
Pada jam istirahat berikutnya, Gina kembali ke kelas dengan sikapnya yang acuh tak acuh seperti biasanya. Hanya saja kali ini bibirnya membentuk senyum kecil yang tampak provokatif dan sinis. Dia duduk di bangku kosong di sekitar Putri dan menaikkan alisnya kepada Lila yang masih nyaman duduk di bangkunya. Lila menerima sinyal Gina dan dengan enggan berpisah pada Bambang. Setelah dia mengutarakan satu kalimat manis dan godaan pada pemuda pemalu yang diincarnya, Lila langsung bergabung dengan Gina dan Putri tampak siap untuk mulai bergosip.
"Jadi bagaimana?" Tanya Lila pada Gina. Pandangan Putri juga antusias, menunggu Gina menceritakan kisahnya ketika bersama Sinta, saudara barunya itu.
Gina mengeluarkan tiga permen kaki dari sakunya, sepertinya dia singgah di kantin untuk membelinya sebelum masuk ke kelas. Putri dan Lila mengambil satu masing-masing dan dengan tenang menunggu dongeng dari Gina.
"Ya, tidak ada yang mengasikan." Ucap Gina dengan pelan sambil mengangkat bahunya tak peduli. "Aku mengenalkan satu persatu tempat di sekolah sesuai keinginannya. Namun sepertinya aku tak cocok dengannya dan tidak tahan untuk terus jalan bersama dia sehingga ketika dia mau ke toilet, aku mengajaknya ke toilet di belakang gudang penyimpanan dan menguncinya dari luar. Setelah itu aku ke UKS dan tidur sebentar."
Putri mendengar ucapan Gina dan langsung menatap Lila dalam diam, Lila juga membalas tatapan diam-diam Putri, dan mereka berdua mengalihkan pandangan ke arah Gina tanpa mengatakan apa-apa.
Seolah tak ada yang salah dengan ucapannya, Gina menaikkan alisnya dan bertanya kepada kedua sahabatnya. "Ada apa?"
Putri dan Lila memberi saran Gina untuk mengajak Sinta jalan-jalan hanya sekedar untuk membuat Sinta bolos mata pelajaran dan ditegur oleh wali kelasnya, iya hanya itu. Mereka bisa membantu membuat alasan jika Gina ada di UKS sehingga Gina dapat dengan santai berjalan-jalan ketika kelas berlangsung. Tetapi jika Gina melakukan lebih dari itu, maka sangat besar kemungkinan dia akan menimbulkan masalah yang rumit.
"Gin, kamu sungguh menguncinya di toilet?" Putri bertanya untuk memastikan.
Gina tanpa beban mengangguk seolah dia tidak melakukan hal yang buruk.
"Di toilet belakang gudang?" Lila juga mengajukan pertanyaannya, mereka semua tahu jika toilet di belakang gudang penyimpanan jarang digunakan dan bahkan tidak ada murid yang berniat melewati toilet itu. Ini artinya Gina benar-benar beracun.
Gina melihat keresahan Putri dan Lila, dia tersenyum dengan santai dan bertanya. "Kenapa? Apa menurutmu aku akan mendapatkan masalah karena itu?"
"Tentu saja, apa menurutmu kamu tidak akan dapat masalah?" Tanya Lila dengan mata menyipit seolah menyelidiki Gina.
__ADS_1
Gina mengangkat alisnya dengan bangga, "Coba tebak?"
Mereka berdua tidak ingin menebaknya.
Putri bersandar di bangkunya, meregangkan tubuhnya yang sempat kaku. Dia menggelengkan kepalanya kepada Gina disertai helaan napas, "Membuatku takut saja." Keluhnya.
Lila mengangguk setuju dan dengan kesal menyodok bahu Gina, "Apa sekarang kamu mulai bermain sembunyi-sembunyi dengan kami?"
Gina mendengus, kemudian tersenyum geli menanggapi ucapan Lila. "Aku tidak menyembunyikan apapun. Katakan saja ini seperti aku mengetahuinya secara tidak sadar. Kalian tahu, manusia begitu buta dengan harta. Ya itu sama dengan kamu La, tetapi bedanya mereka tidak pandai merebut hatiku. Mereka menggunakan trik serigala berbulu domba, fiuh sayangnya mereka berpikir aku seekor domba. Apa aku semanis itu dalam pikiran mereka?"
Putri dan Lila tertawa kecil, mulai melupakan persoalan Sinta dan membahas hal-hal lain seolah hal yang baru saja mereka bahas tadi sudah basi dan tidak menarik lagi.
"Aku tadi lewat kantor guru dan mendengar beberapa gosip terpanas." Ucap Gina menimbulkan rasa penasaran Putri dan Lila.
"Tunggu tunggu!" Lila mengangkat tangannya untuk menjeda gosip yang akan disampaikan Gina dan bergegas berdiri dari duduknya. "Ayo patungan beli cemilan." Dia menjulurkan tangannya mengarahkan ke hadapan Gina dan Putri.
Lila dengan cepat pergi keluar kelas dan kepalanya menoleh ke kanan kiri mencari seseorang, setelah menemukan target dia segera menghentikan murid yang lewat di depannya. "Des, kamu mau ke kantin?" Tanya Lila cepat.
Murid yang dicegahnya mengangguk membenarkan ucapan Lila dengan bingung. "Iya, kenapa?"
Lila tersenyum dengan manis dan meletakkan uang lima puluh lima ribu di tangan Desi, "Aku mau nitip, tolong belikan tiga minuman dan cemilan harganya harus pas dan gak boleh kurang." Ucapnya tanpa memberikan orang lain pilihan untuk menolak. "Ingat tidak boleh ada kembaliannya." Setelah mengatakan itu, Lila dengan senang masuk ke dalam kelas dan duduk kembali bersama Gina dan Lila menunggu titipannya datang.
Sepuluh menit kemudian, pesanan Lila datang dan dia dengan antusias menghamburkan berbagai macam cemilan di atas meja dan dengan bangga berkata pada Gina. "Ini pas tidak kurang tidak lebih, tidak ada kembalian untukmu Nyonya Gina."
__ADS_1
Gina hanya mendengus, dia sangat tahu kelakuan busuk Lila dan tidak berkomentar. Mereka masing-masing mengambil minuman kaleng dan cemilan, lalu dengan santai mulai mengobrol.
"Jadi apa? Apa? Apa yang kamu dengar?" Tanya Lila dengan semangat 45 sambil menyeruput minumannya.
Putri membuka bungkus keripik kentang dan dengan sabar menunggu Gina untuk membuka mulutnya.
"Kalian tahu kan Bu Lara kalau menggosip itu tidak ada duanya?" Ucap Gina memulai pembukaan.
Putri dan Lila sama-sama mengangguk membenarkan ucapan Gina, guru yang satu itu memang terkenal memiliki mulut selebar lautan.
Gina memasukkan keripik ke dalam mulutnya dan melanjutkan ucapannya. "Aku mendengarnya mengatakan sebuah informasi kepada guru lain bahwa Gilang, anak nakal yang susah diatur itu adalah anak dari Wali Kota dan aku mendengar jika para guru tidak boleh menyebarkan ini."
"Serius?!" Lila membulatkan matanya dengan kejutan yang menyenangkan. "Tidakkah kalian merasa Gilang ini seperti peran utama di drama-drama. Dia badboy, tampan, anak orang kaya, dan memiliki banyak penggemar. Woah, benar-benar mengagumkan!"
Putri juga mengangguk membenarkan ucapan Lila. "Aku juga tidak pernah berpikir jika lelaki seperti itu ada di dunia nyata."
Gina mendesis menghentikan ucapan Lila dan Putri, "Itu bukan gosip yang sebenarnya. Yang ingin aku beritahu adalah Gilang hanyalah anak Wali Kota yang tidak diakui atau tanda kutip dia anak dari simpanan Wali Kota."
Ekspresi Putri dan Lila langsung menjadi kaku, mereka memajukan tubuh atas mereka dan ingin mendengar lebih banyak lagi.
"Kenapa? Gosipnya hanya itu." Gina bersandar di bangku dengan sikap malasnya. Membuat jiwa gosip kedua sahabatnya mereda dalam kekecewaan yang tak terpuaskan.
Lila tiba-tiba melirik Gina dengan tatapan nakalnya. Dia tersenyum ketika berkata dengan suara pelan. "Gin, tidak kah Wali Kota yang kamu katakan ini mirip dengan ayahmu?"
__ADS_1
Wajah Gina langsung gelap, dia melirik sinis Lila dan hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Aku belum tahu kebenarannya, yang aku katakan kemarin pada kalian hanya sebuah tebakan tanpa bukti."
Itu yang dia katakan, namun Gina tanpa sadar meremas kaleng minuman yang ada di tangannya. Wajahnya terlihat santai dan malas, namun kekuatan di tangannya membuat bentuk kaleng tidak lagi mulus.