
Putri, Lila, dan Bambang berjalan bersama keluar dari kelas. Mereka baru saja keluar gerbang sekolah dan bertemu dengan Beni, Dion, Vino, dan Fafa. Tiada yang terkejut dengan ini karena mereka memang sudah janjian untuk bertemu di luar gerbang.
Keempat murid itu begitu dipenuhi rasa penasaran, sehingga ketika melihat keberadaan Putri dan Lila, mereka langsung mengajukan pertanyaan untuk menghilangkan rasa penasaran itu.
"Gina dimana? Kenapa dia minta bertemu sebentar sore di Frisca Coffee?" Beni sebagai orang yang mudah kepo langsung maju terdepan untuk bertanya.
Putri hampir saja jantungan ketika tatapan intens Beni jatuh padanya, hingga dia terdiam kaget tak mampu untuk menjawab pertanyaan cepat itu. Beruntung Lila yang ada di sampingnya masih memiliki kepekaan dan menjawab ucapan Beni.
"Kalian ingat keuntungan yang aku bicarakan kemarin?" Tanya Lila dengan misterius.
Lima orang yang belum lama mengenal Gina semakin dibuat penasaran dengan teka-teki yang dikatakan Lila. Mereka berpikir keras dan merasa memang sepertinya Lila pernah mengatakan hal-hal seperti 'keuntungan' kemarin.
Lila membuat senyum manis saat memperhatikan kebingungan orang lain, dia mengalihkan tatapannya ke Bambang dan berbicara dengan suara yang sangat centil dan antusias. "Bang, jika kamu berjanji akan menjemputku sebentar sore, maka aku akan mengatakan semuanya yang membuatmu merasa penasaran. Apapun itu demi Bambangku yang tersayang."
Wajah Bambang langsung panas dengan semua kata-kata manis Lila. Dia mengalihkan pandangannya karena tidak mampu untuk terus menatap gadis ceria itu. Dia berbicara dengan suara kecil dan canggung untuk membalas ucapan Lila. "Ti-tidak perlu mengatakan apa-apa padaku."
Tatapan Lila tetap terus bertahan pada Bambang. Dia mengerutkan keningnya tak suka ketika Bambang dengan sengaja menghindar untuk menatapnya dan menolak kata-katanya. Dalam pikirannya, dia bertanya-tanya, apakah Bambang sangat begitu tidak suka padanya?
Lila mengerucutkan bibirnya, dia berkedip tak berdaya pada Bambang. "Apakah rumahku terlalu jauh? Kamu benar-benar tak bisa menjemputku? Apakah kamu rela membiarkanku naik ojek? Bagaimana jika aku bertemu tukang ojek yang galak? Atau yang jahat? Mungkin saja sebelum sampai di Frisca Coffee, aku telah dibawa ke tempat lain. Atau—"
"Aku bisa menjemputmu." Ucap Vino tak berdaya saat memotong ucapan penuh dramatis Lila. Dalam hidupnya, dia tidak pernah mengenal perempuan yang begitu penuh dengan kata-kata dramatis seperti Lila.
Mata Lila langsung menyala, senyumnya kembali bersemi saat menatap senang Vino. Entah dia sadar atau tidak sadar, itu seperti senyum penuh ejekan pada Fafa yang kenyataannya adalah pacar Vino.
Fafa menatap tak suka pada Lila dan mengeluh pada Vino, "Lalu aku?" Dia bertanya dengan nada kesal yang tak mampu disembunyikannya.
Vino memalingkan kepalanya ke Fafa dengan heran, seolah tidak menemukan kesalahannya yang mengajak wanita lain di depan kekasihnya sendiri. "Bukannya kamu punya motor?"
__ADS_1
"Motorku mogok." Jawab Fafa cepat. Dia tidak bisa membiarkan seorang yang centil seperti Lila dekat dengan Vino, kekasihnya yang sempurna.
Tatapan Vino jatuh pada motor merah muda yang ada di belakang Fafa. "Mogok?"
Fafa dengan cepat melihat ke belakangnya dan menatap motornya dengan kesal. Sekarang dia tidak mampu memakai alasan itu dan bahkan telah berbohong pada Vino. Dia melirik Vino sembunyi-sembunyi dan menjawab pelan. "Kemarin sempat mogok, sekarang udah baik."
"Jadi kenapa Gina meminta kita bertemu di Frisca Coffee?" Beni tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya dengan drama klasik empat orang itu dan kembali mengajukan pertanyaan.
Lila tersenyum senang setelah mendapatkan kemenangan dan dengan senang hati menjawab pertanyaan Beni. "Bukannya kemarin aku bilang, ketika suasana hati Gina buruk, maka kita akan mendapatkan keuntungan."
Kali ini Dion yang bertanya, "Keuntungan apa?" Dia merasa sepertinya tiga gadis bersahabat ini benar-benar memiliki keunikan yang membuatnya terus terpana. Entah itu kesalahpahaman Putri, kecentilan Lila, ataupun keanehan Gina. Dari ketiga itu tak ada satupun yang ia mengerti.
"Kamu akan mengetahuinya nanti, itu tergantung seberapa buruk suasana hatinya." Jawab Lila masih dengan senyum manis, benar-benar tak menyadari tatapan rumit dari Bambang.
Beni mengerutkan kening dengan rasa penasaran yang besar. Dia berjalan mendekati Lila, berusaha untuk terus mendapatkan informasi sedetail mungkin. "Kenapa Gina tidak sekolah hari ini? Alasan apa yang diberikan ke guru?"
Beni mengangguk kagum, "Persahabatan kalian sangat baik, aku berharap juga bisa seperti itu. Sayangnya, aku mendapatkan seseorang yang kejam dan berhati dingin seperti Oon." Katanya lesu sambil melirik kecewa pada Dion.
Dion hanya menatap datar Beni, dia tidak mengerti kenapa orang idiot ini dapat terpilih menjadi Ketua OSIS. Dan lebih idiotnya, kepada dia memilihnya saat itu. Dion tidak ingin lagi berbasa-basi dan harus segera pulang. "Kalau begitu aku akan pulang sekarang."
"Sebentar sore kamu akan pergi?" Tanya Beni cepat.
Dion sudah berjalan meninggalkan kelompok itu, dalam jalannya dia menjawab dengan samar. "Tidak."
"Dia selalu saja seperti itu." Gumam Beni sambil mendengus kesal. Lalu dia cengar-cengir dan berkata kepada yang lain, "Tenang saja, aku akan menyeretnya ke Frisca Coffee sebentar sore. Aku juga pulang dulu."
Setelah mengatakan itu, Beni berlari sambil melambaikan tangan dan segera mengejar Dion yang telah menjauh.
__ADS_1
Tatapan Putri yang tak berani mengenai Beni sekarang tertuju pada lelaki itu. Dia selalu menyukai senyum dan semangat Beni, benar-benar mampu membuat hari seseorang menjadi lebih berwarna. Tak seperti Dion yang selalu suram dan penuh dengan tekanan hingga membuat orang lain tak berani mendekatinya.
Vino membuat senyum kecil dan juga ikut pamit, "Aku akan menjemputmu sebentar sore, beritahu saja aku alamatmu di WhatsApp."
"Oke!" Jawab Lila langsung dengan semangat. "Hati-hati di jalan, Vin." Ucapnya dengan semanis mungkin.
Vino mengangguk dan juga pergi dengan motornya.
Fafa melirik kesal Lila, dia berbalik untuk naik motornya dan pergi tanpa kata-kata. Lila yang melihatnya membuat senyum geli, dia benar-benar puas.
Lalu tatapan Lila kembali ke Bambang, "Bang, kamu mau antar aku pulang, tidak? Rumahku dekat loh, tetapi tidak sedekat hatiku dengan hatimu."
"Aku jalan." Ucap Bambang kaku dan segera berjalan meninggalkan Lila. Dia tidak bisa membiarkan Lila mendapatkannya malu dan canggung, itu akan membuatnya terlihat sangat buruk.
Lila membuang napas berat, akhir-akhir ini Bambang selalu menghindarinya walau biasanya memang seperti itu, tetapi kali ini rasanya dia lebih dijauhi. "Put, aku salah apa sama Bambang?"
"Hah? Apa?" Putri terbangun dari lamunannya. Dia berkedip polos pada Lila, hingga membuat Lila kesal.
"Lupakan, kamu hanya memikirkan Beni dan Beni. Di kepalamu hanya ada Beni dan Beni. Tak ada yang lain selain Beni." Ngoceh Lila dengan kesal.
"Lalu bagaimana denganmu? Bambang dan Bambang, setiap hari terus menggoda Bambang. Apakah kamu tidak bisa hidup sehari saja tanpa menjadi centil?" Balas Putri.
Lila mendengus kesal, "Aku pulang saja, jangan lupa sebentar sore." Ucapnya, lalu berjalan menuju pangkalan ojek.
Putri bergumam pelan dan juga berjalan pulang.
Pikiran mereka berdua tiba-tiba terhubung pada apa yang membuat suasana hati Gina buruk.
__ADS_1