Salah Paham

Salah Paham
Bocah


__ADS_3

Hari ini, Gina harus berjalan pulang dari sekolah karena ayahnya memiliki proyek penting sehingga tidak dapat menjemputnya. Gina sama sekali tidak masalah dengan itu, jarak rumah ke sekolah tidaklah terlalu jauh, hanya saja ayahnya terlalu protektif dan kadang menyuruhnya untuk menunggu jemputan.


Padahal jika harus memilih, Gina lebih memilih jalan dan menikmati sekeliling dengan santai. Kadang kala bila Gina jalan, dia dapat singgah untuk membeli beberapa makanan dan minuman yang menyegarkan di siang hari. Gina juga suka menikmati angin sejuk saat jalan dan berjalan seorang diri dengan menawan, merasa bila dia pemilik jalan dan yang lain hanya numpang lewat.


Di tengah perjalanan pulang, Gina harus berhenti karena di depannya tengah terjadi perkelahian. Yang membuat Gina tidak takut ialah para pelaku perkelahian itu menggunakan seragam SMP, sehingga dia hanya mengambil ponsel dan memotretnya dengan baik dari berbagai sudut.


Gina menyalakan mode video dan mengamati perkelahian dengan santai. Kadang kala, dia mengamati sambil memakan cemilannya atau meminum minuman bersodanya. Setelah merasa perkelahian berada pada titik yang berbahaya, dia akhirnya mematikan mode video dan mengatur cemilan dan minumannya yang belum habis ke dalam tas punggungnya.


Setelah mengambil beberapa gambar dan video perkelahian itu, Gina berjalan maju dan mencoba menjadi orang tua yang melarang anak kecil bertengkar.


"Kalian semua berhenti! Aku sudah mengambil foto dan video kalian. Jika kalian tidak berhenti," Sudut bibir Gina membentuk senyum jahat. "Ini akan aku kirim ke sekolah kalian."


Beberapa murid SMP mulai berhenti dari aksinya dan menatap Gina dengan takut. Senyum Gina semakin dalam ketika melihat ekspresi mereka.


"Coba tebak apa yang akan terjadi setelah itu? Baiklah, biar aku beri tahu. Pertama, kalian akan dikeluarin dari sekolah. Dan kedua, keluarga kalian akan marah." Ucap Gina dengan kejam. "Jadi masih mau lanjut?"


Beberapa dari mereka menggelengkan kepala dan langsung kabur begitu saja. Yang lain juga merasa takut dan ikut lari mengejar teman mereka. Hanya tertinggal seorang murid SMP yang berjongkok dengan menyedihkan. Dia terisak menahan tangisannya dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Gina awalnya berniat untuk mengabaikannya dan berjalan melewati murid SMP itu, tapi setelah beberapa langkah dia kembali dan mendekatinya. "Ada apa?" Tanya Gina ikut berjongkok di depannya.


Murid SMP itu hanya diam dan terus menangis terisak-isak. Dia bahkan enggan untuk berdiri dan pindah mencari tempat baik untuk menangis.


"Apa mereka memukulmu terlalu keras?" Tanya Gina lagi dengan sabar.


Murid SMP itu masih mengabaikannya.


Gina langsung menarik kedua tangan murid SMP itu yang menutupi wajahnya. "Oi, bocah! Kalau orang lain bertanya, biasakan untuk menjawab!" Geram Gina.


Mata murid SMP itu memerah menatap Gina dengan takut. "Mereka memukulku." Bisiknya pelan.


"Oh. Siapa namamu?" Tanya Gina tampak tak peduli.


"Beta." Jawabnya.


Gina mengangguk malas, "Kamu laki-laki, 'kan?"


Beta mengangguk cepat, "Tentu saja!"


"Kalau begitu balas dengan cara seorang laki-laki. Mereka memukulmu, maka kamu juga harus memukul mereka. Tulang dibalas dengan tulang, darah dibalas dengan darah. Apa kamu mengerti? Bocah, setidaknya jangan mau diremehkan." Ucap Gina antusias.


Beta mengangguk dengan mata merah, lalu tatapannya menjadi kesal. "Namaku Beta, bukan bocah."

__ADS_1


Gina memutar matanya dengan malas, "Apa bedanya itu?" Gumamnya pelan.


Setelah memastikan Beta baik-baik saja, Gina berdiri dan berjalan meninggalkannya.


"Kakiku sakit." Keluh Beta.


Gina berdecak kesal, lalu menoleh. "Lalu kamu ingin aku bagaimana? Menggendongmu pulang? Aku seorang wanita yang lemah lembut, tidak dapat membawamu."


"Tidak terlihat seperti itu." Gumam Beta pelan, namun masih dapat didengar oleh Gina.


"Apa kamu bilang?" Tanya Gina kesal.


Beta berpura-pura polos. "Aku tidak bilang apa-apa."


"Cih, bocah." Gerutu Gina langsung melanjutkan langkahnya.


"Kak, kakiku sakit." Keluh Beta lagi.


Gina berjalan kembali dan menarik lengan Beta dengan kuat lalu menyeretnya ke bangku panjang depan minimarket. "Kak, sakit, sakit, ah, sakit, sakit!"


"Tunggu disini!" Gina lalu pergi ke apotik yang berada di samping minimarket. Setelah beberapa menit, dia keluar membawa tas plastik dan melemparkannya ke Beta.


Beta mengangguk paham, "Ini bagaimana caranya? Botol apa ini? Kapas buat apa? Ini lem?"


Gina menggertakan giginya, "Kamu punya ponsel?"


Beta mengangguk dan langsung menunjukkan ponsel pintarnya. "Mau ambil nomorku?"


"Tidak." Jawab Gina datar. "Buka YouTube dan cari cara mengobati luka. Dunia sekarang sudah canggih, jangan kuno deh." Gerutunya.


"Oh." Jawab Beta merasa kecewa. "Kak, nama Kakak siapa?" Tanyanya sambil meraba-raba isi tas plastik.


Gina tak menjawab dan malah menegurnya. "Berhenti bermain-main dengan itu! Obati lukamu dan cepat pulang! Bagaimana bila orang tuamu khawatir."


Beta menunduk nurut, "Oke."


Setelah itu, Gina berjalan dengan cepat meninggalkan Beta tanpa menoleh ke belakang lagi. Beta yang ingin kembali bersuara hanya bisa menelan kembali kata-katanya.


"Dia belum bilang namanya." Gumam Beta sedikit cemberut. Setelah itu, dia mengobati lukanya dengan enggan.


Beta menepuk seragamnya yang kotor dan kusut akibat perkelahian tadi. Dia mengusap matanya yang berlinang air mata, dia sungguh tidak tahan dengan rasa sakit. Lalu, dengan perlahan berdiri dan berjalan dengan pincang.

__ADS_1


Belum beberapa langkah berjalan, telinganya ditarik dengan kuat. "Apa yang kamu lakukan disini?"


"Ah ah ah, sakit, Kak Ben!" Teriak Beta kesakitan.


Beni melepaskan tangannya dari telinga Beta, "Kenapa bajumu bisa acak-acakan begini?"


Beta mengelus telinganya yang memerah, "Biasa anak cowok."


"Apa?" Tanya Beni geram yang kembali menarik kuping telinga Beta.


"Ah, sakit, sakit, sakit! Maaf Kak, Maaf!"


Beni menarik tangannya dengan puas, "Jadi, kenapa kamu bisa berkelahi?"


"Mereka merobek bukuku, lalu aku mengata-ngatai mereka. Dan mereka marah lalu memukulku." Jelas Beta dengan enggan.


Beni mengangguk paham, "Siapa yang melakukannya?"


"Kakak kelasku." Suara Beta semakin kecil.


"Mari beritahu Ibu, Ibu akan melaporkannya ke sekolahmu." Ucap Beni pada akhirnya.


Beta dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, jangan beritahu Ibu!"


Beni mengangguk setuju, "Kalau gitu, mari beritahu Bapak."


"Kak Beni!" Teriak Beta frustasi.


Beni menghela nafas, "Itu salahmu tidak hati-hati dan menyebabkan bajumu jadi kotor dan kusut. Ibu harus tahu ini."


"Tidakkah Kak Beni lihat luka di tubuhku sebelum melihat bajuku?" Gerutu Beta.


Mata Beni langsung melebar seolah terkejut, "Kamu memiliki luka yang banyak! Oh, sudah diobati." Ucap Beni yang seolah menganggap itu hanya lelucon. "Yang penting bajumu, itu dibeli pakai uang."


"Tubuhku juga penting!" Bantah Beta


Beni langsung menunjukkan senyum nakalnya. "Lalu, berapa harga tubuhmu?"


"Kak Beni!"


"Hahaha, ayo cepat pulang dan beritahu Ibu dan Bapak!"

__ADS_1


__ADS_2