Salah Paham

Salah Paham
Mari Bersenang-Senang


__ADS_3

Gina mengaduk minumannya yang ada di atas meja persegi menggunakan sedotan, matanya malas mengamati pintu kaca yang tak juga menampakan orang-orang yang ditunggunya. Dia sangat bosan hingga ingin mencari novel untuk dibaca. Sayangnya dia tidak membawa buku novel saat keluar tadi pagi.


Berkat berkah bencana yang kemarin disebutkan ayahnya, Gina menjadi malas beraktivitas dan memilih bolos sekolah. Lagi pula dia percaya Putri dan Lila akan secara membabi buta mengatakan dia sakit kepada guru. Itu kebiasaan mereka jika salah satu tidak hadir di sekolah.


Gina memasukan ujung sedotan ke dalam mulutnya dan meneguk minuman yang sedari tadi dimainkannya. Cairan dingin mengalir di tenggorokannya, menyegarkan dan membuatnya mengambil tegukan yang kedua.


Pintu kaca kembali terbuka, pasangan muda berjalan masuk sambil bergandengan, mengambil meja kosong dan langsung memanggil pelayan untuk memesan.


Melihat itu bukan sahabatnya, Gina kembali meneguk minumannya dan menunggu sambil bermain ponsel. Dia tahu ini masih terlalu cepat untuk mereka tiba, tetapi Gina tak bisa menahan jarinya untuk terus mengirim pesan ancaman kepada Putri dan Lila secara terus menerus. Tak peduli yang lain datang cepat atau lama, yang penting mereka berdua tiba saat ini untuk menemaninya mengahabiskan waktu.


Pintu kaca kembali terbuka, kali ini orang yang masuk membuat Gina melambaikan tangan memberi isyarat. Itu adalah Putri, orang yang sering datang lebih awal jika mereka janjian untuk bertemu.


"Mana temanmu?" Tanya Gina ketika Putri telah sampai di mejanya, mengambil bangku di hadapannya.


Putri langsung mengerti siapa 'teman' yang dimaksud ini. Itu Lila tentu saja. "Jangan fitnah, dia itu temanmu." Elak Putri langsung. "Dia datang bersama Vino, mungkin." Lanjutnya.


Gina mengerutkan alisnya heran, "Kok bisa?"


"Kayak kamu tidak tahu saja sahabatmu yang centil itu." Balas Putri. Dia mengangkat tangan memanggil pelayan dan memesan minuman serta makanan manis.


"Kamu kenapa?" Tanya Putri santai setelah memesan.


Gina mengaduk minumannya dengan sedotan beberapa detik diam, kemudian matanya tajam menatap ke arah Putri. "Kamu ini pasti punya masalah dengan kata-katamu."


Putri menggerjapkan matanya polos, "Kata-kataku?"


"Hooh." Gina mengangguk singkat, "Kata-katamu adalah kutukan yang mengerikan."


"Mohon penjelasannya Nona Gina." Ucap Putri dengan nada seformal mungkin.


Gina berdecak kesal, ingin mengatakannya tetapi juga enggan untuk mengatakannya. Dia ingin sekali melempar masalah itu, tetapi tentu dia harus memberitahunya kepada Putri dan Lila. Hal seperti itu sangat menyenangkan ketika telah dikatakan kepada dua orang yang baik sekaligus buruk ini.


Dia membuka mulutnya tetapi akhirnya menghela napas panjang, "Tunggu Lila saja."


"Aku disini."

__ADS_1


"Astaga!" Putri melonjak kaget ketika suara semagat Lila terdengar dari belakangnya. "Bisa tidak kamu kalau datang jangan bikin kaget terus?" Ucap Putri kesal.


Gina terkekeh meneguk kembali minumannya untuk membasahi tenggorokannya, "Duduk, Vin. Pesan apapun yang kamu mau." Ucap Gina santai pada Vino yang datang bersama Lila.


"Tidak perlu, Gin. Aku bisa bayar sendiri entar." Tolak Vino.


Gina tidak memaksanya lebih jauh dan membiarkan kedua orang yang baru datang itu mengambil tempat.


"Jadi apa yang terjadi Gin? Ayahmu benar-benar nikah? Sama gadis muda itu?" Tanya Lila memajukan tubuhnya ke meja dan menatap Gina dengan pandangan tertarik.


Gina memutar bola matanya malas, "Ayahku menikah dengan sekretarisnya."


Putri langsung menepuk tangan sekali, "Apa aku bilang kemarin, pasti sekretaris itu bunda barumu."


Gina mengangguk pelan tanpa niat, "Hooh, makanya aku bilang kata-katamu kutukan."


Lila ingin mengajukan pertanyaan kedua, namun dia berhenti ketika melihat pintu kaca terbuka dan melihat Bambang masuk dengan berjalan camggung. "Bambang!" Panggilnya antusias dengan senyum manis.


Namun senyum itu tak bertahan lama ketika dia melihat Fafa berjalan masuk di belakang Bambang. Dia memasang wajah cemberutnya dan menatap Bambang seolah telah dianiaya. "Bang, kamu datang dengan dia?"


"Dimana mereka?" Tanya Gina sambil mengaduk minumannya.


Bambang menengok ke pintu kaca yang sekali lagi terbuka menampilkan Beni yang dengan usaha keras mendorong Dion masuk. "Itu mereka." Gumamnya pelan.


"Kalian duduk di meja sebelah, pesan apa pun yang kalian inginkan." Ucap Gina sambil menunjuk meja kosong di sebelah meja mereka dengan dagunya.


"Tidak perlu, Gin. Kami berdua bawa uang sendiri kok." Tolak Beni sambil merangkul bahu Dion.


Gina hanya diam, tidak memaksa lebih jauh.


"Put, pindah sana, Bambang duduk disini." Desak Lila sambil mengguncang bahu Putri.


Putri melotot horor ke arah Lila, "Kenapa tidak kamu saja yang pindah ke meja sana?"


Dia malu jika harus berada di satu meja dengan Beni tanpa ada Gina atau Lila, apalagi di sana ada Dion yang menyukainya. Itu membuat perasaannya berada di titik dilema.

__ADS_1


Lila mengerucutkan bibirnya, "Tidak, aku mau duduk sama Gina. Aku ingin dengar tentang yang terjadi kemarin. Coba jelaskan Gin."


Gina bergumam malas, "Kapan kamu akan memesan makanan dan minuman? Setelah itu mari kita ke mal dan bioskop. Beli apa pun yang kalian inginkan."


Lila dan Putri langsung antusias mendengar ucapan Gina. Lila segera bertepuk tangan riang, ini yang dia sukai ketika Gina terpuruk. "Seberapa banyak?"


"Sebanyak yang kamu mau." Jawab Gina santai, dia mengeluarkan kartu persegi berwarna hitam dari saku bajunya untuk ditunjukan kepada teman-temannya.


Lila langsung kegirangan senang, "Kredit atau debit?" Dia bertanya dengan nada antusias.


Gina menyengir, "Kredit." Jawabnya santai.


Putri juga tak dapat menahan senyum bahagianya, namun dia tetap bertingkah kalem dan menahan dirinya untuk tidak berperilaku norak seperti Lila. Tentu saja hari ini mereka akan bersenang-senang lagi berbelanja apa pun yang mereka inginkan.


"Um, Gina. Itu kartumu?" Tanya Vino dengan ragu. Dia tidak mengerti dengan tindakan ketiga gadis itu.


Gina melirik Vino dan menggelengkan kepalanya, "Ayahku. Karena hari ini aku sedang kesal, maka mari habiskan uangnya."


Bukan hanya Vino yang terkejut, Beni, Dion, Fafa, bahkan Bambang pun menatap tak percaya pada Gina. Apakah anak orang kaya selalu seperti ini?


Gina memperhatikan pandangan mereka dan merasa lelah. "Tenang saja, aku selalu seperti ini. Ini bukan pertama kalinya aku bersenang-senang menggunakan kartu ayahku. Lagi pula dia tidak akan marah."


Lila dengan cepat mengangguk untuk menyakini yang lainnya. "Ayah Gina sangat protektif terhadap Gina, memberikan semua yang Gina inginkan, bahkan tidak akan ada masalah jika kita menggunakan uangnya sampai milyaran."


"Kartu ini tidak bisa menampung belanjaanmu sampai milyaran Nyonya Lila." Tegur Gina.


Lila berdecak kesal, "Aku tak membahas kartu itu, tetapi ayahmu. Dia tidak akan membunuhmu bahkan jika kamu menghabiskin milyaran uangnya."


"Sungguh? Gila!" Seru Beni merasa takjub.


Lila mengangguk membenarkan, "Memang gila, andai kalian tahu Gina yang sekarang lebih lumayan sedikit normal dari dia yang dulu. Bahkan ayahnya akan sangat bahagia jika Gina ingin menggunakan uang jajannya itu."


Gina hanya diam membiarkan Lila mengatakan banyak hal tentang dirinya. Dia mengangkat tangan memanggil pelayan dan meminta yang lain untuk memesan. "Makan sepuasnya, setelah itu kita akan bersenang-senang."


Yang lain mulai memesan dan mengikuti alur yang dibawakan gadis dengan sikap santai dan malas itu.

__ADS_1


__ADS_2