
Gina berdiri diam di depan pintu rumahnya, dia berpikir sebentar dan mengeluarkan ponselnya. Ada puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari ayahnya. Dia menghapus notifikasi serta pesan-pesan tersebut bahkan sebelum membacanya. Pikirnya itu sangat tak penting.
Dengan pikiran yang santai dan tanpa beban, Gina mendorong pintu rumah. Dia melangkah masuk dengan sembrono menuju tangga lantai dua seperti hari-hari biasanya. Dia seolah tidak melihat tiga orang telah duduk di sofa yang menunggunya sedari tadi.
"Gina, datang dan duduk di sini." Suara ayahnya menghentikan langkah kaki Gina.
Gina menoleh acuh tak acuh, melihat ekspresi dari setiap tiga orang tersebut. Sinta memasang ekspresi menyedihkan, dengan air mata mengenang di matanya. Lalu dia melihat Riska yang kini sedang memerankan karakter ibu baik hati yang mengelus pundak Sinta seolah sedang menenangkannya. Terakhir dia melihat ke ayahnya, ayahnya memasang ekspresi tegas, tampak seperti biasa, namun dengan sedikit amarah dan ketidakberdayaan di dalamnya.
"Aku ngantuk, mau tidur cepat." Gina berkata dengan pelan, dia menurunkan pandangannya, beberapa detik kemudian lanjut menaiki tangga tanpa menunggu persetujuan dari orang lain.
"Ada apa denganmu, Gina? Kenapa kamu seperti ini?" Pertanyaan dari ayahnya menghentikan langkah kaki Gina kembali.
Dia berpegang pada pagar di sisi tangga, matanya sedu, melihat ke arah ayahnya yang tampak sangat menghakiminya. Memang benar dia salah, tapi dia tidak ingin ayahnya menyalahkannya. Dia tidak ingin ayahnya membela gadis lain, sangat egois, tapi dia hanya ingin pengakuan.
__ADS_1
"Aku seperti apa maksud Ayah? Aku tidak paham," kata Gina.
Ayah menunjuk ke arah Sinta yang kini sedang menangis. "Kenapa kamu mengunci adikmu di WC sekolah?"
Gina mengikuti arah ayahnya dan melihat Sinta yang semakin membuat-buat kesedihannya, membuat Gina menjadi jijik. "Dia yang datang padaku, jika dia tidak ingin diganggu, maka menjauhlah dariku."
"Dia sekarang saudaramu, kamu harus memperlakukannya dengan baik," kata ayah mengingatkan Gina.
"Gina!" tegur Ayah.
Gina mengerutkan keningnya, "Ayah marah padaku?" tanyanya tak mengerti. "Jika ayah sangat mencintai keluarga baru ayah, maka jangan pedulikan aku mulai sekarang. Bukankah dari dulu ayah selalu begitu, abaikan saja aku."
Setelah itu, dia berhenti peduli dengan yang lainnya dan berjalan cepat menuju kamarnya.
__ADS_1
Tiga orang di ruang keluarga saling memandang dan memiliki perasaan berkecamuk yang berbeda.
Gina mehempaskan dirinya di atas tempat tidur. Dia terkekeh lucu, mengingat kata-kata yang baru saja dia katakan sangat dramatis dan naif. Jika Lila dan Putri mendengarnya, mereka pasti akan tertawa terbahak-bahak untuk mengejeknya.
Sekarang Gina merasa menyesal tidak singgah di minimarket untuk membeli cemilan ketika pulang tadi, dia ingin sekali mengunyah sesuatu saat ini.
Seketika dia mengingat bahwa dia memiliki cemilan. Dia meraih tas sekolahnya, meraba isinya dan menemukan cokelat murahan pemberian bocah SMP itu. Dia memutar-mutar kemasan, membaca dengan gabut tulisan komposisi yang tertera, kemudian membukanya dan menggigit cokelat tersebut.
Ini adalah cokelat murahan namun rasanya tidak kalah enak dari coklat lainnya. Gina melihat merk kemasan dan ingat untuk membelinya kapan-kapan.
Setelah menghabiskan cokelat tersebut, Gina menghela napas, dia mengganti seragam sekolahnya dengan lambat ditemani rasa malas, dan kembali merobohkan dirinya di tempat tidur.
Ada suara ketukan di pintu kamarnya, tetapi tak dihiraukan olehnya. Gina menutup matanya pura-pura telah tertidur nyenyak hingga akhirnya dia benar-benar tertidur tanpa disadarinya.
__ADS_1