Salah Paham

Salah Paham
Adik Kelas Tipe Berandalan


__ADS_3

Lila melangkahkan kakinya dengan berat masuk ke dalam pintu gerbang. Karena ini adalah hari pertama sekolah setelah libur panjang, menimbulkan efek gangguan tidur yang cukup serius. Dia yang sudah mengembangkan kebiasaan bangun jam 9, kini harus kembali menata jam bangun paginya untuk kepentingan sekolah. Ini cukup mengganggunya.


"Kak!"


Lila menghentikan langkahnya, dia dengan cemberut menoleh ke arah suara. Rasa ngantuknya membuat pikirannya lambat untuk memproses segala hal. Sehingga dia hanya diam menatap sang pemanggil dalam beberapa detik sebelum kembali pada kesadarannya.


Wajahnya langsung ceria, bibirnya yang cemberut langsung membentuk senyum manis. Dia memandang adik kelas yang sedang menunggu responnya. "Bicara padaku?" Tanya Lila dengan suara manis.


Adik kelas itu membalas senyum Lila, dia mengenakan seragam putih abu-abu yang bersih cemerlang seolah memberitahu semua orang jika itu baru saja dibeli.


"Dimana letak kantin?" Tanya adik kelas itu sambil menoleh sekeliling mencari tanda-tanda kehidupan kantin di sekolah ini.


Lila sedikit terkejut ketika mendengar pertanyaan itu. Dia mengamati penampilan adik kelasnya itu dan mengerti. Baju baru, celana baru, dasi baru, topi baru, sepatu baru, wajah baru, tapi semuanya tak teratur dengan rapi. Baju dimasukkan secara acak ke dalam celana, dasi hanya di gantung di leher tanpa di ikat, dan melihat ke bawah pada sepatu hitamnya menyembunyikan kaos kaki biru yang hampir tak terlihat, ditambah dengan wajah yang memiliki bekas luka. Jelas ini adalah tipe calon siswa pemberontak.


Lila sering mendapati tipe pemuda seperti ini di drama, memiliki wajah rupawan walau dipenuhi dengan bekas luka dimana-mana, kelakuan diluar norma dan seringkali membuat kegaduhan. Yang lebih penting karakter seperti ini selalu bermuka dua! Menggunakan wajahnya yang tampan untuk menipu. Ini adalah karakter yang Lila tidak sukai di serial drama karena selalu bertindak semaunya dan berpikir dunia miliknya.


"Kak, kantin ada dimana?" Adik kelas itu melambaikan tangannya di depan wajah Lila dengan kurang ajarnya.


Lila tersentak kaget, berbeda dengan pikirannya, wajahnya berseri-seri. Bodoh amat dengan sifat yang nakal dan berkuasanya, selama dia tampan, maka itu tak masalah bagi Lila. "Belum ada apa-apa di kantin saat ini kecuali minuman, kalau kamu mau makan, maka kamu belum beruntung."


Adik kelas itu mengangguk mengerti, "Oke makasih, Kak."


Setelah itu, dia berjalan dengan santai keluar gerbang tanpa beban seolah hal yang dia lakukan itu bukanlah pelanggaran.


"Ada berita panas!" Lila memukul meja Putri dengan semangat ketika baru saja masuk ke kelas.


Putri tersentak kaget, "Berita apa?"

__ADS_1


"Gin, kemari!" Panggil Lila sambil memberi isyarat pada Gina dengan tangannya.


Gina yang masih mengantuk berjalan malas ke meja Putri, "Berita apaan? Awas kalau tidak penting!"


Lila tersenyum lebar, "Adik kelas tahun ini ada yang tampan! Gila, bukan tampan lagi. Tapi sangat tampaaan!"


Gina dan Putri langsung menajamkan telinga mereka, antusias dengan informasi yang diberikan Lila.


"Siapa namanya?" Tanya Putri cepat.


Lila menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu. Tapi dia sangat menarik."


Putri dan Gina awalnya mendesah kecewa dengan jawaban Lila, tapi setelah mendengar kata menarik, mereka kembali memasang wajah tertarik.


"Apanya yang menarik?" Tanya Gina dengan selidik.


Gina dan Putri semakin penasaran, mereka menunggu kelanjutan cerita Lila dengan harapan tinggi.


"Ini adalah tipe berandalan dengan wajah tampan. Aku bisa bertaruh jika cowok ini akan menjadi terkenal dan paling sering masuk ke kantor karena masalah." Lila menyampaikan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya dengan bergebu-gebu, seolah menceritakan penemuannya pada barang langka.


Jari telunjuk Gina mengetuk meja dengan ringan, dia mulai membayangkan tipe berandalan yang dikatakan Lila dan merasa tertarik. Ini jelas karakter yang sering muncul dalam cerita-cerita novel!


"Bagaimana kamu tahu dia tipe seperti itu?"


Lila membuka matanya dengan lebar, semangatnya terpacu kuat. "Kalian harus lihat penampilannya! Wajahnya memiliki bekas luka, pakaiannya berantakan, dan tindakannya yang kurang hajar. Tadi saat aku baru masuk gerbang, dia bertanya padaku letak kantin. Aku mengatakan dia tidak dapat menemukan makanan di kantin pagi-pagi. Dia mengangguk padaku dan pergi keluar gerbang. Coba katakan padaku tipe apa lagi ini kalau bukan tipe berandalan yang keren!"


Putri mendesah kesal, "Aku ingin tau namanya. Dia terdengar menarik."

__ADS_1


Gina dan Lila juga memasang wajah yang sama, karakter seperti itu pastinya sangat menjengkelkan, tapi itu berbeda jika disertai dengan wajah tampan. Ketampanan seorang pria seperti bug di dunia, apapun yang mereka lakukan akan dibenarkan. Tidak perlu takut tidak dapat menemukan teman karena karakter yang buruk, dengan wajah tampan maka teman dan wanita akan datang padanya!


"Menurutmu, anak baru itu lebih tampan atau Bambang?" Tanya Gina dengan penuh minat.


Putri juga menatap Lila menunggu jawabannya.


"Em..." Lila berpikir dengan keras, namun dalam hal penampilan dia harus memenangkan adik kelas itu karena memiliki penampilan yang keren dan mendominasi, tapi—


Lila berbalik dan tersentak ketika melihat Bambang berdiri di belakangnya. Sejak kapan itu? Kenapa dia tidak menyadarinya?


Bambang melihat Lila sekilas, langsung menurunkan pandangannya dan lanjut berjalan ke bangku belakang.


"Tentu saja mereka dua hal yang berbeda!" Jawab Lila dengan gugup, dia khawatir Bambang mendengar ucapannya sedari tadi.


Gina tersenyum geli, "Katakan saja, anak baru itu atau Bambang yang lebih tampan?"


Lila melotot marah, "Itu sama saja kamu bertanya mana yang lebih manis, coklat atau kecap? Itu dua hal yang berbeda tidak bisa dibandingkan. Begitu juga dengan adik kelas itu dan Bambang, adik kelas itu menang di penampilan kerennya yang berandalan. Tapi tentu Bambang pemenang pada penampilan manis, rapi, dan bersih. Jangan membandingkan hal yang tak bisa dibanding!" Ujar Lila kesal.


Gina memutar matanya dan kembali duduk di kursinya. Dia melirik pada Bambang sekilas, sebelum merebahkan kepalanya ke atas meja. Memejamkan matanya, melanjutkan tidurnya yang terganggu.


Lila melihat sekeliling kelas, "Ini kelas baru kan? Tapi, kenapa tidak ada perubahan tempat duduk?"


Putri mengangkat bahunya, "Jangan tanya aku, mereka mengatakan tak ada perubahan, dan aku tidak akan membuat perubahan. Kenapa kamu begitu merepotkan?"


Lila mendengus, dia sudah berencana untuk duduk di sebelah Bambang saat kenaikan kelas, tapi itu sudah gagal sebelum dia memulai rencananya.


Dia melempar tasnya ke atas mejanya dengan kesal, dengan enggan duduk di bangkunya. Dia awalnya berpikir dia beruntung hari ini karena dapat bertemu dengan adik kelas yang keren pada awal masuk sekolah, tak disangkah keberuntungannya tak sampai untuk memenangkan bangku di sebelah Bambang.

__ADS_1


__ADS_2