
Putri membuka pintu rumahnya dan melihat Gina berdiri di luar dengan tampang malasnya.
"Lama." Keluh Gina yang melangkah masuk dengan santai.
Putri membuka jalan untuk Gina dan terkekeh singkat. "Aku tadi di dapur jadi tidak dengar suaramu. Btw, kamu diijinin nginap sama ayahmu?"
Gina menggelengkan kepalanya, "Tidak."
Dia melempar tasnya ke sofa dan duduk dengan nyaman sambil menyalahkan televisi.
"Terus kenapa tubuhmu bisa ada disini?" Tanya Putri tidak mengerti.
Gina seketika menoleh, wajahnya menampakan senyum geli. "Ini disebut pemberontakan anak muda."
Putri langsung mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel ayah Gina dari kontak ponselnya.
Dengan cepat, Gina merebut ponsel Putri, menyembunyikannya di belakang tubuhnya. "Kamu mau telpon siapa?"
"Ayahmu, jangan buat masalah untukku!" Seru Putri kesal.
Gina tertawa kecil, "Tenang saja, aku hanya bercanda. Ayahku sudah tahu, jika tidak, dia mungkin kemari saat ini."
Putri mengangguk membenarkan ucapan Gina, dengan sifat protektif ayah Gina, dia pasti akan menghubungi Putri atau Lila segera saat mengetahui Gina hilang dari rumah.
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu kembali terdengar, Putri berteriak dengan malas pada orang dibalik pintu. "Masuk aja, pintu tidak dikunci."
Pintu terbuka, dan wajah gelap Lila muncul dengan aura menyeramkan. Dia melangkah masuk, dan kembali menutup pintu. Berjalan ke arah Gina dan Putri dengan gaya zombi, tampak belum diberi makan selama seminggu.
"Kamu kenapa?" Tanya Putri sambil terkekeh.
Gina juga ikut terkekeh, dia menarik Lila untuk duduk di sampingnya dan memperhatikan wajah berantakan sahabatnya itu.
"Aku sedih." Jawab Lila dengan suara serak.
Putri dan Gina saling memandang dengan geli lalu kembali menoleh ke Lila. "Kenapa lagi?"
Lila mengeluarkan ponselnya dan melemparkannya ke meja, dia menunjuk dengan ngeri ke arah ponselnya. "Aku baru saja selesai nonton drama." Ucapnya ngeri.
"Terus?" Tanya Gina dengan datar.
"Aku terkena second lead syndrome! Kenapa? Kenapa? Second lead kalah dari first lead?" Lila berulang kali menoleh ke Gina dan Putri, bertanya dengan frustasi.
Gina dan Putri berdecak kesal, mereka pikir ada masalah yang menyenangkan terjadi pada Lila, ternyata ini hanyalah fase setelah menonton drama.
Gina memasang wajah tanpa ekspresinya. "Jelas karakter utama pria selalu memiliki kekuatan yang besar untuk dapat mengalahkan karakter kedua pria. Kenapa masih di pertanyakan?"
Lila menggelengkan kepalanya tidak terima, "Jelas itu salah! Karakter utama pria pertama selalu bertindak cuek kepada karakter utama wanita, dia bersikap seolah dia pria yang paling sempurna. Sedangkan karakter utama pria kedua selalu ada dan membantu karakter utama wanita, mengapa mereka tidak bersama? Kenapa karakter utama wanita memilih karakter utama pria pertama? Apa karakter wanita itu masokis?"
Putri menepuk bahu Lila dengan pelan, "Kamu tahu, second lead sering memiliki nasib akhir yang begitu sial."
Gina juga mengangguk setuju, "Ya, mereka ditakdirkan sial. Hanya menjadi konflik cerita dan berakhir dengan tersakiti."
"Tapi itu jelas tak masuk akal." Gerutu Lila.
Gina memukul kepala Lila dengan kesal. "Kamu lah yang tak masuk akal, mencari logika dalam sebuah serial drama. Kamu gila?"
Lila tak terima dan membantah, "Ini jelas bukan drama fantasi, harus mengikuti logika!"
"Lalu bisakah kamu jelaskan kenapa saat peran utama wanita jatuh, peran utama pria yang kebetulan menangkapnya? Kenapa saat peran antagonis menampar peran utama wanita, peran utama pria yang mencegahnya? Kenapa saat peran utama pria sakit, peran utama wanita yang merawatnya? Kebetulan macam apa itu? Logika apa yang bisa masuk dalam hal seperti itu. Bisakah Bambang datang saat ini saat aku akan menamparmu?"
Lila mengerucutkan bibirnya, "Itulah yang disebut cinta. Kamu akan merasa sakit ketika orang yang kamu cintai sakit, kamu akan merasa menderita, saat orang yang kamu cintai menderita. Kalau kamu ingin mengerti, maka belajarlah untuk jatuh cinta."
Kali ini Putri mendukung Lila, "Benar, seperti saat aku terlambat, Beni kebetulan terlambat. Saat aku di lapangan, Beni kebetulan di lapangan. Inilah plot untuk mendekatkanku dengan Beni. Tanpa plot ini, cerita tak akan berkembang."
Lila tiba-tiba semangat, "Lalu apa kalian ingat kemarin? Saat aku sakit dan lemah, Bambang datang! Bukankah itu yang dinamakan takdir? Tak perlu logika untuk cinta. Semua hanya membutuhkan intuisi dan perasan."
Gina menekan-nekan nomor di remot untuk mencari saluran televisi yang menarik untuknya. "Nah kamu mengerti itu, lalu seharusnya kamu juga mengerti kenapa karakter utama wanita memilih karakter utama pria pertama, itu karena cinta. Tak perlu logika untuk itu." Ucap Gina dengan malas, mengembalikan kata-kata Lila.
__ADS_1
Tetap Lila tak menerimanya, hatinya ikut sakit saat karakter yang disukainya tersakiti. "Kenapa orang baik selalu tersakiti?"
"Karena orang baik tak bisa menyakiti." Jawab Gina malas.
Putri bertepuk tangan untuk jawaban Gina, "Udah berpengalaman ya tersakiti?" Tanya Putri dengan geli pada Gina.
Gina menggelengkan kepalanya membantah, "Bukan itu, tapi udah berpengalaman menyakiti."
"Antagonis!" Seru Lila mendelik pada Gina.
Gina mengabaikannya, dan malah menoleh ke Putri. "Yang tadi pagi kamu bilang itu benar?" Tanyanya menyelidiki.
Putri mengerutkan keningnya tak mengerti, "Yang mana?"
"Belajar kelompok."
Mata Putri langsung cemerlang, dia mengangguk antusias. "Itu benar!"
Dia mengambil ponselnya dari tangan Gina dan menunjukkan nomor Beni yang didapatnya kemarin. "Ini nomor Beni."
Gina mengambil ponsel Putri kembali dan langsung menekan simbol memanggil.
Putri melotot tak percaya, dia merebut ponselnya dengan gerakan cepat. "Kamu gila!"
"Hah? Apa?" Suara terkejut seorang pemuda terdengar dari ponsel Putri.
Tangan Putri gemetar, menatap Gina dengan ngeri. Kata-kata umpatan yang diucapkan untuk Gina barusan terdengar jelas oleh orang di seberang telepon sana.
Gina dengan tenang mengambil kembali ponsel Putri saat pemiliknya masih membeku tak percaya. "Ini Beni?"
"Iya, ini Putri?"
"Bukan, ini Gina. Kamu kenal?"
"Iya, temannya Putri kan?"
Gina mengangkat alisnya, "Bukan, tapi temannya Lila."
Di telepon, Beni juga terkekeh. "Haha, lalu ada apa?"
"Hanya mau tanya tentang belajar kelompok." Jawab Gina dengan asal.
"Iya, kamu keberatan?"
"Bukan itu, hanya saja aku mau tanya siapa teman-temanmu yang akan kamu ajak belajar kelompok. Jujur, aku tak suka terlalu banyak orang asing."
Putri melotot marah pada Gina, "Jangan bicara asal!" Gumamnya berbisik saat memberi peringatan.
"Kamu kenal Dion?" Tanya Beni.
Gina melirik ke arah Putri yang menggelengkan kepala cepat, mengarahkan Gina untuk mengatakan tidak mengenalnya dan meminta agar Dion tidak bergabung. Tapi Gina hanya tersenyum kecil dan berkata, "Tentu saja, aku bahkan sudah bosan melihatnya."
Beni tertawa keras, "Ngomong-ngomong Dion ada di sampingku, dia mendengar ucapanmu."
"Itu bagus, katakan padanya untuk jangan menyerah, aku mendukungnya dengan Putri." Ucap Gina dengan geli. Dia melihat ke arah Putri yang sudah memerah oleh amarah.
"Aku sudah mengatakan itu padanya berulang kali."
"Enyahlah!" Suara Dion terdengar, yang disertai oleh tawa keras Beni.
"Jadi Dion juga ikut belajar kelompok?" Tanya Gina kembali ke topik utama.
"Ya, aku memiliki dua orang teman lagi. Apa tak masalah dengan itu?"
"Tergantung siapa mereka." Jawab Gina acuh tak acuh.
"Kamu pasti mengenal mereka. Dia Fafa dan Vino."
Gina mengerutkan keningnya, "Siapa mereka?"
__ADS_1
"..." Beni terdiam di seberang sana. "Kamu sungguh tak mengenal mereka?"
Lila mendorong kepala Gina dengan keras. "Ini Vino! Cowok terkeren di sekolah kita! Kamu tak kenal dia? Jangan gila deh Gin!" Seru Lila dengan antusias.
"Haha, sepertinya temanmu kenal. Tapi aku tak berharap hanya kerennya saja yang terkenal."
Gina memutar ingatannya dan sepertinya memang pernah mendengar nama Vino beberapa kali dari mulut Lila. "Lalu kamu kenal Fafa?" Pertanyaan itu ditujukan pada Lila.
Lila berubah tak semangat, "Siapa lagi dia kalau bukan pacar Vino. Rata-rata cowok tampan kalau bukan sudah punya pacar, pasti gay."
Gina kembali berbicara pada Beni, "Jadi kamu berniat mengajak orang pacaran ke kelompok belajar kita? Tidak, makasih. Sepertinya kami bertiga tidak bisa gabung." Ujar Gina dengan dingin. Lila mengangguk setuju, sedangkan Putri menarik lengan Gina dengan frustasi, berteriak tanpa suara.
"Tidak, tidak. Jelas kamu tidak mengenal mereka. Vino itu pemenang olimpiade Fisika tahun lalu tingkat provinsi, lalu Fafa itu pandai Matematika. Kamu jelas pernah mendengar namanya disanjung-sanjung oleh Bu Ratna."
Gina langsung mengerti. "Oh, Fafa ini Fadila blablabla itu?"
"Fadila Putri Ramadhan." Koreksi Beni.
Gina bergumam malas, "Lalu kalau begitu apa spesialismu?"
Beni terdiam sebentar, lalu menjawab dengan semangat. "Aku jelas Kimia!"
"Kamu bercanda?" Suara Dion yang mengejek terdengar kembali.
"Haha, aku bercanda. Yang pandai dalam Kimia jelas Dion, haha aku hanya pandai di bidang olahraga. Bagaimana dengan kalian?"
Gina melirik Putri dan Lila, lalu menghela napas. "Putri pelajaran Bahasa Inggris dan Lila pelajaran Biologi."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku jelas Bahasa Indonesia!"
"..."
"Kenapa? Pelajaran Bahasa Indonesia juga cukup sulit." Jelasnya saat dia melihat kedua sahabatnya menatapnya datar dan ponsel di tangannya menjadi hening.
"Haha, tidak ada masalah. Jadi, bagaimana dengan lokasi belajar?"
"Rumahku." Jawab Gina tegas.
"Kenapa di rumahmu? Di kafe atau di taman cukup bagus."
"Rumahku besar, nyaman, dan luas. Banyak makanan ringan di rumahku dan banyak buku pelajaran. Rumahku bersih dan sepi, tak akan ada yang mengganggu kita."
"Wow, kamu orang kaya?"
"Um. Kirim nomornya Dion dan dua temanmu itu. Aku akan membuat obrolan grup di WhatsApp."
"Oke, aku kirim dimana?"
"Di nomor ini. Sudah dulu, nanti lanjut di obrolan grup."
Sebelum Beni menjawab, Gina sudah memutuskan panggilan. Dia mengembalikan ponsel Putri dan kembali menonton televisi seolah tak ada yang terjadi.
Putri langsung menerjang ke arah Gina, "Kamu menyebalkan!"
Gina menghindar dan tertawa terbahak-bahak. "Kenapa? Aku hanya ingin membantumu."
"Bantu palamu! Ini sama saja kamu mendorongku ke jurang. Dan juga siapa yang pintar Bahasa Inggris? Kamu ingin membunuhku?"
Lila juga melotot marah pada Gina, "Iya, sejak kapan aku mengerti pelajaran Biologi? Jangankan mengerti, suka aja tidak!"
Gina menjauh dari kedua sahabatnya yang tengah berada di kondisi buas. Dia menunjuk dirinya sendiri tanpa rasa bersalah, "Bukannya aku juga mengatakan aku pandai di pelajaran Bahasa Indonesia? Kita bertiga berada di nasib yang sama, jadi mari belajar bersama untuk menutupi kebohongan itu."
"Kamu mah enak! Aku sama sekali tak tahu Bahasa Inggris!" Gerutu Putri.
"Aku sama sekali tak mengerti pelajaran Biologi kecuali Sistem Produksi!" Ikut Lila.
Gina mengangguk paham, "Aku mengerti, tapi ini seharusnya bagus dijadikan dorongan kalian belajar Bahasa Inggris dan Biologi. Coba bayangin bagaimana Beni dan Bambang bakal memuji kalian kalau kalian benar-benar mengerti semua bahasa alien itu. Jelas aku hanya ingin membantu meningkatkan motivasi kalian dalam belajar. Tak perlu berterimakasih untuk itu."
__ADS_1
Dia mengambil tasnya dari sofa lalu berjalan ke kamar Putri dengan santai sambil bersiul riang. Hatinya senang ketika kedua sahabatnya frustasi.