
Saat tiba sore hari, langit secara alami cerah. Bahkan awan hitam yang tadinya menari-nari di atas langit, sudah hilang seolah tak pernah ada. Angin sejuk dan menyegarkan terus mengalir dari celah-celah membuat ujung kertas teratas di tumpukan buku berkibar-kibar.
Gina membuka jendela di ruang belajarnya, mengembalikan cahaya yang hilang dalam ruangan. Dia mengernyit saat menatap langit cerah, lalu kemudian menutup kembali jendela dan menarik kembali gorden untuk menutupi jendela. Suasana gelap dan suram kembali muncul.
Ada tujuh pemuda dan pemudi duduk di atas karpet lebar dengan buku yang bertebaran memperhatikan tingkah Gina. Ada rasa aneh dan tanda tanya yang tak bisa ditahan.
Beni seseorang yang tidak memiliki prinsip menahan diri dari kekepoan, dia langsung bertanya. "Kenapa ditutup kembali?"
Fafa mengerutkan keningnya, "Ini gelap, tidak—”
Sebelum Fafa menyelesaikan ucapannya, Lila menyalakan lampu dengan santai. Dia tersenyum senang melihat wajah Fafa yang memburuk, dia bahkan dengan sengaja bersiul gembira.
Fafa ingin mengajukan keluhan lain, tapi Gina telah menyalakan pendingin udara sehingga keluhannya hanya tersangkut di tenggorokan tanpa bisa dikeluarkan.
"Langit terlalu cerah, aku merasa tidak nyaman." Ucap Gina dengan nada malas, sama sekali tidak terlihat tidak nyaman.
Dia duduk di samping Putri, matanya menunjukkan ketidakpedulian. Mengambil buku Fisikanya dan membuka materi yang akan diulas hari ini.
"Kenapa merasa tidak nyaman?" Tanya Putri basa basi.
Gina mengangkat bahunya tak peduli, "Cuaca tiba-tiba cerah, aku merasa seperti hal buruk akan terjadi."
"Hal buruk apa?" Tanya Lila, suaranya penuh semangat seolah menantikan hal buruk itu.
Gina menatap Lila dengan pandangan merendahkan, matanya jelas mengatakan Lila itu bodoh. "Itu belum terjadi, bagaimana mungkin aku tahu?"
Lila mendengus, dia menoleh ke arah Bambang yang ada di sampingnya sedang menatapnya heran. "Bang, kalau mau bertanya sesuatu, tanyakan saja. Aku bersedia menjawab semua pertanyaanmu."
Bambang hanya menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak ingin bertanya.
Lila menyipitkan matanya, "Apa aku melakukan kesalahan? Bang, kamu tidak bicara padaku dalam 3.600 detik. Kamu mengabaikanku! Aku salah apa? Apakah aku mengatakan sesuatu yang kurang manis? Apa semua gombalanku kurang?"
Putri mengambil kue dari toples dan langsung memasukkannya ke mulut Lila, menghentikan sahabatnya yang centil itu untuk terus berbicara. "Oke mari kita mulai."
Setumpuk kertas diletakkan di tengah mereka, diujung kiri atas kertas itu terdapat tulisan 'rahasia negara', itu adalah soal-soal Ujian Nasional setahun yang lalu. Mereka sontak menatap Vino, orang yang meletakkan tumpukan kertas soal itu dengan penuh sanjungan.
"Darimana kamu mendapatkan soal-soal ini?" Tanya Gina.
Beni mengambil inisiatif untuk menjawab, "Kedua orang tuanya adalah guru di sekolah kita."
Gina, Putri, Lila, dan Bambang tertegun. Mereka baru tahu informasi itu.
Pada dasarnya, siapapun murid yang memiliki orang tua yang berprofesi sebagai guru di sekolah mereka akan sangat mudah ditemukan dan tidak ada rahasia untuk itu. Hanya saja, ini sangat aneh mengingat nama Vino sangat terkenal namun tidak pernah terdengar desas desus tentang orang tuanya yang berprofesi sebagai guru itu. Seolah dia berusaha untuk mencegah orang lain mengetahuinya.
Dan benar saja, Vino tersenyum masam dan berkata, "Kalian jangan beritahu orang lain tentang ini."
Lila menatap Vino dengan penuh rasa penasaran yang menarik, "Guru siapa yang orang tuanya Vino?"
"Bu Yuli dan Pak Fardin." Jawab Beni menunggu reaksi keempat murid kelas XII IPA 2.
__ADS_1
Putri berpikir dia akan tetap menjaga ekspresi ketenangannya. Namun, setelah mendengar jawaban Beni, mata Putri menyusut dan menatap Gina dan Lila tak berdaya. Gina dan Lila juga meringis dan merasa tak nyata.
"Di antara semua guru, kenapa harus Bu Yuli dan Pak Fardin?" Tanya Gina dengan nada tertekan. "Hidupmu pasti sengsara."
Vino hanya tersenyum kecil, tidak mengelak ataupun menyetujui ucapan Gina.
Lila juga menatap Vino penuh simpati, "Aku pikir aku mulai bersyukur dengan orang tua yang aku miliki saat ini."
Gina langsung mencibir, "Benarkah?"
"Setidaknya mereka tidak akan memberiku soal seratus nomor dengan waktu satu hari." Ucap Lila. Namun ketika dia berpikir kembali, dia hanya bisa bergumam pelan. "Lagi pula mereka akan berakhir."
Putri mengangguk membenarkan ucapan Lila. Dia masih ingat saat mereka diberi tugas rumah seratus nomor, dan itu semua soal uraian Fisika. Saat mereka bertiga mencari jawaban di Brainly, mereka tidak dapat menemukan satu soal pun yang cocok, itu membuktikan betapa kerja kerasnya guru Fisika mereka dalam membuat dan mencari soal. Keesokan harinya, seluruh kelas berakhir dengan di jemur di depan tiang sekolah dan satu per satu dari mereka mengucapkan janji siswa dengan pengeras suara. Pengalaman itu sangat memalukan bagi Putri, terutama karena seluruh murid menonton dan mendengarkan mereka. Bahkan ada Beni di antara penonton itu!
Gina tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya kepada Beni, "Ben, kenapa Gilang lari tadi pagi?"
Mata semua orang langsung fokus pada Beni. Menunggu jawaban yang masuk logika dari pada menebak-nebak asal.
Beni menggelengkan kepalanya, "Aku juga penasaran, dia selalu menunjukkan keberaniannya, tapi tadi tiba-tiba lari begitu saja. Sekarang aku merasa sepertinya aku memiliki jabatan yang lebih tinggi dari Kepala Sekolah."
Dion mencibir, "Kamu tidak pernah berpikir dia lari karena enggan berurusan denganmu?"
Beni menyipitkan matanya dan langsung menjepit leher Dion di bawah lengannya. Mengerahkan kekuatannya untuk menahan perlawanan pihak lain. "Tidak bisakah kamu memujiku sesekali?"
Dengan kasar, Dion mendorong Beni menjauh. "Enyahlah."
Vino dengan tak berdaya menghentikan perbincangan tak bermanfaat ini. "Oke oke, mari kita mulai belajar."
Yang lain dengan patuh mengambil masing-masing satu set soal. Mereka mencari soal nomor 1 dan mendapati bahwa beberapa set soal memiliki soal yang berbeda namun tetap materi yang sama.
Vino melihat perhatian semua orang sudah tertuju pada soal di masing-masing tangan mereka dan mengangguk puas. Dia mulai mengambil buku materi yang telah dipersiapkannya dan menjelaskan secara rinci tentang soal tersebut. Dia juga memberi beberapa contoh soal sebelum meminta mereka untuk menjawab soal yang ada di kertas soal Ujian Nasional tahun lalu.
Materi soal ini dipelajari saat mereka kelas sepuluh, sehingga tak sedikit dari mereka yang telah melupakan pelajaran yang dikatakan mudah dan simpel ini oleh Vino. Butuh waktu yang lama bagi Vino untuk mencairkan beberapa otak-otak yang membeku hingga akhirnya paham.
Setelah Putri mendesah lega telah mengerjakan soal yang diberikan, Vino kembali meletakkan tumpukan soal di tengah lingkaran mereka. Dan itu masih soal-soal Ujian Nasional, hanya saja itu soal 2 tahun yang lalu.
Putri melirik Gina dan Lila dengan pandangan meminta bantuan. Tapi bagaimana pun, dia memiliki teman yang sama bodohnya dengannya, sehingga mereka hanya bisa berpura-pura rajin belajar dengan kebingungan.
Sial bagi mereka bertiga karena tidak memiliki soal yang mirip dari soal Ujian Nasional 4 tahun yang lalu sampai tahun lalu dan Ujian Sekolah 4 tahun yang lalu sampai tahun lalu, seolah Vino secara sengaja memisahkan mereka dan mencegah proses contek menyontek terjadi.
Setelah mengerjakan soal nomor 1 dari Ujian Sekolah 4 tahun yang lalu, Lila segera meletakkan pulpennya dengan tegas. Dia melihat jam dinding dan dengan cepat berbicara seolah takut Vino akan mengeluarkan soal-soal ujian 5 tahun yang lalu. "Vin, lihat jam! Lihat jam! Sudah jam lima!"
Yang lain ikut melihat jam dan secara tidak sadar menghela napas lega. Vino yang asik mencari soal langsung terkekeh melihat tampang letih tiap orang. Dia mengangguk dan meletakkan soal-soal yang ada di tangannya. "Oke, kita akhiri hari ini. Gin, aku nitip soal-soal dan bukuku disini. Biar mudah, tidak perlu bawa barang-barang lagi."
Gina mengangguk, "Simpan di dalam laci nomor 3, jangan simpan di atas meja." Ucapnya.
Setelah membereskan alat belajar, mereka langsung berdiri dengan semangat dan melupakan kelesuan mereka seolah baru saja terlahir kembali.
Gina sebagai tuan rumah yang agak baik, mengantar teman-temannya turun ke lantai bawah dan bertepatan dengan pintu luar yang baru saja terbuka.
__ADS_1
Ayahnya bersama dua orang lainnya masuk ke dalam rumah dengan membawa koper.
"Gin, bukannya ayahmu datangnya besok?" Tanya Lila dengan pelan.
Orang-orang yang tak tahu langsung mengerti jika yang baru saja datang adalah ayah Gina.
Putri berbeda pandangan dan fokus pada dua orang lainnya. Dia bertanya tanpa berpikir, "Mereka siapa? Bunda barumu?"
Gina menyenggol Putri dengan kesal, "Sekretaris ayahku, dia sering datang bawa dokumen. Kali ini dia ikut dengan ayahku dalam perjalanan bisnis."
Lila dan Putri mengangguk paham. Lila lalu menunjuk perempuan muda lainnya. "Lalu yang satunya?"
Gina menggelengkan kepalanya, dia juga baru lihat perempuan itu. Perempuan itu tampak seumuran dengan mereka bahkan lebih muda. "Tidak tahu."
"Yang satunya mungkin Bunda barumu." Ucap Putri lagi.
Lila juga mendukung, "Baru-baru ini lagi populer kisah cinta om-om dan anak remaja."
Gina tidak terlihat marah dan memasang wajah tidak peduli, "Aku tidak tahu dan lebih baik tidak tahu."
Lima orang lainnya mendengarkan percakapan mereka dalam diam, merasa jika percakapan mereka sangat aneh dan lebih aneh bila mereka mengikuti obrolan tersebut.
Ketika mereka telah berjalan tepat di depan ayah Gina, mereka secara alami memberi salam dengan sopan dan rendah diri.
Ayah Gina juga memberi kesan yang baik dan mengangguk dengan penuh perhatian. Dia sudah mendengar dari pembantu rumah tangga bahwa Gina akhir-akhir ini mengajak temannya ke rumah untuk belajar kelompok, secara otomatis dia akan mendukung dan bahagia. Pada saat-saat tertentu, Gina selalu menunjukkan keberontakannya dan berkeliaran tidak jelas hingga membuatnya khawatir dan harus memantaunya setiap saat, sehingga baik untuk jantungnya saat mendengar Gina duduk manis di rumah sambil belajar dengan giat. Dia sangat senang dan hampir melupakan kekhawatirannya.
Gina menatap ayahnya dalam diam dan melirik gadis muda yang ada di sampingnya seolah mencari penjelasan. Dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Putri dan Lila, ayahnya tidak mungkin tertarik oleh gadis muda yang bahkan lebih muda dari Gina. Jadi identitas gadis itu tidak mungkin menjadi pasangan ayahnya.
Ayah Gina juga memperhatikan tatapan anaknya dan menghela napas berat. Dia melirik teman-teman anaknya dan kembali menatap Gina, "Ayah ingin mengatakan sesuatu pada kamu."
Gina mengangguk, "Oke, tapi aku keluar dulu sama teman-temanku."
Setelah ayahnya mengangguk, Gina dengan cepat menarik Lila dan Putri keluar, yang lain juga dengan cepat mengikuti langkah mereka.
Saat sampai di depan halaman rumahnya, yang lain menatap Gina dengan aneh.
Lila langsung bertanya tanpa basa-basi, "Kita mau kemana?"
Yang lain juga menatap dengan pertanyaan yang sama, setelah belajar mereka berencana berpisah kembali ke rumah masing-masing seperti sebelumnya. Tiada rencana jalan bersama.
Gina mengerutkan keningnya, "Tidak tahu, aku merasa hal buruk yang aku rasakan tadi akan segera terjadi ketika ayahku mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan. Aku harus membeli makanan ringan dan minuman soda segera."
Beni tidak mengerti dengan pola pikir Gina, "Untuk apa beli makanan ringan dan minuman bersoda?"
Lila menjawab untuk Gina, "Itu hanya kebiasaannya, kalau suasana hatinya buruk dia akan makan makanan ringan lebih banyak lalu besoknya kita akan mendapatkan keuntungan yang besar."
"Keuntungan apa?" Tanya Fafa cepat.
"Kamu akan tahu ketika itu terjadi." Jawab Lila dengan malas.
__ADS_1
Mereka lalu berpisah dengan harmonis, Lila dan Putri menemani Gina terlebih dahulu ke minimarket sebelum pulang kembali ke rumah masing-masing.
Dan firasat Gina memang benar.