
Sinta menggertakan giginya merasa kesal. Bukankah itu sudah jelas? Dia mengatakan jika dia harus bergantung pada Gina, maka Gina yang berstatus sebagai saudaranya harus menuntunnya dan memberi kenyamanan untuknya yang baru saja masuk ke sekolah baru. Tetapi tentu saja Sinta sudah memperkirakan Gina akan mengabaikan dan bertindak cuek padanya. Walau begitu, tak bisa dipungkiri dia merasa sangat kesal.
Senyumnya menegang, dia menarik napas dalam-dalam dan kembali berkata dengan suara manis dan baik hati yang mencerminkan sosok adik yang manja. "Kak Gina, aku masih baru disini dan tidak punya teman untuk bergaul. Dan juga, aku belum terbiasa dengan sekolah ini."
Putri dan Lila melirik Sinta diam-diam sambil menyeruput minuman dan memakan cemilan. Merasa tertarik dengan situasi saat ini, mereka berdua melemparkan senyum jail kepada Gina, sahabat mereka.
Gina memutar matanya pada tindakan kedua sahabatnya dan mengernyit ketika melihat Sinta. "Jadi, apa yang harus aku lakukan padamu? Katakan saja, jangan berbelit-belit seperti itu."
"Aku," Sinta berusaha mengatur kata-katanya sebaik dan serapi mungkin, "aku membutuhkan Kak Gina untuk menunjukkanku tempat-tempat di sekolah ini agar aku tak bingung kelak. Dan juga aku ingin makan siang bersama Kak Gina. Ayah mengatakan kita harus akrab di sekolah."
"Sejak kapan ayah menjadi orang yang mengunci kebebasanku? Apakah itu benar yang ayah katakan atau yang bundamu katakan?" Ucapan Gina langsung tanpa basa-basi membuat Sinta terdiam membeku.
Lila hampir saja tertawa dengan keras, untungnya dia segera menutup mulutnya untuk menyembunyikan kedua sudut bibirnya yang melengkuk. Dia berdehem dan berkata dengan sikap tulus layaknya seseorang yang berbudi luhur, "Gina kamu tak boleh seperti itu, dia adalah adikmu, kamu seharusnya membimbingnya dan tidak bersikap cuek seperti itu."
Tatapan tajam Gina langsung mengenai Lila, dia tahu saat ini sahabatnya itu sedang menikmati tontonan drama klasik keluarga. "Lalu, beri aku saran apa yang sebaiknya aku lakukan sebagai kakak yang baik?" Tanya Gina mengikuti nada bercanda Lila.
"Bukannya itu sudah jelas?" Putri memandang Gina dengan tatapan menghakimi seolah Gina adalah orang bodoh jika dia tidak mengetahui bagaimana harus bertindak. "Kamu harus menjaga adikmu dan mulai dari menunjukkan tempat-tempat di sekolah kepadanya. Beritahu dia dimana letak perpustakaan, lab, UKS, toilet, dan sebagainya. Dan beritahu juga hal-hal yang harus dan tidak boleh dilakukan di sekolah."
Lila dengan antusias menyetujui ucapan Putri, "Benar! Kamu tidak mungkin tidak mengerti maksud kami, bukan?"
Gina menunjukkan senyum liciknya, dia melirik ke arah Sinta dan mengangguk membenarkan ucapan kedua sahabatnya itu. "Ya, aku mengerti." Ucapnya sambil tersenyum kepada saudara barunya itu yang membuat Sinta merinding tiba-tiba.
"Apa yang kamu lakukan dengan terus berdiri di situ, beli makanan ringan dan duduk di sini untuk makan." Ucap Gina yang membuat Sinta tersentak dan berbalik untuk membeli makanan dan minuman untuknya.
__ADS_1
Saat Sinta pergi, Gina memandang kedua sahabatnya dengan alis yang terangkat. Lila langsung memajukan tubuhnya dan berbicara dengan senyum licik. "Kamu tak menyukainya maka kamu harus membuatnya tak nyaman berada di sekitarmu. Aku sangat tahu bahwa dia hanya bermain peran adik yang naif dan lugu kepadamu. Ayo tunjukan padanya siapa yang akan tersenyum sampai akhir." Ucapnya dengan semangat yang berkobar.
Putri mengangguk mendukung ucapan Lila, "Tenang saja, nanti kami akan memberimu izin kepada guru dan memastikan semua baik-baik saja. Kamu bisa tenang mengajaknya jalan-jalan bolos di lingkungan sekolah."
Gina awalnya ingin bertindak membuat Sinta dan bundanya seolah udara di hidupnya, tetapi dengan saran Lila dan Putri sepertinya ada cara yang lebih baik untuk mengatasi noda yang membuatnya tak nyaman. Karena dia berusaha untuk mengusik kehidupannya, maka dia tak boleh disalahkan jika dia mengusiknya kembali.
Sinta kembali membawa minuman dan makanan ringan, dia mengambil kursi kosong di meja mereka dan meletakkan makanan ringannya di atas meja. Lila dan Gina tanpa tahu malu langsung mengambil makanan ringan yang dibawa Sinta. Gina dengan santai mengambil yang lain dan memberikannya kepada Putri, Putri juga tak bersikap sopan dan menerimanya dengan senang hati. Sinta memiliki keluhan di hatinya ketika melihat makanan ringan yang dibawanya tinggal sebungkus, namun dia tidak berani untuk mengutarakan keluhannya itu.
Dia menelan kepahitannya dan dengan tenang membuka bungkusan makanan ringannya dan memakannya dengan hati hambar. Dia membelinya dan mereka bahkan tanpa meminta langsung mengambilnya begitu saja. Ini tentu saja bisa disebut perampokan!
"Hei, siapa namamu?" Lila bertanya sambil memajukan tubuhnya dengan penuh minat.
Sinta menatap makanan ringan yang ada di tangan Lila dengan hati yang berdarah namun senyumnya masih manis ketika menjawab. "Aku Sinta, kelas XI IPS 3."
Senyum Sinta membeku atas pertanyaan santai namun mematikan dari Lila. Dia melirik ke arah Gina yang memasang wajah apa-yang-kalian-katakan-bukan-urusanku, dia berusaha semaksimal mungkin mempertahankan senyumnya dan menjawab ucapan Lila. "Iya, aku saudara Kak Gina sekarang."
Lila menggelengkan kepalanya tidak setuju, "Tidak tidak, maksudku kamu adalah anak kandung Pak Wanto, sama seperti Gina."
Sekarang kurang jelas apa lagi ucapan Lila, Sinta seolah merasa waktu berjalan lambat sehingga gerakannya menjadi kaku dan canggung. "Aku? Tidak mungkin!" Ucapnya langsung setelah terkejut beberapa saat.
Gina menatap wajah Sinta lekat-lekat dan kembali memastikan ucapan Sinta, "Tidak mungkin?"
Sinta mengangguk, "Itu tidak mungkin!" Ulangnya.
__ADS_1
Gina melirik Lila dan menaikkan bahunya lalu lanjut mengabaikan Sinta. Sementara Lila terus menatap dengan tatapan menyelidiki pada Sinta. Dia memutuskan untuk berhenti saat ini dan membahas yang lain. "Oh iya Gin, jadi sebentar belajar di rumahmu?"
Gina mengangguk, "Iya, kamu sampaikan saja pada mereka di grup dan katakan kita akan belajar Kimia. Belajar Fisika membuat kepalaku hampir pecah.
Putri mendesah dengan keras, "Benar, aku ketakutan setengah mati ketika Vino terus mengeluarkan soal-soal ujian Fisika. Setidaknya saat ini aku memiliki trauma pada Fisika." Keluh Putri.
Lila tidak ketinggalan, dia merinding ketika mengingat bagaimana mereka dipaksa untuk mengerjakan soal ini soal itu dengan rumus yang tak terhitung jumlahnya. "Vino dengan kemampuan mengajarnya benar-benar mengerikan. Sekarang aku yakin dia memiliki darah Pak Fardin dan Bu Yuli di dalam tubuhnya."
Mereka kemudian membahas hal-hal lain dan secara sadar mengabaikan Sinta yang menatap kosong tak mengerti dengan pembahasan di sekitarnya. Ketika bel berbunyi, dia segera merapikan sampahnya dan ingin kembali ke kelasnya.
"Sekalian buang sampah kami, dan juga bukannya kamu ingin melihat-lihat sekolah? Maka mari aku akan tunjukan tempat-tempat yang harus kamu ketahui tentang sekolah ini." Ucap Gina sambil berdiri dengan malas.
Sinta menatap Gina dengan bingung, "Tapi sudah bel masuk." Ucapnya ragu.
Lila menepuk bahunya dengan pelan namun menekankan kekuatannya setelahnya. "Kamu tak perlu khawatir, kamu anak baru dan tentu saja kamu harus lebih memahami sekolah ini. Siapa yang akan memarahimu karena itu?"
Memungut sampah di atas meja, Sinta mengangguk pelan tampak masih ragu. Tetapi dia masih baru di sini, mereka lebih tahu tentang sekolah ini dibanding dirinya yang baru saja masuk pagi tadi. Jadi mungkin saja sekolah ini memang memiliki kebiasaan untuk memberi kelonggaran pada murid baru untuk lebih aktif mengenal sekolah ini.
Sinta yang malang tidak tahu isi hati busuk tiga gadis bersahabat itu. Andai saja dia tahu dirinya hanya dijebak untuk bisa merasakan omelan tajam wali kelasnya kelak, dia mungkin akan mengutuk dengan keras.
Putri dan Lila berjalan duluan kembali ke kelas. Di jalan Lila mendengus kesal, dia memiliki kepekaan yang baik pada ekspresi orang lain dan tentu dapat merasakan ketidaktulusan pada senyum Sinta saat pertama kali dia menemui mereka. "Apakah dia berpikir disini hanya dia yang bisa bermain peran antagonis, bermain naif dengan rencana buruk? Dia salah memilih target, dia mungkin berpikir Gina adalah protagonis yang mudah ditipu dengan senyum bodohnya." Ucapnya dengan emosi yang buruk. Dia melirik ke Putri dan tersenyum sinis, berkata dengan tampang yang menunjukkan dirinya seorang antagonis sejati. "Dia seharusnya tidak menyinggung tiga tokoh antagonis yang sebenarnya, hahahahahahaaha." Lila tertawa keras hingga suaranya memenuhi koridor sekolah.
Plak
__ADS_1
Putri memukul kepala Lila dengan wajah datar, "Berhenti bermain drama dan ayo cepat ke kelas."