
Saat bel istirahat berbunyi, Gina, Putri, dan Lila langsung mengambil posisi di pojok kelas. Seperti biasa, mereka duduk di lantai dengan santai sambil mengobrol tentang gosip yang belum terselesaikan.
Gina mengaktifkan ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp untuk memeriksa status yang diunggah teman-teman dunia mayanya. Dia kadang tertawa ketika melihat video lucu dan mengernyit ketika melihat sesuatu yang aneh. Hingga sebuah status yang membuatnya terdiam.
"Kalian masih ingat Yinda?" Tanya Gina pada Lila dan Putri.
Lila mengangguk dengan enggan, sedangkan Putri mengerutkan kening berpikir keras.
"Siapa Yinda?" Tanya Putri.
Gina menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan foto seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang dan senyum yang menawan. "Dia nikah minggu depan."
Putri dan Lila mengangguk dan tak terkejut dengan berita itu. "Karena kecelakaan?"
Gina terdiam sebentar, jarinya sibuk mengetik dan beberapa saat sebuah pesan baru muncul. Dia mengangguk, "Iya."
"Aku kayaknya pernah lihat cewek itu, tapi dimana?" Tanya Putri yang masih berpikir keras.
"Dia sekolah di SMP yang sama dengan kita, temannya Gina. Ingat yang Gina katakan waktu kelas dua? Tentang Yinda dan Raga?" Lila menjelaskan dengan cepat, terlihat tak sabaran.
Putri tercerahkan dan mengangguk mengerti, "Oh, yang itu. Siapa pasangannya?"
"Om-om." Jawab Gina singkat.
"Pfft." Lila yang sedang memasang wajah kesal, langsung menahan tawa ketika mendengar jawaban Gina. "Kerja apa?"
Gina mengangkat bahunya acuh tak acuh dan kembali mengetik pesan kepada seseorang. Beberapa detik kemudian, pesan dibalas. "Bagus kerjanya, gajinya gede."
Putri dan Lila melirik Gina dengan pemahaman yang dalam. Tiba-tiba alur cerita yang rumit muncul dalam benak mereka, namun mereka hanya saling melihat tanpa mengungkapkannya.
Lila membuang topik itu dan langsung mengubah ke topik yang dia tunggu-tunggu. "Kamu tadi bicara apa sama Bambang?"
"Banyak." Jawab Gina dengan malas. Tampak tak peduli dengan ekspresi kesal Lila.
"Banyak itu apa? Ceritain kembali sama kami." Desak Lila.
Gina menoleh ke belakang, melihat Bambang yang masih membaca buku di bangkunya. "Bambang!" Panggilnya membuat Bambang menoleh seketika. "Boleh aku katakan apa yang kita bicarakan tadi?"
__ADS_1
Senyum geli terpampang jelas di wajah Gina, berbanding terbalik dengan wajah Bambang yang penuh ketegangan. "Tidak!"
"Oke." Gina mengangguk malas, dia melirik ke Lila dan berkata dengan nada tak berdaya. "Aku sangat mementingkan privasi orang lain. Lagi pula itu tidak ada kaitannya dengan kalian."
Lila cemberut, dia mendengus kesal dan diam setelah menghentakan kaki.
Sedangkan Putri, seseorang dengan tingkat kepekaan yang aneh. Yang selalu bisa membuat cerita yang melenceng, tiba-tiba menemukan sesuatu yang luar biasa. "Gin, kamu dan Bambang... aku pikir Bambang suka sama kamu."
Gina hanya tersenyum kecil, tidak menjawab dan kembali menatap layar ponselnya.
"Tidak! Tidak mungkin! Put, jangan bicara asal dong. Itu fitnah!" Seru Lila. "Bang, kamu sukanya sama aku saja kan?" Tanya Lila dengan mata penuh harap.
Bambang mencengkram ujung bukunya dengan kuat, dia hanya diam menatap lurus ke bukunya. Berpura-pura tidak mendengar pertanyaan yang diutarakan Lila kepadanya.
"Bukannya tadi kamu bilang kamu marah sama Bambang." Ucap Putri mengingatkan.
Lila cemberut, "Aku marah, tapi hatiku tidak. Lagi pula, aku tidak pernah marah lebih dari lima detik pada Bambang. Cintaku lebih besar dari segalanya untuk Bambang!"
Dreet
Bambang dengan tergesa-gesa menyeret bangkunya. Dia berdiri dan berjalan langsung ke pintu kelas, seolah bila dia tidak keluar dari kelas ini dalam waktu sepuluh detik, maka hidupnya akan berakhir.
Lila mendorong Putri menjauh darinya, dia menatap pintu kelas dengan pandangan rumit. Hanya saja tindakan Bambang berlebihan, terlalu jelas sehingga Lila dapat mengetahuinya tanpa Putri menjelaskannya. Bambang pasti sangat tidak menyukainya.
Namun, Gina jelas melihatnya, wajah Bambang yang kemerahan karena malu. Hanya Gina yang tahu jika alasan Bambang keluar dari kelas bukan karena dia muak mendengar kata-kata Lila, dia hanya tidak mampu mengatasi rasa malunya.
Gina memutar matanya dengan malas. Kisah cinta kedua sahabatnya ini sangat dramatis, penuh dengan kesalahpahaman. Entah itu Putri dan Dion, ataupun Lila dan Bambang. Mereka selalu berpikir hal yang sebaliknya terjadi.
Saat ini langit ditutupi awan, membuat suasana mendung dan suram. Dion berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku pinjamannya yang hampir habis tempo. Dua buku dipegang ditangan kanannya, sementara tangan kirinya berada di saku celana. Langkahnya stabil dan teratur, berjalan layaknya model di atas karpet merah.
Masuk ke dalam perpustakaan, tidak lebih dari sepuluh murid berada di dalam. Masing-masing murid sangat tahu diri dan mengingatkan diri mereka untuk tidak membuat kebisingan. Sehingga pada suasana yang mendung ini, perpustakaan yang memiliki aura kegelapan terbanyak di mata para murid. Tak sedikit murid menghindar untuk melewati perpustakaan saat ini.
Dion menyerahkan buku di tangannya kepada petugas perpustakaan. Setelah mengisi daftar berkunjung, dia mengambil kartu anggotanya dan berjalan menelusuri rak buku untuk meminjam kembali.
Saat ini dia sedang tertarik membaca buku Biologi, terutama materi tentang anatomi makhluk hidup. Banyak materi bagus yang tidak dibahas di kelas, membuatnya harus mengambil inisiatif untuk mempelajarinya sendiri.
Buku dengan ketebalan lima senti membuatnya merasa ragu. Dia mengambil buku itu dan menemukan meja untuk membacanya, jika dia tertarik maka dia akan meminjamnya.
__ADS_1
Dia menarik bangku yang kosong dan duduk di atasnya, meletakkan buku di atas meja, lalu membaca bagian keterangannya terlebih dahulu.
Bambang mengangkat kepalanya saat merasakan gerakan di sampingnya. Dia terdiam beberapa detik sebelum kembali menunduk dan membaca buku Sejarah yang ada di hadapannya.
Dia sering datang ke perpustakaan, sering kali dia berpas-pasan dengan Dion seperti hari ini, sehingga dia tidak merasa canggung lagi.
Keheningan yang panjang menyelimuti perpustakaan, hanya suara membalikkan halaman buku yang sering terdengar. Bambang bahkan bisa mendengar suara angin yang sangat lembut.
Saat Dion sudah memutuskan untuk meminjam buku ini dan menutup halamannya, garis pandangnya jatuh pada sosok di sebelah kanannya.
Dia mengenalnya, itu Bambang murid kelas XII IPA 2, yang merupakan salah satu pengunjung tetap perpustakaan. Dion memiliki kesan baik pada Bambang mengingat metode pembelajarannya yang mudah dan sederhana ketika mengerjakan soal Matematika.
Tatapan Dion jatuh pada buku Sejarah di tangannya, ini bukan pertama kalinya Dion melihat pemuda itu membaca buku Sejarah, sepertinya di perpustakaan, Bambang selalu membaca buku Sejarah.
Merasakan pandangan orang lain, Bambang menoleh dengan bingung. Tatapannya penuh tanda tanya, namun enggan untuk bertanya.
"Kamu suka pelajaran Sejarah?" Tanya Dion dengan suara yang pelan.
Bambang melihat buku di depannya dan mengangguk membenarkannya.
"Kenapa tidak mengambil jurusan IPS?" Tanya Dion lagi.
Bambang sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, "Aku hanya memiliki hobi membaca Sejarah. Tapi aku lebih tertarik dengan mengerjakan rumus."
"Ekonomi juga memiliki rumus." Ucap Dion.
Bambang bingung, "Di jurusan IPA juga ada mata pelajaran peminatan, aku memilih Ekonomi."
Dion mengangguk menerima alasan Bambang, dia berdiri dan mengambil buku di hadapannya. "Aku kembali duluan."
Setelah mengatakan itu, ponsel di saku celana Dion bergetar. Dion dengan santai mengeluarkannya dan membaca pesan masuk dari grup obrolan.
Gi Na : [Sebentar sore kita belajar Fisika, di rumahku.]
Dion mematikan ponselnya dan kembali menatap Bambang, "Jangan lupa sebentar sore." Ucap Dion sebelum pergi ke petugas perpustakaan.
"Oke." Bambang mengangguk dan kembali menundukkan kepala membaca buku Sejarah yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Bambang suka membaca materi Sejarah, itu berbeda dengan diajar di sekolah. Dia hanya ingin menikmati dan membacanya seolah membaca sebuah novel. Membaca bagian yang ingin dia baca, dia tidak ingin mengikuti urutan yang di ajari di sekolah.
Saat dia ingin membuka halaman baru, tangannya berhenti. "Ada apa sebentar sore?" Tanyanya bingung.