
Karena Gina tak masuk di mata pelajaran kedua otomatis Lila tak bisa menghilangkan kesempatan ini untuk duduk bersama Bambang. Ketika masuk ke kelas, dia langsung mengambil alih bangku Gina dan duduk dengan nyaman sambil tersenyum khas centilnya kepada Bambang.
"Babang tampanku sedang apa?" Ucap Lila dengan senyum manisnya. Tatapannya antusias lurus pada Bambang membuat pemuda yang sedang fokus membaca itu tersentak dan menatap Lila bingung.
"Dimana Gina?" Tanya Bambang membuat Lila cemberut.
Lila mendengus kesal dan berkata dengan nada tersakiti pada Bambang. "Bang kamu tega bangat ya."
Bambang adalah pemuda yang seratus persen polos dan lugu tentu saja tak mengerti dengan arah pembicaraan Lila yang dramatis. "Aku kenapa?"
"Yang duduk di sampingmu saat ini siapa?" Tanya Lila dengan ekspresi serius.
"Kamu?" Jawab Bambang dengan ragu.
Lila mengangguk membenarkan, "Aku ada di sini, di sampingmu, dan kamu masih tega membicarakan gadis lain saat ini? Hatiku tidak setegar itu Bang." Dia memegang dadanya dan berekspresi seolah hatinya benar-benar sakit.
Wajah Bambang merah, dia gelagapan bingung tak tahu cara untuk menanggapi ucapan Lila. Dia melirik ke pintu masuk dan berbicara dengan pelan. "Guru akan masuk."
Pernyataannya sangat jelas untuk Lila. Guru akan masuk, itu berarti Lila harus berhenti menggodanya dan kembali duduk di bangkunya sendiri.
Tetapi Lila tak mengindahkan ucapan Bambang, dia duduk dengan pose nyaman seolah bangku yang dia duduki saat ini miliknya dan tak berniat untuk pindah ke bangku manapun. "Aku akan duduk disini, menemani Babang tampanku belajar. Bukankah itu ide yang baik?"
Bambang ingin sekali menjawab jika itu sama sekali tidak baik. Bagaimana mungkin dia bisa berkonsentrasi belajar jika Lila duduk di sampingnya dan akan terus menggodanya. Jangankan berpikir untuk mengabaikan gadis itu, dia sama sekali tidak ingin mengabaikannya namun dia juga tak tahu cara menanggapinya.
__ADS_1
Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk dan memulai pelajaran. Lila sesuai dengan kata-katanya tetap duduk di bangku Gina dengan antusias yang tidak ingin disembunyikan sama sekali dari matanya.
Bambang ingin bertanya dimana Gina berada namun takut membuat gadis di sebelahnya kembali bereaksi berlebihan hingga dia memilih diam dan akhirnya tahu ketika guru mengabsen, Putri dan Lila serempak mengatakan Gina sakit perut dan sekarang berada di UKS.
Bambang melirik ke Lila dan merasa ragu. Sebelumnya di mata pelajaran pertama, Gina tampak biasa saja dan dengan santai tertidur nyaman tanpa tanda-tanda akan sakit perut. Namun dia berpikir kembali dan berasumsi untuk mempercayainya, lagi pula tidak ada hubungannya dengan dia.
"Bang." Panggil Lila di tengah berlangsungnya proses belajar mengajar dengan suara pelan, halus, dan membuat bulu kuduk Bambang merinding.
Bambang berusaha setenang mungkin walau telinganya berubah menjadi merah dengan jelas mengungkapkan rasa malunya. Lila merasa tertarik dan berpikir pemuda di sebelahnya sangat imut dan berbeda.
Dia menidurkan kepalnya di atas tumpukan tangannya di meja menghadapkan wajahnya ke Bambang, dengan penuh perhatian memperhatikan Bambang yang sedang menulis kata perkata yang ditulis guru di papan tulis.
"Bambang~" Panggil Lila lagi dengan nada centil namun sepelan mungkin.
Bambang merasa tak berdaya dan melirik ke gadis yang sedang menidurkan kepalanya di atas meja. Namun ketika dia bertemu dengan tatapan gadis itu, Lila langsung berkedip menggoda membuat Bambang tak tahu dimana harus membuang pandangannya.
Merasa terhibur dengan respon imut Bambang, Lila mengerutkan bibirnya menahan tawanya yang hampir meledak. Dia terus tanpa bosan memandangi Bambang membuat pemuda itu merasa tak nyaman dan ingin segera melemparkan buku tulisnya untuk menutupi wajah manis Lila.
"Oh iya Bang, sebentar sore kita akan belajar di rumah Gina lagi." Ucap Lila setelah beberapa saat, membuka topik pembicaraan untuk menghilangkan rasa gugup Bambang.
Bambang mengangguk ketika mendengar ucapan Lila, dia menoleh ke Lila ingin menjawab namun ketika pandangannya sekali lagi bertemu dengan Lila, dia dengan cepat mengalihkan tatapannya dan menjawab ala kadarnya. "Aku mengerti."
Lila terdiam sebentar mengamati wajah tampan Bambang sebelum berbisik, "Bang, aku mau jujur sama kamu."
__ADS_1
Jantung Bambang tanpa sadar memompa kuat, merasa gugup dengan ucapan Lila yang akan datang. Apa yang ingin dia katakan? Jujur tentang apa? Apakah ini akan menjadi gombalan Lila lagi?
Bambang menelan air liurnya dan menatap Lila waspada. "A-apa?"
"Um," Lila awalnya merasa ragu namun akhirnya mengatakannya, "aku sebenarnya tidak pandai Biologi. Nilaiku selalu rendah dan aku akan jujur padamu, aku bisa berteman dengan Putri dan Gina karena kami bertiga sering bertemu di ujian susulan yang memiliki nilai terburuk. Jadi tentang ucapan Gina yang mengatakan kami hebat dalam beberapa mata pelajaran itu bohong. Kamu juga tidak harus percaya Putri pandai Bahasa Inggris ataupun Gina. Kami bertiga selalu menempati peringkat terendah, hanya saja kamu terlalu mengabaikan peringkat kami sehingga tidak tahu."
Jantung Bambang yang merasa gugup dan waspada dengan ucapan Lila tanpa sadar kehilangan ritme cepatnya. Kali ini dia salah mengira, Lila tak menggodanya ataupun mengatakan kata-kata manis, tetapi anehnya dia merasa sedikit, hanya sedikit, kecewa.
Namun walau begitu, kata-kata Lila juga merupakan sesuatu yang mengejutkan. Dia tidak pernah berpikir jika ketiga gadis yang dikenalnya berteman karena nilai yang buruk, tetapi itu tidak mengherankan ketika mengingat tingkah laku mereka saat kelas berlangsung atau ekspresi tenang mereka ketika mendapatkan panggilan dari guru.
Pikiran Bambang tampak melayang sampai dia mendengar Lila melanjutkan ucapannya.
"Awalnya aku ingin belajar giat dan menghapal semua tentang sel-sel, tulang, tengkorak, bakteri, jamur, dan lain lain, pokoknya semuanya. Aku ingin agar kamu merasa kagum dan langsung jatuh cinta padaku. Tetapi..," Lila menghela napas tak berdaya, "otakku sungguh tak mampu."
Bambang masih meresapi ucapan Lila dan tiba-tiba membeku. Dia menatap Lila hati-hati dan bertemu dengan pandangan tak berdaya gadis itu. Apakah sungguh Lila belajar giat hanya untuk menarik perhatiannya? Dia tidak mempercayainya dan menatap Lila dengan ragu.
"Bang, kamu sangat pintar, aku sebenarnya minder suka sama orang pintar. Karena aku merasa aku cantik jadi aku cukup percaya diri untuk menyukai lelaki tampan. Tetapi aku tak percaya diri untuk mendekati lelaki pintar, walau begitu aku tak bisa untuk tidak menyukaimu. Aku sekarat, bagaimana ini? Aku sungguh mencintai lelaki pintar sekarang." Bisik Lila dengan suara pelannya. Kali ini dia menggunakan nadanya yang biasa tanpa bersikap centil sama sekali membuat Bambang sejenak mempercayainya dan hampir saja mengatakan tidak masalah, dia pun belum dapat disebut pintar.
Namun, dia tersadar dan membalas ucapan Lila. "Vino sangat pintar dan kamu menyukainya." Entah dimana Bambang bisa mendapatkan keberanian untuk mengajukan keluhannya kepada Lila.
Lila tertegun, dia lalu kembali memunculkan senyum menggodanya. "Babang tampanku sedang cemburu?"
Bambang langsung menggelengkan kepalanya, punya hak apa dia untuk merasa cemburu. Gina sudah mengatakan padanya jika Lila hanya menggodanya dan itu yang selalu dia lakukan pada lelaki yang dia anggap tampan dan sesuai tipenya. "Tidak, tidak mungkin." Elak Bambang cepat.
__ADS_1
Lila bergumam ketika mendengar penyangkalan Bambang tetapi bibirnya tak bisa berhenti untuk tersenyum. Dia sedikit menggeser kepalanya ke arah meja Bambang. Menatap pemuda di sebelahnya secara langsung dan terbuka. "Aku hanya punya dua tipe lelaki idaman. Pertama, tampan. Kedua, Bambang. Jika dia tampan tetapi bukan Bambang maka aku hanya bisa setengah menyukainya. Dan pemuda di sebelahku kebetulan tampan dan dia adalah Bambang."