Salah Paham

Salah Paham
Wanita


__ADS_3

Setelah itu, hubungan kedelapan pemuda dan pemudi itu semakin dekat. Misalnya jika mereka tanpa sengaja bertemu di sekolah, mereka akan tersenyum dan saling menyapa. Tentu tindakan ini mengecualikan hubungan antara Dion dan Putri yang masih diselubungi salah paham dan antara Lila dan Fafa yang entah kenapa tiba-tiba terjadi perang hangat.


Mari kita bahas tentang yang kedua dulu, karena tentu alasan dan penyebab hubungan Dion dan Putri yang absurd sudah diketahui. Kalau bicara soal Lila dan Fafa, itu hanyalah perang batin wanita. Tersenyum di luar, tapi di dalam hati saling membenci.


Kenapa Lila tidak menyukai Fafa?


"Itu karena aku merasa dia menjengkelkan. Saat melihatnya tersenyum, entah mengapa aku merasa kesal. Itu adalah perasaan murni dalam hatiku, aku tidak bisa berpura-pura menyukai seseorang. Jika aku tidak menyukainya, orang lain pasti akan langsung mengetahuinya." Jelas Lila pada Gina dan Putri.


Saat ini mereka bertiga duduk di sudut kelas seperti biasanya. Setelah makan di kantin, hal yang mereka lakukan selanjutnya tentu saja bergosip atau curhat tentang sesuatu yang mereka benci atau sukai.


Di kelas sangat panas, walau kipas angin kincir telah berputar sedari tadi untuk memberi kesan kesejukan, tapi di beberapa tempat yang tidak terjangkau masih merasakan panasnya siang hari.


Namun tentu saja, suhu yang tinggi tidak akan menghalangi ketiga gadis itu untuk duduk di sudut kelas sambil mengobrol dengan santai.


Dua kancing baju atas seragam Gina dilepas dengan sengaja, membiarkan orang-orang melihat kaos coklat yang berada dibalik seragamnya. Dengan sikap malasnya, dia memakan cemilan sambil memutar matanya, "Itu karena kamu cembur Fafa bisa dapatin Vino yang keren. Sedangkan kamu," tatapannya jatuh ke Lila dengan merendahkan. "bahkan tanpa malu terus menggoda Bambang."


"Apa yang kamu katakan? Itu bukan menggoda, tapi pendekatan! Ingat itu, pendekatan!" Elak Lila, kata-katanya diucapkan dengan tegas membuat Gina mendengus.


Gina menguap lebar, dia menyandarkan punggungnya ke dinding. "Oh, terus kenapa kamu tidak suka Fafa tersenyum? Apa kamu memiliki phobia terhadap senyum?"


Lila langsung membantah gagasan tersebut, "Tentu tidak!"


"Oh, kalau begitu kenapa?"


"Kamu tahu, saat kamu nonton drama, tanpa alasan kamu akan langsung mengetahui yang mana protagonis dan antagonis. Saat aku melihat Fafa, saat itu aku memiliki firasat dia adalah antagonis. Firasat seperti itu tidak boleh diabaikan." Lila berbicara dengan serius, dia tidak bercanda dalam kata-katanya kali ini.


Waktu itu, saat dia melihat Fafa di rumah Gina, dia memiliki kesan buruk terhadapnya. Walau Fafa sering tersenyum ketika orang lain berbicara padanya, itu tidak membuat Lila akan mengabaikan sikapnya yang sinis ketika orang lain tidak memperhatikannya.


Mungkin Fafa tidak menyadarinya, tapi Lila sangat suka mengamati orang lain. Jadi saat orang lain sibuk untuk mengobrol dan berbincang, Lila satu-satunya yang melihat wajah asli Fafa. Dan Lila sangat yakin jika wajah itu hanya dimiliki oleh peran antagonis!


"Put, kenapa kamu tidak bicara?" Tanya Gina, dia menyenggol tangan Putri dengan lututnya.


Putri tersentak, dia mengerjap mata dengan bingung. "Hah? Kenapa?"


Lila melotot marah, "Kamu tidak mendengar ucapanku dari tadi?"

__ADS_1


"Emang kamu bilang apa tadi?" Tanya Putri dengan ekspresi polos, menyakinkan Gina dan Lila jika dia dari tadi tidak mempedulikan percakapan mereka.


Gina mendengus, "Menurutmu, Fafa gimana?"


Putri mengerutkan keningnya bingung, dia menatap Gina dan Lila secara bergantian. "Dia cantik." Jawabnya jujur.


Lila dan Gina langsung berdiri dan pergi ke bangku masing-masing. Tidak peduli dengan Putri yang dilanda kebingungan.


"Hei, ada apa sih?" Teriaknya pada kedua sahabatnya itu.


"Tidak ada, bel masuk sudah bunyi." Jawab Gina secara acak.


Lila juga mengangguk, "Kembali ke bangkumu."


Dengan begitu, Putri yang polos dan lugu tidak lagi bertanya dan kembali ke bangkunya.


Saat dia sudah duduk di bangkunya sendiri, dia kembali melamun tanpa memedulikan sekitarnya.


Itu karena tadi malam Beni mengirim pesan pribadi padanya dan itu membuatnya linglung semalaman. Dia terus mencari kata-kata yang pas untuk membalas sapaan Beni, mengetik dan menghapus berulang kali. Sampai akhirnya dia tertidur dan tidak membalasnya.


Bagaimana kalau Beni mengira Putri tidak menyukainya? Mata Putri melebar ketakutan. Itu akan membuat Beni menyerahkan perasaannya dan membiarkan sahabatnya, Dion, yang maju untuk mendapatkan Putri.


Walau Dion memiliki roti sobek, tapi hati Putri mentok pada Beni!


Di kelas lain, kelas XII IPA 5, Beni baru saja kembali ke kelasnya dari mengurus urusan sekolah yang tidak ingin dia bahas pada orang lain. Cukup di ruang OSIS dia membahas itu.


Dion masih duduk di bangkunya dari pagi saat datang ke kelas sampai saat ini, dan belum pindah sama sekali. Tangannya memegang pensil dan matanya lurus di kotak-kotak persegi yang ada di buku di atas mejanya. Dia sedang menjawab teka-teki silang, sehingga dia tidak peduli dengan wajah suram Beni.


Beni duduk di hadapan Dion, memutar tubuhnya ke arah sahabatnya itu. Wajahnya lesu, nada bicaranya juga ikut melemah. "Jangan tanya tentang rapat OSIS kali ini. Aku tidak akan memberitahumu jika aku kesal dengan anak kelas dua itu, sok pintar bangat. Banyak ngeluhnya, tapi bukti kerjanya tidak ada. Kemarin giliran bidang tiga untuk mengadakan pemeriksaan. Dan kamu tahu, mereka membebaskan beberapa murid yang membawa rokok dan macis! Itu membuat murid-murid lain mengeluh dan mengatakan ini tidak adil. Aku mencari anak-anak bidang tiga, dan apakah kamu tahu apa yang mereka katakan?"


Dion mengangkat kepalanya, dia menaikan alisnya, bertanya dengan penasaran. "Apa yang mereka katakan?"


Beni menjawab dengan menggebu-gebu. "Mereka menjawab, 'mau bagaimana lagi, dunia memang tidak adil, jadi biasakan dirimu'. Aku langsung ingin melempar meja ke muka anak itu! Kurang hajar."


"Kata-kata itu sepertinya tidak asing." Ucap Dion dengan kening yang berkerut, berpikir keras.

__ADS_1


Beni mengangguk, "Benar, jika kamu merasa ini tidak asing maka selamat. Berarti masa kecilmu menyenangkan."


"... Tolong bicara menggunakan bahasa manusia."


"Maksudku itu kata-kata dari Patrick Star. Saat anak kurang hajar itu menjawab seperti itu, anak-anak OSIS di ruangan itu langsung tertawa, membuatku semakin kesal! Dan kamu tahu yang lebih buruknya,"


"Apa?" Tanya Dion mengikuti alur pembicaraan.


"Aku juga ikut tertawa!"


"..." Dion terdiam tanpa bisa berkata-kata, wajah tanpa ekspresinya menatap Beni dengan pandangan merendahkan. "Mati sana." Dion langsung kembali fokus pada buku teka-teki silang yang ada di atas mejanya.


"Hei, On, aku hanya tidak dapat menahannya. Maksudku, itu sangat lucu. Kamu tahu kan, kata-kata itu benar-benar membuat orang tidak bisa berkata-kata. Apalagi anak itu mengatakan dengan nada yang mirip seperti Patrick. Jika kamu mendengarnya, kamu pasti tidak akan bisa menahan tawamu."


Dion mengabaikan ucapan Beni, terus menulis jawabannya di kotak-kotak jawaban. Mengisolasi dunia luar, seolah dia saat ini sedang sendiri dan tidak mendengar apapun.


"Oh, iya Oon. Semalam aku mengirim pesan ke Putri, secara pribadi." Cerita Beni saat tiba-tiba mengingat gadis incaran sahabatnya.


Dion masih tak peduli, diam berpikir mencari jawaban teka teki silang.


Suara Beni merendah, "Tapi dia mengabaikan pesanku. Dia tidak membalasnya."


"Dia tidak membalas pesanmu?" Dion langsung bertanya dengan heran.


Beni terkekeh, "Lihatlah, saat aku membahas Putri, kamu langsung meresponku. Apa kamu segitu sukanya sama dia?"


Dion berdecak malas, dia mengabaikan godaan Beni dan kembali bertanya. "Jawab saja, dia benar-benar mengabaikan pesanmu?"


"Iya, tadi malam aku menyapanya. Dia saat itu aktif dan sudah membacanya. Tapi setelah beberapa jam, aku benar-benar diabaikan!"


Dion diam-diam mengerutkan keningnya. Bukankah waktu itu Putri mengatakan padanya jika dia menyukai Beni, lalu kenapa dia mengabaikan pesan orang yang dia suka?


"Kenapa dia mengabaikan pesanku? Ah benar saja, cuman Dian yang baik padaku. Cuman Dian yang tidak akan mengabaikan pesanku."


Setelah mengatakan itu, Beni mengambil ponselnya dan menelpon pacarnya. Semua pembahasan obrolannya hanyalah tentang curhatnya dari rapat OSIS sampai pesannya diabaikan. Dan pacarnya itu  mendengarkan dengan sabar dan kadang menghiburnya.

__ADS_1


Dion sama sekali tidak peduli, dia tidak mengerti pikiran seorang wanita, apalagi Putri. Apa yang membuat seorang wanita mengabaikan pesan dari orang yang disukainya? Dion tidak tahu, dia bukan wanita.


__ADS_2