Salah Paham

Salah Paham
Tetangga


__ADS_3

Kali ini ayahnya harus melakukan perjalanan bisnis selama seminggu atau lebih, ini membuat Gina menjadi semangat karena tidak perlu menunggu jemputan saat pulang sekolah.


Arah rumah Putri, Lila, dan Gina dari sekolah saling bertentangan. Sehingga tiada di antara mereka bertiga yang bisa memiliki ide untuk pulang bersama dari sekolah, kecuali jika mereka ingin bermain di rumah salah satunya.


Setelah saling melambai di depan gerbang, Putri, Lila, dan Gina berjalan dengan mengambil jalur yang berbeda. Lila lurus, Putri belok kanan, dan Gina belok kiri. Mereka berjalan kaki, tapi tentu Lila lurus berjalan menuju pangkalan ojek. Walau rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah, dia benar-benar tak mampu untuk jalan di tengah terik matahari seperti ini. Ini adalah rahasia umum bila Lila memiliki daya tahan tubuh yang terlemah di antara mereka.


Gina seperti biasa, jalan dan selalu singgah di beberapa toko ketika tergoda dengan cemilan dan minuman.


Di bawah pohon besar, sosok pemuda dengan seragam putih biru berdiri dengan kaki yang menendang-nendang di tanah. Ketika dia melihat Gina berjalan ke arahnya, senyumnya berkembang dengan lebar. Dia dengan cepat menghalangi jalan Gina.


"Jadi, apa maumu sekarang?" Tanya Gina dengan malas. Dia sama sekali tidak merasa kaget karena bocah ini menunggunya disini.


Beta mengulurkan tangan kanannya yang memegang coklat, dia berkata dengan antusias. "Coklat hari ini!"


Gina melirik coklat itu, masih sama dengan coklat sebelumnya. Murah dan umum. Dengan enggan dia mengambil coklat itu dan memasukkannya ke saku seragamnya.


"Terima kasih dan pulanglah. Jangan singgah-singgah ke tempat lain, langsung ke rumah." Ucap Gina dengan tegas seolah mendidik anak kecil yang nakal.


Beta mengangguk patuh, "Baik Kak Gina."


Gina yang baru saja akan melangkah, langsung menghentikan gerakannya. "Darimana kamu tahu namaku?"


Mata Beta bersinar, "Di festival, teman Kakak menyebutnya."


Gina berpikir sebentar, lalu mengangguk kecil. Ternyata dia mendengarnya dari Putri.

__ADS_1


"Um, pulanglah."


Gina tak menunggu lagi dan melanjutkan langkahnya ke depan meninggalkan Beta yang masih dikelilingi aroma romansa anak muda. Setelah sosok Gina tak lagi terlihat, dia berjalan pulang sambil menyebut nama Gina berulang-ulang.


Dulu, saat Gina masih memakai seragam SD, dia sangat suka makan makanan yang manis. Pagi, siang, sore, malam, dia selalu memiliki cemilan manis dan coklat di kamarnya. Setiap hari sesuatu yang disebut manis selalu berada di sisinya. Hingga lama kelamaan dia mulai merasa mual dan menghindari makanan yang terlalu manis. Gina lupa kapan tepatnya itu terjadi, tapi ketidaksukaannya pada hal manis terjadi begitu saja.


Gina mengambil coklat dari sakunya dan terus memandangnya dengan pandangan  nostalgia. Dulu kemasan coklat ini lebih besar dan harganya lebih murah dari saat ini. Gina juga ingat bila coklat ini menjadi salah satu kesukaannya, mengingat itu dia tanpa sadar merinding dan merasa mual. Gina tidak tahu kenapa dulu dia tergila-gila dengan coklat, baginya saat ini benda itu sangat tak tertahankan.


Sambil berpikir tentang masa kecilnya, Gina berjalan santai menuju  rumahnya. Semakin dekat dia dengan rumahnya, maka keramaian yang dilaluinya semakin berkurang. Itu karena lokasi perumahan tempat tinggal Gina tergolong sepi dan tenang. Rumah-rumah yang dilaluinya terbilang mewah dan besar. Daerah ini kadang disebut kawasan elit, hanya saja Gina merasa itu terlalu berlebihan.


Gina berjalan menuju rumah dengan cat putih bersih, di depannya terdapat taman bunga kecil yang dirawat oleh pembantu rumah tangga. Dengan usil, Gina berjalan di atas taman bunga dan menginjak bunga-bunga yang tumbuh subur dan terawat. Dia berjalan berkeliling di area taman itu beberapa kali sebelum puas dengan hasil kerjanya. Saat ini, taman bunga itu tampak menyedihkan dan tak lagi indah. Itu membuat kesenangan tersendiri oleh Gina, tak ada rasa bersalah di benaknya. Lagi pula, bila pembantu rumah tangga yang disewa ayahnya melihat ini, dia hanya perlu membeli bunga dan menanamnya lagi. Dan Gina hanya perlu menghancurkannya lagi.


Karena aktivitasnya itu, ditambah saat ini dia berada di bawah terik matahari, keringat mulai muncul dan meluncur dari dahi ke pipinya. Dia mengusapnya dengan asal dan berjalan menjauh dari taman bunga itu.


Gina membalas tatapan sosok itu dengan bingung, "Dion? Kenapa kamu di situ?"


Dion berdiri tepat di halaman rumah sebelah rumah Gina. Saat ini dia juga menggunakan seragam sekolah yang sama dengan Gina, menandakan dia juga baru pulang sekolah.


Dion memindai pandangannya ke taman bunga kecil yang kini rusak, Gina secara naluriah mengikuti pandangan Dion dan terkekeh kecil. "Hehe, kebiasaan burukku. Lupakan itu."


Alis Dion mengkerut dengan tatapan aneh, tapi dia segera memperbaiki ekspresinya. Dia sadar diri tentang dirinya yang memiliki keanehan yang mungkin lebih aneh dari kebiasaan buruk Gina. "Aku tinggal disini." Ucap Dion menjawab pertanyaan pertama Gina.


"... Sungguh?" Tanya Gina tak percaya. Gina tinggal di lingkungan ini dari lahir, sehingga dia cukup familiar dengan penghuni perumahan disini, apalagi tetangga sebelahnya.


Walaupun tetangga Gina baru pindah setahun yang lalu dan jarang terlihat karena kesibukannya dalam pekerjaan, tapi Gina mengetahui jika setidaknya dalam waktu dekat ini, rumah itu tidak mungkin dijual atau disewa ke orang lain.

__ADS_1


Dion mengangguk, "Ini rumah kakakku." Jelasnya saat melihat keraguan dalam ekspresi Gina.


"Oh, kapan kamu pindah ke sini?" Tanya Gina basa basi.


"Tahun baru. Aku sudah tahu kamu tinggal di sebelah dari saat itu."


Gina mengangkat alisnya, "Hm? Kita pernah ketemu disini? Aku jarang keluar rumah, darimana kamu tahu aku tinggal disini?"


Dion menunjuk ke atas, ke balkon lantai dua rumah Gina, tepat disitu ialah kamar Gina. Lalu tangannya bergeser ke samping, menunjuk sebuah jendela di lantai dua rumah kakaknya. "Kamarku disitu."


Gina mengikuti arahannya dan mengerti. Kamarnya dan kamar Dion berseberangan, jadi tak heran dia kadang mendapati ruangan yang selalu gelap dari rumah tetangga menyala terang akhir-akhir ini.


Tatapan Gina menjadi tajam, tentu maksud dari perkataan Dion ialah dia pernah melihat Gina berada di kamar dari kamarnya. "Apa yang kamu lihat saat itu?" Suaranya tegas dengan penuh tekanan.


Dion juga menyadari pikiran Gina, "Aku hanya melihatmu membaca buku saat itu. Cuman itu."


Gina tanpa sadar menghela napas lega, dia menganggukkan kepalanya pada Dion. Pandangannya acuh tak acuh saat suaranya kembali malas. "Sebentar sore kita kumpul, bukan?"


Dion mengangguk, "Beni mengatakan di rumahmu."


"Karena kamu sudah tahu rumahku, maka beritahu Beni. Aku masuk dulu."


Gina berjalan masuk ke rumahnya, dia melambai singkat pada Dion sebelum menutup pintu. Segera saat dia sampai ke kamarnya, dia langsung menutup jendela, pintu menuju balkon, dan apapun yang bisa dilihat dari luar. Perasaan seseorang sedang mengawasi gerak geriknya membuatnya merinding.


Setelah melempar coklat ke meja belajarnya dan membuang seragam sekolahnya ke lantai, Gina lompat ke tempat tidur dan tidur dengan nyaman.

__ADS_1


__ADS_2