dia langsung menutup mulutnya saat mendapat tatapan tajam dari pengawas perpustakaan. "Lagi baca apa?" Tanya Lila dengan suara kecil.


Bambang menurunkan pandangannya, melihat lurus buku yang ada di hadapannya. "Sejarah."


Lila mengerutkan keningnya, "Kenapa baca sejarah?"


"Hah?" Bambang mengerjap, tidak tahu harus menjawab apa.


Lila tersenyum menahan tawa, "Kamu seharusnya jangan baca sejarah, kamu tidak akan menemukanku di sana. Lebih baik membaca ramalan masa depan, karena namaku pasti tertulis di samping namamu."


Bambang memiringkan kepalanya heran, apa barusan dia sedang digombal?

__ADS_1


Wajah Bambang langsung berubah menjadi tomat, dia dengan cepat menundukkan kepalanya menahan rasa malu. "A-apa yang kamu katakan?" Tanyanya gagap.


Lila mendukung dagunya menggunakan kedua tangannya yang terlipat di atas meja, tatapannya dengan santai menikmati tingkah malu Bambang. Hal ini membuat Bambang tidak nyaman dan semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah tampannya.


"Bambang... um aku panggil Bang aja ya, biar simpel." Ucap Lila yang disetujui Bambang dengan anggukan kecil. "Bagus, kalau gitu kamu panggil aku Neng aja." Lanjut Lila.


Bambang langsung mengangkat kepalanya dengan mulut terbuka. Dia ingin mengajukan pertanyaan, namun tiada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Mata Lila yang begitu intens menatapnya, membuatnya salah tingkah dan kembali menunduk. Dia berharap bisa menemukan lubang dan masuk ke dalamnya.


Lila tersenyum geli melihat tingkah Bambang yang begitu menggemaskan. Tangannya sedari tadi gatal ingin mencubit kedua pipi Bambang yang sudah menjadi merah padam karena ucapannya.


Lila berdehem ringan dan kembali mengambil inisiatif untuk mengajukan pertanyaan. "Bang, kamu sudah punya pacar?"


Bambang terdiam sebentar, lalu menggelengkan kepalanya. "Belum."


Mata Lila langsung berbinar, Bambang menjawab dengan 'Belum', bukan 'Tidak'. Itu berarti Bambang belum pernah memiliki pacar. "Aku juga belum, jangan-jangan kita berdua ini..."


Tangan Bambang yang memegang buku Sejarah di depannya semakin ketat, dia merasa semakin banyak Lila berbicara, semakin membuatnya merasa malu dan tak berdaya.


"... jodoh." Lanjut Lila dengan berbisik pelan. Suaranya terdengar menggoda, membuat Bambang gelagapan.


Lila ditinggal duduk termenung di perpustakaan, dia menatap lurus ke kursi kosong yang berada di depannya. Dengan senyum bahagia, dia bergumam tak berdaya. "Bagaimana ini, sepertinya aku jatuh cinta."


Bambang berjalan ke kelas dengan pikiran kacau, dia selalu merasa gugup ketika berbicara dengan gadis. Karena itu, dia belum pernah pacaran dengan siapa pun. Dan karena itu pula, dia dianggap membosankan oleh beberapa gadis yang mengenalnya.


Dengan pikiran yang menyebar luas, Bambang tanpa sengaja menabrak seseorang dan menjatuhkan minuman orang tersebut.


"Kalau jalan tuh lihat-lihat! Aish, bajuku jadi basah." Gerutu orang itu dengan kesal.


"Ma-maaf, aku tidak sengaja." Ucap Bambang ketakutan.


Orang itu terkejut ketika mendengar suara Bambang, "Bambang?"


Bambang mengangkat kepalanya dan melihat orang yang dia tabrak secara tidak sengaja, ternyata orang itu adalah teman sebangkunya, Gina. "Maaf, aku tidak sengaja. Aku melamun saat jalan, maaf." Ucap Bambang lagi dengan menyesal.

__ADS_1


Gina menatap Bambang lurus lalu mengangguk, "Um, tak masalah." Ucapnya cuek. Seolah orang yang berteriak kesal tadi bukan dia.


Bambang melirik ke baju Gina yang basah akibat ulahnya, "Tapi baju kamu..."


"Tak masalah." Ucap Gina lagi dengan melirik sekilas bajunya seolah itu persoalan yang kecil untuknya.


Bambang menggelengkan kepalanya, "Aku punya jaket di tas—"


"Tak masalah." Ulang Gina memotong niat baik Bambang.


Bambang merasa bersalah dan tidak akan nyaman sebelum membantu Gina menyelesaikan persoalan bajunya yang basah.


Gina dapat merasakan rasa bersalah Bambang, dia mengusap-usap bagian bajunya yang basah dengan santai. "Ini cuma basah sedikit, tidak usah cemas. Lain kali, kalau jalan jangan sambil melamun."


Bambang mengangguk patuh.


Melihat itu, Gina langsung berjalan meninggalkan Bambang untuk mencegahnya meminta maaf lagi. Dia pergi menuju ke perpustakaan untuk mencari Lila yang pergi dan tidak kembali untuk waktu yang lama. Padahal dia hanya memintanya untuk mengantarkan buku, bukan untuk membaca buku. Lagian, di antara mereka bertiga, Lila yang paling enggan untuk membaca.


Bambang hanya diam melihat Gina yang berjalan melewatinya. Rasa bersalah membuatnya tak berdaya, dia sangat tidak nyaman dengan perasaan seperti ini. Akan lebih baik jika Gina menerima tawarannya dan memakai jaketnya untuk menebus kesalahannya. Tapi, tentu dia tidak bisa memaksa Gina untuk melakukannya.


Akhirnya, Bambang berjalan menuju kelas dengan fokus. Setiap langkah yang diambilnya tampak teratur dan berhati-hati, agar dia tidak akan menabrak orang lain lagi yang berjalan di koridor yang sempit ini. Begitu sampai di kelas, Bambang duduk di bangkunya dengan nyaman. Dia menghembuskan nafas lega karena tidak memiliki pertemuan aneh lagi dengan orang lain.


"Uwaaah." Teriak Bambang terkejut, dia langsung melompat berdiri dari bangkunya, bahkan sebelum puas duduk semenit.


Di bawah meja, tepatnya di meja Gina yang mejanya berdampingan dengannya, Putri berjongkok dan berdesis pelan pada Bambang. Jari telunjuknya terangkat ke bibirnya, menunjukkan untuk tidak berisik. Bambang spontan menutup mulutnya dan mengangguk patuh.


"Dia masih ada?" Tanya Putri dengan berbisik.


Bambang langsung mengerti 'dia' yang dimaksud Putri. Bambang langsung menoleh ke pintu kelas dan mendapati Dion yang sedang celingukan mencari seseorang. Detik berikutnya, Dion berbalik dan berjalan pergi.


"Sudah pergi." Ucap Bambang.


Putri menghela nafas lega dan langsung keluar dari bawah meja Gina. Dia tersenyum canggung pada Bambang dan langsung pergi kembali ke bangkunya sendiri. Duduk dengan nyaman seolah tidak ada yang terjadi.

__ADS_1


Bambang menunduk dan melihat ke bawah mejanya untuk memeriksa jikalau ada murid lain yang bersembunyi. Setelah merasa sekitarnya aman, barulah dia duduk dengan tenang. Sepertinya dia terus saja memiliki pertemuan aneh di sekolah ini. Dia mulai meragukan pilihannya untuk pindah ke kota.


__ADS_2