
"Seharusnya kamu tidak perlu membayar makanan kami." Ucap Vino tampak merasa bersalah.
Gina melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh, "Aku yang mengajak kalian keluar, jadi aku yang bertanggung jawab atas semua pengeluaran kalian. Tak perlu merasa tak enak seperti itu."
Mereka baru saja keluar dari Frisca Cafe dan berjalan menuju tempat parkir bersama. Gina menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap para teman sekolahnya untuk berkata, "Aku, Lila, dan Putri akan naik taksi, kalian naik motor kalian. Mari kita bersenang-senang di mal."
Lila langsung melangkah cepat meraih lengan kiri Bambang, memeluknya dengan erat. "Aku akan pergi bersama Bambang. Kalian berdua silakan naik taksi."
Bambang langsung gelisah, dia ingin menarik tangannya dari Lila namun gadis itu tak memberinya kesempatan untuk melakukan itu.
"Bang, kamu bahkan tak mau memberiku tumpangan?" Lila bertanya dengan mata terbuka lebar berkaca-kaca. Menatap Bambang dengan mata yang menyedihkan.
Bambang langsung menoleh, "Tidak apa-apa." Gumamnya kecil yang berhasil membuat senyum Lila mengembang.
Melihat pemandangan norak itu, Gina memutar matanya malas. "Ya sudah." Ucapnya sambil berdecak.
"Vino dan Fafa bawa motor juga, kalian berdua naik sama mereka saja daripada bayar taksi." Ucap Beni memberi saran yang masuk akal.
Namun saran itu sukses membuat Fafa melebarkan matanya. Dia sudah cukup sabar untuk membiarkan Lila numpang di motor Vino dan sekarang Putri dan Gina bahkan ingin bersama pacarnya. Fafa mengerutkan keningnya tak suka dan langsung membuka mulutnya. "Aku tidak terlalu lancar bawa motor. Bagaimana kalau aku bersama Vino, lalu Gina dan Putri bisa meminjam motorku?"
Gina mengangguk, "Kebetulan aku ingin sekali mencoba naik motor."
"Tidak, Gin." Putri langsung menarik tangan Gina yang ingin mengambil kunci motor Fafa. "Aku belum mau mati." Ucap Putri tampak waspada.
Walaupun Fafa yang merencanakan untuk membiarkan mereka membawa motornya, dia tetap saja tidak ingin motornya jatuh dan dirusak orang lain begitu saja. Tangannya yang baru saja terulur ingin menyerahkan kunci motor langsung berhenti dan segera menarik diri. "Kalian berdua tidak ada yang bisa bawa motor?"
"Uhuk uhuk," Beni langsung batuk membuat perhatian menuju kepadanya. Dia merangkul bahu Dion dan berkata dengan senyum jail, "Aku bisa bawa motor. Bagaimana kalau Dion bersama Putri dan aku akan meminjam motor Fafa bersama Gina?" Tawarnya dengan senyum yang membuat Dion ingin menonjoknya.
Hati Putri langsung retak, dia menatap Beni dengan pandangan tak percaya. Bukankah Beni menyukainya? Lalu kenapa dia membiarkan orang lain bersamanya, alih-alih menawarkan dirinya bersama dengan orang yang disukainya?
Dion juga merasa tidak nyaman, dia tahu pasti jika Putri menyukai Beni sehingga rasanya dia menjadi penghalang untuk perasaan orang lain.
Tatapan Putri dan Dion bertemu, seolah saling terhubung namun tak saling mengerti mereka segera membuang pandangan dan menghela napas.
"Aku sepertinya tidak bisa ikut, aku ada urusan—"
Beni dengan cepat memotong ucapan Dion, "Sssstt, sekali-sekali lah Dion. Kita harus membuat kenangan yang indah sebelum lulus bersama dengan yang lain. Benar kan?"
Yang lain secara otomatis mengangguk, kecuali Putri yang berharap Dion pergi saja jauh-jauh ke Kutub Utara atau Kutub Selatan. Dia merasa kasihan pada Beni yang menanggung perasaannya demi Dion. Merelakan orang yang disukainya demi persahabatan mereka. Sifat Beni seperti inilah yang membuat Putri semakin meleleh. Dia tidak salah telah menyukai Beni.
Dion menatap datar pada Beni dan akhirnya mengalah. Dia sama sekali tidak pandai berdebat dengan omong kosong Beni.
Akhirnya mereka berdelapan pergi berpasang-pasangan.
Lila dengan centilnya memeluk Bambang dari belakang, dia bahkan bersandar nyaman di pundak Bambang, membuat Bambang menjadi gugup dan cemas.
Beda dengan Putri yang duduk dengan mengambil jarak tanpa pegangan hingga membuatnya hampir jatuh. Saat Dion menyalakan motor dan mulai menarik gas, Putri langsung tersentak dan buru-buru merentangkan tangannya menggapai pinggang Dion. Itu membuat mereka berdua terkesiap tidak siap.
Putri dengan cepat menyesuaikan duduknya dan melepaskan tangannya dari pinggang Dion dan hanya memegang bajunya. Dia sangat malu dan tentu saja dia berpikir Dion pasti sangat senang. Putri menenangkan dirinya dan mencoba untuk berpikir positif. Menyenangkan hati orang lain itu perbuatan baik, ya sangat baik.
"Kamu sengaja menyatukan mereka?" Gina bertanya sambil melihat ke arah Dion dan Putri.
Beni terkekeh, dia juga mulai menjalankan motornya mengikuti yang lain. "Ya, semoga saja mereka bisa dekat."
Tentu saja Gina tidak memiliki pikiran sekecil Putri, dia tahu ramalan itu hanya bualan semata dan Beni sepertinya tidak memiliki perasaan apa pun kepada Putri. "Kenapa kamu melakukan ini?"
"Tidak kah mereka cocok?" Tanya Beni balik.
__ADS_1
Gina melirik kembali pada pasangan canggung itu dan ikut terkekeh, "Mereka cocok?"
"Ya," Beni mengangguk, "lagi pula Dion menyukai Putri. Jadi aku sebagai teman yang baik harus membantunya."
"Dan darimana kamu tahu Dion suka sama Putri?"
Beni mengangkat alisnya heran, "Bukannya Dion pernah menembak Putri?"
Gina terdiam. Bagus, kesalahpahaman ini semakin melebar.
"Lalu?" Tanya Gina kemudian.
"Dion pernah bilang sama aku, dia tidak akan pacaran selama SMA ini. Dia nembak Putri, bukankah itu artinya dia sangat menyukai Putri?" Jelas Beni tampak sangat masuk akal. "Lagi pula aku mengerti sifat Dion, dia pasti malu untuk mengatakan yang sebenarnya karena pernah mengatakan hal semacam itu padaku."
Tidak, kamu sama sekali tidak mengerti temanmu. Batin Gina.
Akhirnya mereka tiba ditujuan, mereka langsung turun dari motor dan segera masuk ke mal melihat barang-barang indah namun tak dapat dimiliki.
Gina tersenyum kecil ketika melihat mata teman-temannya bersinar ketika memasuki mal, "Ambil apa pun yang kalian inginkan, aku yang akan bayar."
"Kamu tidak bercanda, kan?" Tanya Fafa dengan pandangan aneh seolah baru menemukan spesies baru.
Gina mengangguk, "Aku serius." Ucapnya.
Dia kemudian melangkah menuju tangga berjalan, Putri dan Lila dengan cepat mengikuti. Mereka sudah sering pergi ke mal bersama-sama, dan itu selalu menjadi hal yang menyenangkan.
Mal selalu menjadi tempat yang ramai pengunjung, pilihan untuk membeli sesuatu, sekedar berjalan, atau mencari hiburan. Berbagai macam toko mereka lewatkan, sesekali mereka berhenti melangkah melihat-lihat dan memutuskan untuk membeli.
"Gin, lihat topi itu!" Seru Lila.
Gina mengikuti pandangan Lila dan mengangguk, dia memiliki hobi mengoleksi topi dan itu sudah diketahui Lila dan Putri.
"Kamu sudah punya banyak warna merah. Cari yang lain!" Ucap Lila tak setuju, lalu pandangannya tertuju pada sepasang topi yang berwarna hitam. Dia mengambil langsung dua topi tersebut dan segera memakaikan yang satu ke Bambang.
"Suka?" Dia bertanya sambil memakai satunya lagi ke kepalanya. "Topi pasangan. Nanti nama kita ditulis di bagian depannya. Um... jadinya BangLa. Wah, pasti imut!"
Bambang segera melepas topi itu dari kepalanya dan menggantungnya kembali, "Ti-tidak." Tolaknya.
Lila dengan lesu menggantung topi yang dikenakannya juga, "Ya sudah." Ucapnya.
Lalu pandangannya tertuju pada patung yang dipasang sebuah toko baju. "Bang, ayo ke sana cari baju pasangan!" Ucapnya semangat. Dia dengan antusias menarik lengan Bambang dan membawanya ke toko baju. Yang lain juga merasa tertarik dan mengikuti dari belakang.
"Hei, bukannya bagus jika kita semua punya baju yang sama. Baju persatuan gitu, jadi keren. Ya kan?" Ucap Lila antusias sambil mengambil salah satu baju yang digantung.
Beni juga mendukung, "Iya, jadi kalau ada acara sekolah, kita bisa pamer pakai baju persatuan kita."
"Benar! Mari kita beli baju yang sama, lalu nanti kita sablon nama." Balas Lila.
Putri mengangguk dengan pelan, "Aku pikir itu bagus." Ucapnya dengan perlahan.
"Ya sudah, cari saja baju yang ingin kalian beli. Aku yang bayar." Ucap Gina akhirnya.
"Tentu saja!" Lila dengan senang hati berkeliling toko mencari baju yang menarik perhatiannya namun tetap menyukai baju yang ada di tangannya.
Itu kaos polos berwarna kuning, Memiliki garis leher yang lebar dan lengan yang panjang. Kainnya halus dan nyaman disentuh, ini membuat Lila berpikir baju ini sangat cocok disablon dan akan terlihat bagus.
"Baju yang ini saja." Ucapnya akhirnya.
__ADS_1
Vino menatap Lila dengan aneh, "Kamu ingin kami memakai itu?"
"Tentu tidak!" Ucap Lila cepat. "Kalian carilah baju polos juga, nanti kita sablon menggunakan logo persatuan dan nama kita."
"Emang kita punya logo persatuan?" Beni sedang melihat-lihat baju dan langsung bertanya ketika telinganya mendapati keganjalan.
Lila langsung menepuk bahu Gina, "Serahkan semua kepada Nyonya Gina Gilawati."
Gina langsung menghempaskan tangan Lila, "Kamu yang gila!" Ucapnya. Dia pergi mengambil kaos merah gelap dalam sekali pilih tanpa basa basi.
Yang lain juga ikut mengambil baju polos dengan warna dan bentuk yang berbeda sesuai selera. Saat semua telah selesai, Gina langsung mengambil baju-baju mereka dan membayarnya tanpa menunggu protes yang lain.
Setelah mereka keluar dari toko baju, langkah mereka langsung menuju ke toko sepatu. Toko yang paling diminati setelah toko baju.
"Wah kebetulan aku ingin beli sepatu kets." Ucap Lila semangat. Dia kemudian pergi mencoba semua sepatu yang dilihatnya satu persatu.
Yang lain juga tidak ketinggalan untuk menjelajahi dunia sepatu.
"Ben," panggil Gina santai, "kamu punya adik, kan?"
Beni mengangguk membenarkan, "Iya, masih SMP. Tertarik?" Goda Beni.
Gina berdecak kesal, dia memutar matanya sebelum melanjutkan niatnya. "Berapa ukuran sepatunya? Cari dan dapatkan untuk dia."
Beni langsung melambaikan tangannya, "Kamu tak perlu membelikannya juga." Ucap Beni cepat.
"Tidak, kamu harus mengambilkan dia sepatu yang sama denganmu sesuai ukurannya. Aku memaksa." Tegas Gina sebelum pergi ke arah Lila dan Putri.
"Dia aneh bukan, On? Dari tadi memaksa kita untuk mengambil barang dan membayarnya. Kalau dia benar-benar suka anak-anak, aku dengan senang hati menyerahkan Beta padanya." Ucap Beni sambil menatap kepergian Gina dengan takjub.
Dion tanpa belas kasihan mendorong kepala Beni, "Buang pikiran gilamu." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan Beni sendirian.
Lila dan Putri sibuk mencari sepatu kets, namun tentu bukan berarti Putri tidak memperhatikan interaksi Gina dan Beni. Setiap waktu walau matanya selalu mengelak dari Beni, tetapi dia selalu mengawasi gerak geriknya diam-diam, dan memandangnya dalam sunyi.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Beni?" Tanya Putri langsung saat Gina baru saja datang.
Gina menaikkan bahunya acuh tak acuh, "Aku menyuruhnya mengambil sepatu untuk adiknya juga. Kamu juga Lila, carikan Toni sepatu."
"Ya mana tahu aku ukuran sepatunya." Ucap Lila sambil mendengus. "Entaran deh, aku samain dengan sepatu adiknya Beni. Kan seumuran juga kayaknya."
"Terserah Ibu Lila saja." Ucap Gina malas. Dia kemudian ikut memilih sepatu.
"Gin, jadi gimana kemarin?" Tanya Lila sambil berbisik pelan.
Gina mencoba salah satu sepatu dan menjawab ogah-ogahan. "Ya, gitu. Sekretaris ayahku sekarang bunda baruku."
"Terus gadis yang satunya siapa? Bunda barumu ada dua?" Tanya Putri juga.
Gina menatap datar Putri, "Saudara baruku."
"Eh, ayahmu menikah dengan janda, serasi dong. Kok kamu bete gitu? Padahal dulu bilang tidak masalah. Labil kamu." Lila menyenggol lengan Gina dengan jail.
"Bukannya tidak suka," ucap Gina, "aku hanya curiga."
Lila dan Putri langsung mengalihkan pandangan mereka ke Gina yang masih tampak acuh tak acuh pada apa pun.
"Curiga apa?" Tanya mereka berdua bersamaan.
__ADS_1
"Aku curiga gadis itu anak ayahku." Jawab Gina. Pandangannya lurus ke sepatu yang dicobanya namun pikirannya melayang tak terhingga.