
Putri, Lila, dan Gina berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Saat keluar dari gedung kelas dua belas, pintu gerbang yang terbuka lebar menyambut mereka.
Langkah Putri yang tadinya lancar mulai tersedat, dia menyipitkan mata melihat ke sosok yang ada di pintu gerbang.
"Kenapa dia ada di sana?" Tanya Putri yang membuat Lila dan Gina ikut memperhatikan sosok tersebut.
Gina menatap Putri dengan malas. "Jangan mulai deh, dia ada di sana mungkin lagi nungguin Beni."
Putri menggelengkan kepalanya, menolak gagasan Gina. "Tidak mungkin! Setahuku, dia tidak pernah menunggu Beni. Biasanya Beni yang menunggunya. Dia pasti menungguku."
Lila mengangguk, "Um, untuk nagih hutang."
"Kamu yang berutang!" Putri memberi Lila tatapan tajam.
Gina sangat malas berurusan dengan imajinasi liar Putri, tapi karena dia sangat menyukai hal yang menyenangkan maka sesuatu seperti ini tidak boleh disia-siakan.
"Kenapa kamu tidak tanya langsung saja sama dia?" Saran Gina.
Putri mundur tiga langkah, dia menggelengkan kepala cepat. "Tidak mau!"
"Kamu tidak kasihan dia menunggu di tengah terik matahari seperti ini? Lagi pula, bukannya kamu mengatakan akan memberinya kesempatan?" Gina tak mau mengalah dan terus mengompori Putri.
Putri mulai goyah, dia menggigit bibir bawahnya dengan bimbang. "Nanti dia mengira aku memberinya harapan."
Gina memutar matanya malas, "Lagi pula apa salahnya? Dia menyukaimu, itu urusannya. Itu haknya untuk mengejarmu, oke? Jangan mengambil hak orang lain sesuka hatimu hanya karena kamu tidak menyukainya."
"Tunggu, tunggu!" Lila menatap Gina dengan heran. "Kamu juga percaya Dion suka Putri? Gin, aku kira kamu sedikit waras, ternyata kamu sama saja dengan Putri."
Gina hanya memberi Lila tatapan mencemooh dan kembali meyakinkan Putri, "Jadi, kamu tidak ingin menemuinya?"
"Baiklah." Putri menghela napas pelan. "Demi roti sobek." Lanjutnya
Putri kembali melangkah maju, Gina menahan tawa dan mengikuti dari belakang. Lila menaikan alisnya, menatap Gina dengan tanda tanya. Tapi Gina hanya menahan Lila untuk jalan sejajar dengannya dan memperhatikan Putri.
"Mari kita menonton." Ucap Gina dengan senyum jahat.
Lila menatap ke arah Putri, lalu ke wajah Gina yang kini penuh dengan aura kejahatan dan mengerti. "Kamu..." Lila menyipitkan matanya menatap Gina dengan tatapan menghakimi. "...bagus!" Dia memberi Gina jempol dua.
Gina mengangguk puas dan mencari tempat yang nyaman untuk menonton drama bersama Lila.
__ADS_1
Di sisi gerbang, Dion berdiri bersandar di pintu gerbang dengan sabar. Tubuhnya tegap dan tinggi, serta ekspresi wajahnya yang memberi kesan tak ingin diganggu membuat murid-murid yang lewat secara diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
Walau wajah Dion sangat dingin dan acuh tak acuh, namun hatinya sedang membara dengan amarah. Dia seharusnya sudah berjalan pulang saat ini, tapi dia dengan sangat terpaksa harus menunggu sosok yang memiliki wajah termenyebalkan di dunia. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang memiliki nama panjang yang sulit diingat, Beni.
"Kenapa kamu berdiri di sini?"
Dion mengangkat kepalanya, dia sedikit terkejut ketika melihat Putri berdiri di hadapannya. Dia bertanya-tanya kenapa orang yang selalu menghidar darinya tiba-tiba mengambil inisiatif untuk mengajaknya bicara.
"Menunggu," Dion menghentikan ucapannya. Jika dia mengatakan dia menunggu Beni, mungkin saja Putri akan meminta tolong padanya agar dia bisa pulang bersama Beni.
Sesungguhnya Dion bukan orang yang baik hati, dia sangat enggan untuk berada di tengah hubungan seseorang.
"Bukan apa-apa." Jawab Dion, mengubah jawabannya secepat kilat.
Tapi tentu saja Putri bukanlah orang yang sesederhana itu. Melihat Dion mengubah jawabannya, itu berarti dia ingin menyembunyikan alasan yang asli. Sehingga mau tak mau imajinasi Putri yang liar menjadi semakin liar.
Dia berpikir Dion malu untuk mengatakan jika dia menunggunya dan ingin bersikap seolah pertemuan ini tak disengaja. Putri mencibir kebodohan Dion dalam hatinya.
Putri adalah orang yang naif dan mudah percaya dengan pendapatnya sendiri, jadi dia tidak menyembunyikan pikirannya sama sekali. "Kamu menungguku?"
Dion mengerjap bingung. Setelah beberapa saat, barulah Dion mengerti jika dia berada dalam masalah. "Tidak, aku menunggu Beni." Bantahnya, dia merasa lebih baik jujur.
"Kamu tidak perlu berbohong, kenapa menungguku?" Ucap Putri dengan serius.
Dion tak berdaya, dia menyesal karena tidak mengatakan yang sebenarnya dari awal.
Dia menggelengkan kepalanya berusaha meyakinkan Putri. "Aku sungguh sedang menunggu Beni."
"Maaf."
Dion sekali lagi terkejut dan terdiam, dia memeriksa ekspresi Putri dan gadis itu benar-benar menatapnya dengan bersungguh-sungguh.
"Aku tidak sopan dari awal. Seharusnya aku tidak menolakmu begitu keras di depan umum. Itu pasti memalukan. Maaf, lain kali aku akan menolakmu secara diam-diam."
"..." Dion tercengang, bahkan mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan kata-kata.
"Pfft." Tak jauh dari tempat drama, Gina dan Lila menyaksikan adegan dengan bersantai. Gina sama sekali tak dapat menahan tawa pada imajinasi liar Putri.
Tanpa mengetahui tindakan sahabatnya yang menjadikannya hiburan, Putri melihat kearah Dion yang terdiam dan berpikir dia salah bicara, jadi dia cepat-cepat melanjutkan ucapannya. "Aku awalnya menghindar karena terkejut kamu menyukaiku. Jadi tanpa berpikir aku langsung menolakmu. Maaf, aku seharusnya tidak begitu keras."
__ADS_1
Dion tanpa sadar mengangguk.
"Tapi, kamu tak perlu menunggu seperti ini. Lagi pula kita akan bertemu sebentar di rumah Gina. Jadi jangan repot-repot seperti ini."
Dion sekali lagi mengangguk.
"Kalau begitu pulanglah, tak perlu menungguku. Aku bisa pulang sendiri."
Setelah mengatakan itu, Putri dengan cepat lari dan meninggalkan Dion yang kebingungan.
Dion terus terdiam, mencerna semua yang dikatakan Putri sampai Beni datang menghampirinya.
"Kenapa melamun? Kesambet setan?" Beni bertanya sambil terkekeh.
Dion menatap Beni dengan tatapan yang rumit. Dia menggelengkan kepala dengan pelan. "Aku tidak mengerti."
"Apa yang tidak kamu mengerti?" Tanya Beni dengan santai.
"Putri tadi menghampiriku." Ucap Dion.
Senyum nakal langsung muncul di wajah Beni, "Oh, seperti itu."
"Bukan seperti itu." Sanggah Dion cepat.
"Hm? Emang kamu pikir seperti apa?"
"Yang penting bukan seperti yang kamu pikirkan."
Dion berjalan meninggalkan Beni. Beni dengan cepat mengambil langkah besar untuk berjalan sejajar dengan Dion.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Beni dengan penasaran.
Dion menggelengkan kepalanya, "Jangan tanya aku, aku tidak mengerti apa yang Putri bicarakan."
"Haha, segitu cintanya kamu sama dia. Bahkan saat dia ada di depanmu, kamu tidak akan fokus sehingga tidak mendengar apa yang dia ucapkan."
Tatapan tajam Dion langsung menusuk Beni. Dia memutar matanya dan merasa bodoh telah mengatakan hal tidak penting kepada Beni. "Aku tidak cinta sama dia." Kata Dion dengan tegas.
"Oh, lalu sayang?"
__ADS_1
"Diam, brengsek."