
Pada hari Kamis, pelajaran pertama untuk kelas XII IPA 2 adalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.
Hujan telah membasahi tanah semalaman dan menciptakan beberapa genangan air di lapangan, walau begitu tak membuat guru olahraga untuk menyerah dengan kelas lapangan.
Cahaya matahari yang hangat keluar dengan malu-malu dari balik awan. Suhu yang pas untuk kegiatan di luar ruangan. Tidak panas dan tidak dingin.
Sebelum dimulainya pelajaran, para murid dari kelas XII IPA 2 diminta untuk menyisir beberapa genangan air dari lapangan basket.
Tidak butuh waktu lama untuk para siswa melakukan tugas itu, sehingga mereka dengan cepat dapat melakukan pemanasan lari keliling lapangan sebanyak tiga kali putaran.
Lapangan basket sekolah tidaklah seluas lapangan sepak bola yang ada di halaman sekolah. Sehingga berlari tiga putaran, masih dapat dibilang cukup baik hati. Namun, Lila yang pada dasarnya memiliki fisik terlemah dari segala macam kebuasan di kelasnya, dia langsung tersingkirkan setelah lari setengah lapangan.
Pak Dodi yang berprofesi sebagai guru Olahraga sama sekali tidak memiliki pendapat atas tindakan Lila yang tiba-tiba duduk di pinggir lapangan tanpa niat untuk melanjutkan larinya. Karena dia sudah terbiasa dan mengetahui jika salah satu muridnya memiliki fisik tuan putri alias lemah lembut dan tidak kuat dengan kekerasan dunia.
┐(´ー`)┌
Bambang yang melihat Lila duduk di pinggir lapangan dengan napas tak beratur secara tak sadar berhenti dan ingin menghampiri. Namun, seolah tersadarkan oleh sesuatu, dia kembali lari dan kembali ke barisannya yang telah berantakan.
Setelah pemanasan, Pak Dodi mengabsen nama-nama murid satu persatu. Beberapa murid tidak ikut kelas lapangan karena lupa membawa baju olahraga tapi memberi alasan sakit sebagai penyangkalan.
Sifat dan sikap Pak Dodi sangat santai untuk para murid. Mereka mengatakan sakit, maka sakit tidak sakit dia akan memberi tanda sakit di dalam daftar hadir. Jika itu adalah alasan buat-buatan untuk mencegah huruf a dalam daftar hadir, maka mereka akan menanggung dosa sendiri karena berbohong. Pak Dodi tidak ingin berbaik hati untuk mempedulikan murid yang seperti itu.
┐(´ー`)┌
__ADS_1
Setelah menyebut nama terakhir, Pak Dodi dengan baik hati menyerahkan bola basket dan membiarkan para murid laki-laki membentuk dua tim dan bermain, lalu para murid perempuan duduk sambil bersorak di pinggir lapangan. Pak Dodi mnegambil kursi dan duduk di pinggir lapangan untuk mengawasi permainan.
Selebihnya, beberapa murid diam-diam pergi ke kantin setelah selesai mengisi daftar hadir. Pak Dodi mengetahui itu dan membebaskannya.
┐(´ー`)┌
Beberapa murid tersebut termasuk Gina, Putri, dan Lila. Bukannya mereka tidak ingin mengikuti pelajaran, hanya saja sesuai dengan gaya Pak Dodi, dijamin mereka hanya akan melongo di pinggir lapangan dengan wajah bego. Sehingga mereka lebih memilih mengisi perut, lagi pula Pak Dodi selalu memaklumi itu.
Saat ini kelas sedang berlangsung, sehingga kantin berada dalam masa sepi. Sosok yang seharusnya menjadi orang yang tak mungkin berada di kantin pada jam pelajaran, duduk manis sambil menikmati teh manis di meja kantin seorang diri.
Itu Beni.
Jika ada murid yang ingin bolos mata pelajaran dan tak ingin tertangkap, maka mereka harus menghindar dari kantin dan gudang belakang sekolah. Karena anggota OSIS akan melakukan pemeriksaan secara tak tentu di jam pelajaran untuk menangkap berandalan kecil.
Berbeda dengan Gina dan Lila yang meragukan kinerja Ketua OSIS sekolah ini, Putri yang memiliki perasaan cinta monyet langsung berbinar dengan kegembiraan yang tak terlukis.
"Ini pasti yang disebut jodoh!" Serunya dengan senang.
Gina memutar bola matanya dengan malas, dia berjalan dengan langkah lambat ke meja persegi yang ditempati Beni.
"Ketua OSIS yang terhormat, sedang apa anda disini? Bukankah saat ini kelas masih berlangsung?" Tanya Gina dengan sinis sambil duduk di hadapan Beni.
Putri dan Lila secara alami mengikuti arahan Gina dan duduk di meja yang sama.
__ADS_1
Beni mendongak kaget, dia melihat ketiga gadis dengan terkejut lalu menyeringai. "Tentu saja, yang aku lakukan saat ini disebut pemeriksaan. Kalian bertiga, jika tidak ingin mendapatkan catatan buruk lebih baik kembali ke kelas."
Lila menatap Beni yang bersantai dan teh manis di atas meja dengan pandangan rumit. "Pemeriksaan?" Ucapnya ragu.
Beni mengangguk, "Baru-baru ini ada murid yang susah diatur. Dia selalu bolos ke kantin setiap mata pelajaran. Aku sudah mengatur OSIS untuk mengawasinya dan dia," Beni menghela napas panjang, "selalu membuat anggotaku berakhir di UKS."
Gina tersenyum geli melihat wajah menyedihkan Beni yang datang tiba-tiba. "Kami sedang kelas olahraga, bebas saat ini." Gina menjawab ucapan Beni yang pertama lalu melanjutkan ucapannya. "Lalu siapa murid yang luar biasa itu?"
Lila dan Putri juga tertarik pada murid yang berani melukai anggota OSIS itu.
Melihat tatapan ingin tahu ketiga gadis, Beni membuka mulutnya ingin menyebutkan sebuah nama, tapi kata-katanya berubah ketika melihat sosok yang baru saja muncul. "Itu dia."
Gina, Putri, dan Lila sontak berbalik serentak ke arah yang dipandang Beni. Mereka yang awalnya hanya sekedar penasaran langsung berbinar dengan gembira.
Ini tentu saja murid berandalan yang tampan!
Putri langsung menatap Gina dan Lila dengan pandangan penuh tanya. "Itu dia?"
Lila mengangguk membenarkan, "Itu dia."
Gina juga langsung memunculkan senyum tipisnya, dia menatap sosok itu dengan penuh minat. "Ya, itu dia."
Beni langsung menatap tiga gadis yang duduk di meja yang sama dengannya dengan bingung. Seharusnya mereka bertiga bertanya kepadanya, tapi seolah mengetahui kebenaran, Beni merasa memiliki informasi yang paling terkebelakangan.
__ADS_1
Itu dia, Gilang!