Salah Paham

Salah Paham
Kakak


__ADS_3

Setelah bersenang-senang dan menghabiskan banyak uang ayahnya, Gina kembali ke rumah dengan keadaan letih. Langkahnya goyah menuju kamarnya, dia merasa tas yang ada di punggungnya sangat berat hingga dia dengan asal membuang tasnya ke lantai ruang tamu dan lanjut berjalan naik ke atas tangga sambil membuka dan melempar kaos kakinya secara asal.


"Gina, kamu darimana saja? Kok baru pulang?"


Langkah Gina berhenti, dia menoleh ke belakang, melihat wanita yang familiar berdiri dengan sikap elegan dan bermartabatnya. Senyumnya tampak lembut dengan tatapan penuh perhatian kepada Gina. Itu membuat Gina merinding tanpa sebab. Dia hanya melihat sebentar sebelum mengalihkan pandangannya dan lanjut naik ke lantai dua, tempat kamarnya berada.


"Gina, tunggu sebentar!" Wanita itu kembali memanggil. "Bisakah kita bicara sebentar?"


Gina merasa lelah dan terus melangkah, dia mengangkat tangan kanannya dan melambai malas. "Nanti saja, aku lelah." Ucapnya malas.


Wanita itu hanya bisa berdiri diam dan mengamati Gina terus berjalan hingga masuk menghilang ke dalam kamarnya. Setelah itu menghela napas panjang.


"Bun, biarin aja dia, songong gitu." Ucap Sinta, tatapannya menatap pintu kamar Gina dengan pandangan tak suka. "Sok bangat dah, pulang-pulang lempar sana sini, anak manja."


"Huss," tegur wanita itu dengan mata melotot, "jaga ucapanmu!"


Sinta berdecih kesal, "Bunda kenapa sih? Kan yang aku katakan memang benar."


Riska melirik waspada ke arah pintu kamar Gina yang tertutup lalu menarik tangan anaknya untuk membawanya ke kamar barunya. Dia langsung menutup pintu dan menatap tajam kepada anaknya.


"Kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada Gina!" Ucapnya setengah berbisik.


"Ada apa sih Bun, emang kenapa kalau aku bersikap seperti ini?" Sinta tidak menerima dan merasa tidak adil. Di matanya, dia lebih baik daripada Gina anak manja yang hanya bisa mengandalkan uang ayahnya.

__ADS_1


Riska memijit pelipisnya, tiba-tiba merasa lelah. "Kamu dengar Sinta, Gina adalah anak kesayangan ayah kamu! Jika kamu membuat masalah dengannya, maka jangan mengharapkan uang jajan atau fasilitas apapun."


Ancaman itu sukses menusuk titik kenyamanan Sinta, dia melebarkan matanya menatap bundanya tak percaya. "Tapi Bun..."


"Sudah Sinta! Bunda katakan sekali lagi, Bunda telah lama mengenal Gina dan tahu semua yang terjadi disini. Apapun yang Gina lakukan atau pun katakan, jangan sekali-sekali kamu membuat masalah dengannya. Jadilah anak yang menurut dan rukun bersamanya!" Tegas Riska, tatapannya tajam menolak keluhan Sinta.


"Bun, bagaimana aku bisa rukun sama dia? Itu tidak logis sama sekali. Bunda juga lihat kan sikapnya sama aku, dari kemarin dia selalu mengabaikanku dan bahkan tidak mengatakan apapun untuk menyambutku. Bagaimana aku bisa bergaul dengan anak manja itu?" Sinta merasa frustrasi, dia mengacak rambutnya dengan kesal.


"Bunda tahu itu." Suara Riska melembut, dia maju dan memeluk anaknya itu. Tangan kanannya dengan halus mengusap rambut Sinta. "Maafkan Bunda kamu jadi harus seperti ini, tetapi Bunda melakukan ini untuk kebaikan kita. Besok kamu akan masuk ke sekolah Gina, berusahalah untuk akrab dengannya. Minta bantuannya dan bersikaplah manis. Anak Bunda sangat baik, tidak mungkin membuat Bunda sedih, bukan?"


Sinta merasa dilema, dia membalas memeluk bundanya dengan erat. Kepalanya tertunduk disembunyikan di lengkuk leher Riska. "Tapi aku masih kelas 2, sedangkan Gina sudah kelas 3."


"Maka dari itu, kamu harus menjadi adik yang manis. Mulai sekarang berusahalah memanggilnya Kakak Gina."


"Sinta, kamu tidak boleh begitu. Anak Bunda sangat penurut, jangan membuat ulah yang akhirnya merugikan dirimu sendiri." Riska memegang pundak Sinta memundurkan tubuhnya agar bisa menatap anaknya dengan jelas. "Kamu mengerti kan maksud Bunda?" Dia bertanya, nadanya sulit untuk diabaikan.


Sinta mengangguk lemah. "Aku mengerti Bun."


Keesokan harinya, cuaca mendung hingga membuat Gina bangun agak telat. Jika saja Putri tidak dengan susah payah menelpon Gina, dapat dipastikan dia akan ketiduran hingga siang hari. Gina segera membersihkan dirinya dan memakai seragam sekolahnya dengan asal. Tanpa mengatur buku mata pelajaran, Gina mengambil tas sekolahnya dan keluar dari kamar.


Dia turun tangga dengan langkah cepat dan langsung menuju ke meja makan. Meminum susu yang sudah disediakan untuknya dalam satu kali minum dan mengambil roti lalu menaruhnya ke dalam mulutnya. Dia bergerak cepat memasang kaos kaki dan sepatunya, ingin lekas keluar dari rumah dan pergi ke sekolah.


Namun dua sosok yang sedari tadi diabaikannya layaknya udara sepertinya menolak diabaikan dan langsung mengusik kedamaian Gina.

__ADS_1


"Gina, Ayah kamu tadi pergi cepat ke kantornya. Jadi Sinta hanya bisa pergi ke sekolah bersamamu." Ucap Riska dengan nada lembut.


Gina menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Riska, lalu tatapannya tertuju pada Sinta yang kini memakai seragam sekolah dengan rapi. "Sekolah?"


Riska memegang bahu Sinta, dia mengangguk. "Iya, dia akan menjadi murid baru di sekolahmu. Bunda harap kalian bisa akrab dan saling membantu di sekolah."


Gina sedikit mengernyitkan keningnya ketika mendengar kata 'bunda' terucap dari bibir Riska. Rasanya sangat aneh dan membuat dirinya merinding.


"Tapi aku jalan kaki ke sekolah," ucap Gina dengan pandangan lurus ke Sinta, "yakin masih mau pergi ke sekolah denganku?" Dia bertanya dengan santai namun bibirnya sedikit miring menunjukkan senyum menantang.


Sinta sedikit terprovokasi dengan sikap Gina yang sombong, dia ingin sekali melemparkan kata-kata kasar jika saja bundanya tidak memberinya tatapan mematikan. Sehingga dia hanya bisa mereda amarahnya dan memasang senyum terpaksa. "Tentu saja, aku ingin jalan bersama Kak Gina." Ucap Sinta menekan kata 'Kak' dalam kalimatnya.


Gina mengangkat alisnya memandang ke arah Sinta, lalu dia tersenyum penuh. "Baiklah, mari ikut Kakak sekarang Dek!" Balas Gina.


Dia langsung membuka pintu dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi ke belakang.


Sinta ingin sekali meremas wajah Gina yang sangat menyebalkan itu, dia melotot kepada bundanya seolah ingin menyalurkan rasa amarahnya itu. Namun bundanya memberinya tepukan dan memintanya untuk mengikuti Gina.


Dia dengan enggan mulai berjalan mengikuti langkah Gina dari belakang. Memberi tatapan tajam dan memaki dalam hati, meski itu tak ada gunanya sama sekali, tetapi berhasil membuat amarahnya terlampiaskan.


Mereka jalan dalam diam, langkah Gina sangat santai dan juga acak. Dia kadang bermain dengan tanah atau menendang sesuatu yang menghalangi jalannya. Asik sendiri dan mengabaikan Sinta dari awal hingga akhir.


Di belakangnya Sinta terus memperhatikan langkah Gina, dalam hati terus menghujat dan memaki. Awalnya dia sangat gugup karena akan pergi tanpa wali di sekolah barunya, tetapi rasa gugupnya tiba-tiba hilang ketika melihat Gina. Sekarang dia hanya merasa kesal dan marah.

__ADS_1


__ADS_2