
Setelah makan hingga perut mengembang, ketiga gadis tersebut berjalan menuju kelas tepat ketika bel istirahat berbunyi.
Di saat para murid kelas lain keluar menuju kantin untuk mengisi perut, mereka berjalan santai dengan perut kenyang dan hati senang.
Di koridor sebelah perpustakaan sangat sunyi dan hampir tiada yang berniat untuk melewatinya. Mereka bertiga berjalan dengan santai di koridor tersebut yang menjadi jalur terpanjang menuju kelas.
Gina yang pikirannya sedang dipenuhi dengan lanjutan novel kesukaannya, tiba-tiba teringat sesuatu. Dia menoleh ke Putri dan Lila yang sedang membicarakan tentang hubungan Beni dan Gilang yang tampak aneh. "Kalian sudah mengerjakan tugas Matematika?"
Putri yang pertama kali bereaksi dan mengangguk. "Aku sudah menyalin jawaban Daya tadi pagi."
Sebelum Gina menghela napas lega, Lila langsung berbicara dengan penuh kemenangan. "Dan aku sudah meminjam buku Putri. Kamu tidak memiliki hak untuk merebutnya."
Gina memutar matanya dan hanya menaikkan bahunya acuh tak acuh. "Tak perlu, aku akan meminjam buku orang lain." Ucapnya dengan malas, namun kedua matanya menyipit ke arah Lila memancarkan aura licik.
Saat tiba di kelas, Lila dengan cepat mengambil buku Putri dan bukunya dari tas, lalu dengan cepat menyalin jawaban dari tugas yang diberikan seminggu yang lalu.
Putri hanya duduk dengan riang di depan Lila, menyaksikan sahabatnya menyontek tugasnya dengan tenang.
Gina melirik mereka dan duduk di bangkunya. Dia juga mengeluarkan buku Matematika dan pulpennya, lalu menyiku Bambang yang sedang membaca buku—entah apa judulnya.
"Ada apa?" Bambang mendongak dan menatap Gina dengan bingung.
"Buku Matematikamu mana? Aku mau menyalin jawaban dari tugas minggu lalu." Ucap Gina tanpa basa basi.
Bambang langsung mengerti dan memberikan buku Matematikanya kepada Gina tanpa bertanya lebih lanjut. Lagi pula kegiatan nyontek menyontek hal yang biasa terjadi, dan Bambang bukan tipe orang yang suka bersaing dalam hal apapun dengan orang lain.
Gina mengambil buku Bambang dan dengan cepat menyalin jawaban menggunakan kecepatan yang tinggi. Hanya butuh kurang dari lima menit dan tujuh jawaban yang memerlukan dua lembar kertas ditulis dengan acak dan berantakan. Gina memeriksa kembali jawabannya untuk mencegah kesalahan yang konyol. Setelah memastikan semua baik-baik saja, dia menutup bukunya dengan puas.
__ADS_1
Tangannya usil membuka lembar demi lembar buku Bambang hingga halaman terakhir membuatnya terdiam dan tercengang. "Bambang, kamu..."
Bambang kembali mendongak, "Ada apa?" Dia bertanya dengan heran saat melihat Gina menatap bukunya dengan pandangan rumit. Dia mencoba mencari tahu apa yang dilihat Gina, tapi Gina dengan cepat menghalangi pandangan Bambang.
"Apa yang kamu lihat?" Tanya Bambang dengan gelisah.
Gina menjawab jawaban Bambang dengan sebuah pertanyaan. "Apa Lila pernah meminjam buku ini?"
Bambang dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak pernah."
"Lalu, kenapa ada nama Lila di bukumu?" Tanya Gina dengan pandangan menghakimi.
Ketika Bambang mendengar pertanyaan itu, jantungnya langsung berhenti berdetak, lalu di detik berikut berdetak dengan cepat hingga dia sendiri dapat merasakannya.
Tangan Bambang langsung terulur untuk merebut bukunya, namun Gina dengan lihai mengelak. Dia dengan cepat menyembunyikan buku Bambang di belakangnya, membuat Bambang mau tak mau harus menyerah untuk mengambil kembali bukunya itu.
"Jawab pertanyaanku, kenapa kamu menulis nama Lila di bukumu? Kamu menyukainya?" Tatapan Gina tajam, menusuk tepat di jantung Bambang.
"Kamu menyukainya." Gina tersenyum sinis, "Kamu baper padanya."
Mata Bambang bergetar dengan gelisah, dia ingin menyangkal namun tak tahu bagaimana membalasnya. Pikirannya dengan lambat mencerna semua kata-kata Gina, dia sama sekali tidak ingat pernah menulis nama Lila. Tapi hatinya ragu, dia berpikir mungkin saja dia tanpa sadar menulis nama Lila dan melupakannya. Alasan-alasan konyol terus mengelilingi otaknya, dia tidak mau mengakui dirinya baper pada setiap tindakan Lila.
Gina mengamati ekspresi Bambang dan berkata, "Jika kamu tidak mengatakan padaku, aku akan memberitahu Lila. Dengan begitu, dia mungkin akan berhenti merayumu dan membuatmu baper. Kamu tahu, Lila selalu begitu. Dia suka bermain, dan semuanya hanya candaan. Aku pikir aku sudah mengatakannya dari dulu."
Bambang hanya diam dengan menundukkan kepalanya, membuat Gina menghela napas panjang. "Oke, katakan saja padaku yang sebenarnya. Aku tidak akan memberitahu Lila. Bagaimana dengan itu?"
Ragu-ragu, Bambang melirik ke arah Lila yang sedang menundukkan kepala menulis sesuatu, lalu dia mengalihkan pandangannya ke Gina. Dia menggigit bibirnya sebelum mengakui perasaanya. "Itu benar, mungkin aku sedikit menyukai... Lila." Suara Bambang kecil, tapi Gina dapat mendengarnya.
__ADS_1
Senyum kecil muncul di bibir Gina hanya sepersekian detik sebelum kembali memasang wajah datar. "Mungkin?"
Bambang mengusap hidungnya dengan gelisah. "Ya, aku menyukainya."
Gina terkesiap, "Jadi, kamu benar-benar menyukainya?"
"Hm." Gumam Bambang, dia tidak tahu sampai kapan Gina akan membahas ini.
Namun di luar dari harapannya, Gina menjatuhkan bukunya dan halaman kosong segera menyambutnya. Tiada satupun nama Lila yang tertulis di halaman tersebut.
Bambang menatap bukunya tak percaya, lalu melihat ke arah Gina. "Kamu berbohong!" Seru Bambang.
"Pfft... Hahahahaha..." Gina tertawa terbahak-bahak, dia memeluk perutnya yang bergetar dengan tangan kirinya dan tangan kanan menepuk bahu Bambang. "Aku hanya bercanda, hahaha, aku tidak mengira aku menemukan harta karun saat berjalan dengan santai di halaman rumah. Hahaha..."
Bambang mengambil bukunya, memeriksa setiap kertas. Dan memang benar tidak ada nama Lila tertulis di halaman manapun.
Wajahnya merah padam, dia terjebak dalam tipuan yang begitu sederhana. Membuatnya mengungkapkan semua isi pikirannya namun mendapatkan kebenaran yang konyol.
"Kamu sudah mengatakan untuk tidak memberitahu Lila." Ucap Bambang dengan gelisah. Mendesak Gina untuk menepati janjinya.
Gina memaksa dirinya untuk menghentikan tawanya dan menatap ke arah Bambang dengan senyum geli. "Baiklah, aku tidak akan memberitahu Lila. Jangan khawatir, aku bukan orang yang cerewet." Lagi pula dia sama sekali tidak memiliki keuntungan dengan memberitahukan perasaan Bambang pada Lila.
Di bangku urutan ke tiga, Lila sedang menyalin jawaban dari buku Putri namun terganggu oleh tawa yang keras dari bangku belakang paling ujung. Lila mengerutkan kening tak suka melihat Gina dan Bambang begitu dekat saling bercanda. Dia bahkan tidak bisa seakrab itu dengan Bambang!
"Ada apa?" Tanya Putri yang duduk di bangku depan meja Lila, dia mengikuti pandangan Lila dan mengerti. "Ah, cemburu?" Tanyanya menggoda.
Lila mendengus keras, dia memukul mejanya dengan keras dan berteriak. "Gina! Jangan menikung sahabatmu sendiri!"
__ADS_1
Gina langsung menoleh ke arah Lila dan memberinya jari tengah. "Siapa sahabatku? Kalau aku suka, kenapa aku harus memikirkan orang lain, hahaha. Benar tidak, Bambang?" Gina menyenggol Bambang membuat pemuda yang ada di sebelahnya menatapnya ragu, sama sekali tidak berani menatap Lila.
Lila menyipitkan matanya, dia merasa ketidakadilan karena Bambang sama sekali tidak menyuarakan penolakannya dan bahkan tidak menatapnya. Dengan kesal, Lila kembali berbalik ke depan dan melanjutkan contekannya. "Aku sakit hati Bambang! Aku tidak akan berhenti marah sebelum kamu memberiku bunga mawar!" Teriaknya, membuat satu kelas bersiul menggoda Bambang.