
"Itu kantor guru, silakan urus diri sendiri." Ucap Gina dengan malas, dia langsung meninggalkan adik barunya itu menuju ke kelasnya sendiri.
Sinta menatap kepergian Gina dengan pandangan tak percaya, dia menoleh dan memandang kantor guru dengan linglung, tiba-tiba dia menjadi gugup. Bagaimanapun dia masih asing dengan lingkungan di sekolah ini. Bibirnya mengkerut tak nyaman dan hatinya terus menghujat Gina yang begitu tak berperasaan dan sombong.
Tetapi bagaimana Gina yang tak berperasaan dan sombong peduli dengan isi hati saudara tak dianggapnya itu? Dia dengan santai berjalan ke kelasnya sendiri sambil bersiul pelan. Tatapannya malas tak fokus memandang ke depan, sepertinya rasa kantuknya belum sepenuhnya hilang.
Di kelas Putri dan Lila telah datang, mereka duduk berhadapan sambil membahas sesuatu dengan serius. Tatapan mereka tampak sangat fokus ketika terus melakukan perdebatan yang penting tersebut.
Lila menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan, "Aku pikir apa yang kamu katakan itu salah. Mari kita analisis ini kembali, A mengatakan dia menyukai B kepada C, tetapi C yang sebagai teman A mendekati B. Jadi bukankah C ini teman kurang ajar?"
Putri mengerutkan keningnya berusaha berpikir dan menjawab dengan ragu, "Tetapi kamu bilang B lebih dekat dengan C daripada A. Jika B dan C saling menyukai, lalu apa yang salah?"
"Tentu saja salah!" Lila berteriak dengan tegas. Wajahnya penuh dengan ketegangan ketika menatap lurus pada Putri. "A menyukai B, seharusnya C sebagai teman yang baik menjauh dari B dan membiarkan temannya hidup bahagia dengan orang yang disukainya."
Putri menatap Lila dengan pandangan tak mengerti, "Kenapa kita tidak membaliknya saja. C menyukai B, kenapa A sebagai teman C tidak menjauh dari B dan membiarkan C mendekati B?"
Lila terdiam, dia melirik ke bangku belakang dimana Bambang sedang membaca buku dengan serius. Dia mendengus kesal, "Tetapi A yang duluan menyukai B."
"Lalu orang yang terakhir jatuh cinta harus mengalah?"
"Tentu saja." Jawab Lila tanpa keraguan.
Putri mengangguk, "Tetapi mungkin saja C duluan menyukai B tanpa A sadari. Kamu tahu cinta diam-diam sedang populer saat ini."
"Apa yang kalian bahas?" Gina datang tepat waktu ketika mendengar perdebatan mereka.
Putri menggelengkan kepalanya, "Tentang A yang menyukai B, dan teman A si C juga mendekati B."
Gina menaikkan alisnya menatap ke arah Putri lalu melihat Lila yang sedang kesal membuatnya tak bisa untuk menahan senyum geli. "Bagaimana dengan B? Siapa yang disukainya?"
"B suka sama C." Jawab Putri.
"Tidak mungkin!" Lila melotot marah ke arah Putri. "Aku bilang mereka dekat bukan berarti Bambang menyukai Gina!"
"Hah?" Putri mengerjapkan matanya. "Bambang dan Gina?" Dia bertanya dengan ragu.
__ADS_1
"Aku dan Bambang?" Gina juga ikut bertanya dengan senyum geli yang terpampang jelas di bibirnya.
Lila mendengus kesal, "Aku salah bicara."
"Oh~ seperti itu, hahaha." Gina tertawa terbahak-bahak melihat tampang kesal Lila dan berjalan dengan gembira ke bangkunya.
"Hei, kamu dengar tadi?" Tanya Gina dengan malas pada Bambang. Dia mencari posisi duduk yang nyaman dan melirik ke pemuda pemalu yang ada di sebelahnya.
Bambang yang sedang membaca mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Gina bingung. "Apa?"
"Yang Lila katakan tadi, kamu dengar?" Tanya Gina kembali.
Bambang melirik ke arah Lila, gadis itu tampak sangat kesal dengan mata yang berapi-api seolah ingin meratakan gunung dan mengeringkan lautan. "A... apa yang dia katakan?" Tanya Bambang dengan ragu.
"Bukan apa-apa." Gina mengangkat bahunya malas, dia mengambil ponsel pintarnya mengabaikan rasa penasaran teman sebangkunya.
Bambang, "..." Dia sangat penasaran tetapi merasa segan untuk bertanya. Akhirnya dia mencoba untuk menepis rasa penasarannya dan berkata dengan suara pelan yang hampir seperti bergumam. "Untuk yang kemarin, terima kasih."
"Tak masalah." Ucap Gina santai. Tampak tak peduli dan hanya terus bermain dengan ponsel pintarnya.
Di sisinya, Bambang kembali membaca buku dan kembali mengabaikan keributan di sekitarnya.
Mereka bertiga sibuk dengan urusan mereka sendiri hingga tak sadar bel keluar telah berbunyi dan guru yang telah menjelaskan ini dan itu sudah mengatur bukunya mengakhiri kelas. Sebelum keluar, dia mengangkat kepalanya dan menatap menyeluruh setiap murid. "Putri, Gina, dan Lila, setelah pulang sekolah kalian datang ke kantor guru."
Tiada yang menyaut, kelas hening seketika. Setiap murid memperhatikan tiga gadis yang sedang sibuk dengan urusan mereka dan mengabaikan guru dari awal hingga akhir.
"Put...sst."
Putri mengangkat kepalanya melihat teman sebangkunya dengan bingung. "Kenapa?" Dia bertanya dengan lugu tanpa rasa bersalah. Matanya mengerjap polos tampak seperti tokoh wanita yang naif, lembut, dan lepas dari kejahatan.
"Putri, Gina, dan Lila." Panggil guru itu sekali lagi. "Pulang sekolah kalian datang ke kantor guru temui saya."
Putri melihat ke tampang guru yang tampak tegas namun tidak garang sama sekali. Dia mengangguk pelan, "Baik, Bu." Ucapnya.
Guru itu tak peduli dengan Lila yang masih mengkhayal ataupun Gina yang masih dalam dunia mimpi. Dia tahu tiga gadis itu bersahabat sehingga memberitahu Putri sudah cukup untuknya membuat mereka bertiga datang menemuinya. Sehingga dia dengan tenang keluar dari kelas tanpa basa basi lagi.
__ADS_1
Putri melihat guru yang dia tidak ingat namanya sudah keluar, dia kembali menundukkan kepalanya dan mengambil pena untuk melanjutkan gambarnya.
Kebetulan Gina memiliki ketepatan waktu bangun yang baik di dalam kelas. Jadi ketika pelajaran berakhir, dia bangun menguap lebar. Melihat ke depan mendapati guru mata pelajaran Biologi telah pergi, dia lalu berdiri meregangkan otot-ototnya yang kaku.
Dia memanggil Putri dan Lila, dan mereka bertiga pergi ke kantin bersama. Putri dengan baik hati menyampaikan kepada Lila dan Gina apa yang dikatakan guru di kelas kepada mereka dan hanya dijawab dengan acuh tak acuh. Tanpa menebak dengan susah payah mereka bertiga tahu apa yang guru itu ingin sampaikan pada mereka, itu pasti tentang nilai ulangan harian minggu lalu.
Mereka mencari tempat kosong di kantin dan makan dengan nyaman disertai obrolan santai seperti biasanya.
Putri menyeruput minumannya, dia tiba-tiba memiliki pertanyaan di kepalanya dan langsung bertanya kepada Gina. "Jadi, belajar kelompok kita bagaimana?" Dia bertanya dengan ragu.
Lila juga mengangguk, "Ayahmu sudah datang, lalu haruskah kita pindah lokasi?"
"Kenapa pindah?" Gina mengayunkan minumannya dengan santai. "Tetap di rumahku, sebentar juga boleh. Kalian tidak perlu memikirkan yang tak perlu dipikirkan."
Putri dan Lila mengerti apa yang tidak perlu dipikirkan dan hanya mengangguk samar. Namun perkataan Gina selanjutnya membuat mereka merasa gelisah. "Lebih baik pikirkan bagaimana kalian bisa terlihat pandai di pelajaran Biologi dan Bahasa Inggris."
Putri hampir saja tersedak ketika minum, namun tragis untuk Lila yang batuk-batuk tidak nyaman mencoba menenangkan tenggorokannya yang terasa perih. Mereka berdua melotot tajam ke arah Gina.
"Kamu harus tanggung jawab, aku sudah mencoba untuk belajar Bahasa Inggris dan aku langsung menyerah." Ucap Putri frustrasi.
Lila mengangguk, "Apalagi aku, aku tak mengerti sel ini sel itu, jaringan ini jaringan itu. Aku hanya tahu jaringan itu digunakan untuk bermain media sosial!" Keluhnya.
Gina terkekeh dengan nyaman, "Kalian harus berusaha keras. Aku juga memiliki beban belajar bahasa Indonesia." Ucapnya santai.
Mereka bertiga dalam perdebatan kecil saling menunjukkan jika mereka lebih menderita dibandingkan yang lainnya. Hingga seseorang datang berusaha mendekati mereka.
"Kak Gina." Panggilnya dengan manis.
Mereka bertiga diam dan menoleh serempak ke arah suara. Putri mengernyitkan keningnya, dia melirik Gina dan berbicara pelan. "Dia siapa?"
Lila menyenggol Putri, "Anak baru ayah Gina." Ucapnya.
Putri langsung ingat dan mengangguk pelan.
"Kenapa?" Gina bertanya dengan malas. Tampak tak mengharapkan kehadiran Sinta.
__ADS_1
Senyum Sinta tetap terjaga meski kehadirannya tampak bagaikan makhluk jahat di pandangan tiga kakak kelasnya itu. "Ayah mengatakan jika aku harus terus bersama Kak Gina di sekolah. Aku masih baru di sini dan membutuhkan bimbingan Kak Gina." Ucapnya dengan nada semanis mungkin.
"Lalu," Gina meliriknya dengan tajam, "apa yang kamu inginkan?"