
Hujan yang tadinya telah berhenti kembali datang membasahi bumi. Suara deras yang menjadi melodi melow kini menghantarkan orang-orang kepada masa lalu yang begitu dramatis.
Delapan pemuda dan pemudi yang telah selesai belajar kelompok kini duduk di ruang tamu menunggu hujan berhenti. Dengan bantuan hujan, membuat suasana menjadi suram dan sepi.
"Kamu tinggal sendiri?" Tanya Beni dengan penasaran.
Gina bersandar dengan malas di sofa, kakinya direntangkan lurus berada di atas meja kaca. Matanya terkulai malas menatap Beni, membuat setiap orang yang melihatnya terserang penyakit kantuk.
"Aku tinggal dengan ayahku. Tapi dia pergi ke— untuk urusan kerja. Sekarang aku sendiri, kadang pembantu rumah tangga datang untuk membersihkan dan menyiapkan makanan, mereka tidak nginap, hoaaam." Di akhir ucapannya, dia menguap panjang. Sampai sekarang dia belum ingat dimana ayahnya pergi.
Beni mengangguk paham, dia menatap keliling ruangan dan merasa sedikit kasihan pada Gina. "Pasti sangat sepi."
"Dan nyaman." Lanjut Gina, dia tersenyum miring ketika melihat tatapan prihatin dari mata Beni. "Ini istana dan aku ratu. Sangat nyaman."
__ADS_1
Yang lainnya menatap aneh pada Gina, Fafa lah yang menyuarakan pikirannya terlebih dahulu. "Maksudnya? Tidakkah ini terlalu sepi dan luas? Jika itu aku, aku pasti suntuk dan memilih tinggal di rumah Fani atau Dinda."
Gina tidak tahu siapa itu Fani atau Dinda, tapi dia malas mempertanyakannya, dia hanya membalas seadanya. "Sendiri di rumah, kalau kamu menggila, tidak akan ada yang tahu. Ini menyenangkan."
Vino mengangguk setuju, "Ya, aku kadang merasa bebas saat keluargaku pergi meninggalkanku sendiri di rumah. Seolah rumah milik sendiri."
Saat itulah Beni mengerti, dia juga langsung setuju. "Ah, aku paham. Itu memang menyenangkan."
Hanya Lila dan Putri yang tahu apa maksud 'menggila' dari ucapan Gina. Mereka berdua saling melirik lalu memberi tatapan penuh arti pada Gina. Gina hanya terkekeh geli sebagai tanggapan.
Semua orang langsung mengalihkan pandangan ke arahnya dan mempersilakannya untuk bertanya. Dengan begitu, tatapan Fafa langsung jatuh pada Putri dan Dion. Itu membuat Putri dan Dion merasa tak nyaman dan firasat buruk melanda.
"Aku dengar Dion nembak Putri di depan umum dan ditolak, itu benar?" Tanya Fafa dengan hati-hati.
__ADS_1
Putri dan Dion langsung saling melirik melihat reaksi satu sama lain. Ketika pandangan mereka bertemu, dengan cepat mereka saling membuang muka. Itu tak luput dari pandangan orang lain, seolah membenarkan ucapan Fafa.
Dion baru saja ingin menyangkal, ketika Beni menjawab dengan antusias. "Ya, itu benar. Aku tidak menyangka saat itu kalau Dion akan menembak Putri. Dia bahkan tidak memberitahuku terlebih dahulu."
"Hahaha, ternyata Dion ini tipe yang diam-diam menghanyutkan." Canda Vino.
Wajah Dion diselimuti awan hitam. "Ini tak seperti yang kalian pikirkan."
Putri yang merasa bersalah pada Dion, langsung mengikuti penyangkalan Dion. "Iya, ini tak seperti yang kalian pikirkan. Aku tidak menolak Dion di depan umum, tapi secara pribadi. Yang kalian dengar hanya gosip yang tidak benar."
"..." Dion menatap Putri dengan pandangan rumit.
Putri membalas tatapan Dion dan memberi senyuman manis seolah mengatakan kepada Dion bahwa dia akan membantu Dion dan tidak akan membuatnya malu.
__ADS_1
Gina terkekeh geli merasa terhibur, dia lalu angkat bicara untuk mengusir para tamunya. "Hujan sudah berhenti, saatnya kalian pulang."
Saat itulah mereka sadar bahwa suara hujan telah hilang, hingga mereka satu persatu mengucapkan salam perpisahan dan pulang ke rumah masing-masing.