Salah Paham

Salah Paham
Aku Bukan Pedofil!


__ADS_3

Gina membidik kacang yang berada di ujung mulutnya tepat pada Lila yang sedang melamun. Dan tembak.


"Aduh!" Lila meringis, menggosok dahinya dengan kesal. "Berhenti melakukan itu!" Keluhnya.


Gina mengabaikannya, dia mengambil kacang kembali dari kemasan plastik dan kali ini membidik Putri yang sedang menatap ponselnya dengan senyum lebar hingga membuatnya tampak seperti orang gila. Dan tembak.


Putri dengan cekatan menghindar, dia melirik tajam Gina sekilas memberi peringatan, lalu kembali menatap ponselnya dengan senyum yang kelewatan seolah takut orang lain tak dapat menemukan dirinya sedang bahagia.


Merasa semakin bosan, Gina mengambil kacang dan membidik seorang siswa secara acak yang berdiri tak jauh dari dia. Dan tembak.


Siswa itu langsung mengeluarkan suara keluhan dan meletakkan tangan pada lehernya untuk mencari tahu apa yang baru saja mengganggunya.


Gina dengan pandai berpura-pura cuek dengan sikap malas dan mengabaikan siswa tersebut yang sedang memalingkan kepala kesana dan kesini mencari sosok yang mengusilinya.


Gina kembali meletakkan kacang di ujung mulutnya, ketika siswa itu menurunkan sikap waspada, Gina kembali membidik lehernya. Dan tembak.


"Sialan!" Suara umpatan terdengar menggelegar di kantin.


Gina kembali mengalihkan perhatiannya dan bersikap acuh tak acuh menatap siswa itu dengan aneh seolah terganggu dengan suara berisik yang baru saja dibuatnya.


Siswa itu menatap Gina dengan canggung merasa bersalah karena telah mengganggu orang lain. Kini dia kembali tenang namun tidak menurunkan kewaspadaannya untuk menangkap pelaku usil itu.


Gina kembali mengambil kacang dan meletakkannya di ujung mulutnya. Dia menunggu waktu yang pas untuk membidik dengan sabar.


Lila sedari tadi terus memperhatikan gerak gerik Gina dan merasa malu memiliki sahabat seaneh itu. Memiliki hobi yang selalu merugikan orang lain. Saat melihat Gina kembali menembakan kacang tanah ke siswa malang itu untuk ketiga kalinya, Lila mau tidak mau tak dapat menahan suaranya.


"Gin!" Tegurnya dengan suara rendah.


Gina dengan cepat menoleh, "La, jangan ganggu orang gitu. Makan aja yang benar, jangan malah ganggu orang makan."


Lila membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba melupakan apa yang ingin dia ucapkan ketika mendengar kata-kata Gina. Dia menoleh ke belakang Gina dan mendapati siswa yang telah menjadi target Gina sebanyak tiga kali kini menatapnya dengan pandangan tidak suka. Lila bolak balik menatap siswa itu dan Gina, namun tak tahu harus mengatakan apa.

__ADS_1


Sampai siswa itu pergi dari kantin dengan ekspresi kesal, baru saat itulah Lila sadar telah dijadikan kambing hitam oleh Gina.


"Gina! Kamu makhluk yang paling menyebalkan di muka bumi ini!" Lila meraung kesal dan menerjang Gina dengan kedua tangan menjulur ke depan ingin mencekik leher Gina.


Dengan cekatan, Gina menghindari serangan Lila dan tertawa terbahak-bahak. Memang tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mengganggu ketenangan orang lain.


"Hei." Putri yang sedari tadi diam terpaku pada layar ponselnya kini membuka suaranya untuk menarik perhatian kedua sahabatnya yang sedang beradu. Wajahnya tampak berseri-seri dan aura merah muda mengalir dari senyumannya. "Sebentar aku akan bertemu Beni~"


Gina dan Lila saling memandang dengan tatapan datar, merasa jijik dengan nada suara Putri yang berlebihan.


"Dimana?" Tanya Gina dengan enggan.


Putri tersenyum lebar, "Di rumahmu."


"... dimana?" Tanya Gina sekali lagi, kali ini telinganya difokuskan baik-baik untuk mendengar jawaban Putri.


Senyum Putri tak berkurang dan tetap memberi jawaban yang sama. "Di rumahmu."


Gina masih tidak yakin dengan pendengarannya dan menoleh ke arah Lila. "Barusan dia bilang di rumahku?" Tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.


Gina mengangguk paham, ternyata telinganya belum bermasalah. Yang didengarnya ternyata tidak salah. Tatapannya kembali ke Putri, menatap senyum berseri-seri sahabatnya. Dia tetap tenang dan berkata, "Kenapa di rumahku?"


"Tentu saja kami tidak mungkin bertemu di rumahku, jadi harus di rumahmu." Jawab Putri dengan percaya diri tinggi.


Gina memutar matanya, "Yang mau ketemuan kan kalian, kenapa harus di rumahku?"


"Ya, kami akan ketemuan, tapi kalian juga ikut. Kita akan membahas kelompok belajar kita." Jawab Putri. "Tentu ini bisa jadi kencan pertamaku dengan Beni!" Lanjutnya dengan antusias.


Gina sama sekali tidak mengerti pola pikir Putri. Ini adalah pertemuan kelompok, tapi dia mengatakan seolah-olah yang akan mengadakan pertemuan hanya dia dan Beni.


Di bawah tatapan semangat Putri, Gina hanya bisa bergumam menyetujui rumahnya sebagai 'tempat' pertemuan dua hati. Lagi pula dia yang pertama yang menyarankan rumahnya sebagai lokasi belajar kelompok mereka.

__ADS_1


"Ayahmu tidak masalah kita belajar kelompok di rumahmu?" Tanya Lila. Sesungguh dia mengetahui bahwa jangankan setuju, Ayah Gina akan bersuka cita membiarkan mereka belajar di rumahnya 24 jam. Selama Gina berada di rumah dengan nyaman, maka Ayahnya bahkan rela mengorbankan segunung emas.


Gina mengangguk pelan, tangannya tak henti-henti menyalurkan kacang tanah ke dalam mulutnya. "Ayahku sedang dalam perjalanan bisnis ke ..." Gina terdiam, dia melupakan lokasi yang disebutkan ayahnya beberapa hari yang lalu. "Intinya dia tidak ada di rumah seminggu lebih." Lanjutnya, menyerah mengingat lokasi ayahnya saat ini.


Putri mengangguk penuh pengertian, tangannya terkepal bersorak semangat. "Yess, sebentar sore aku akan kencan dengan pujaan hatiku."


Lila tiba-tiba termotivasi dan terjangkit virus cinta dari Putri, "Aku akan mengajak Bambang!"


"Ya, itu bagus." Putri mendukung.


"Lalu siapa yang harus aku ajak?" Tanya Gina tak berdaya.


Putri dan Lila tersenyum dengan tatapan penuh makna ke arah Gina, ini membuat Gina memiliki perasaan yang aneh. Sebelum mereka berdua mengatakan sesuatu, Gina langsung membantah.


"Aku bukan pedofil ataupun shotacon!" Tegas Gina.


Yang disebut shotacon, memiliki makna yang sama dengan pedofil. Hanya saja kata ini berasal dari Jepang. Untuk anak perempuan yang imut dipanggil loli dan untuk anak laki-laki yang imut menggemaskan dipanggil shota. Sedangkan untuk orang-orang yang memiliki kecederungan terhadap anak perempuan ini atau loli disebut lolicon, sehingga untuk orang-orang yang memiliki kecederungan terhadap shota disebut shotacon.


Namun Gina membantah dengan keras! Dia memang suka anak laki-laki, karena mereka menggemaskan dan imut. Dia juga tidak akan menyangkal jika bocah SMP yang selalu ditemuinya itu imut dan menggemaskan. Tapi, jelas ini hanya perasaan adik kakak. Sebatas itu dan tidak lebih.


Mendengar bantahan Gina, membuat senyum Putri dan Lila semakin berkembang. Sangat langka untuk bisa memiliki bahan membuat Gina menjadi kesal seperti ini.


"La, apa tadi kita menyebutnya pedofil?" Tanya Putri dengan nada menyindir.


Lila bekerja sama dan menggelengkan kepalanya, "Tidak."


Putri mengangguk, "Lalu apakah kita barusan menyebutnya shotacon?"


Lila sekali lagi menggelengkan kepalanya. "Tidak."


Kali ini tatapan Putri jatuh pada Gina, "Oh, Gin, siapa yang menyebutmu pedofil atau shotacon? Kenapa kamu menyangkal seperti itu?"

__ADS_1


Gina mengambil kacang tanah di genggamannya dan melemparkan ke wajah Putri dan Lila dengan kesal. "Sialan!" Umpatnya yang langsung berdiri pergi dari kantin.


Di belakangnya, Putri dan Lila saling bertosria merayakan kemenangan mereka.


__ADS_2