Salah Paham

Salah Paham
Hampir Lupa


__ADS_3

Gina kembali pulang dari sekolah membawa coklat yang berasal dari bocah yang sekali lagi dia lupa namanya. Kamar yang tadi pagi dia tinggalkan berantakan, kini rapi dan nyaman untuk dihuni. Namun, Gina yang tangannya sangat gatal langsung membuat hal yang rapi menjadi berantakan.


Dia masuk ke kamar dan membuang coklat di tangannya ke meja belajar. Dengan gerakan cepat, dia membuka dan membuang seragamnya dari tubuhnya hingga kaos merah dan celana kain yang tadinya menjadi pakaian dalam kini berubah status menjadi pakaian luar.


Tatapannya jatuh ke arah rak buku yang tingginya sepinggang orang dewasa di pojok kamar. Gina mengambil satu buku novel dan membuangnya ke meja, lalu satu buku lagi dan dibuang lagi, dia terus melakukannya hingga mendapatkan novel yang diinginkannya.


Gina adalah tipe manusia yang tidak suka tidur di atas seprai. Sehingga dia langsung membuang selimut yang ada di atas tempat tidur dan menarik seprai yang terpasang rapi di kasur, lalu dibuang bersama tumpukan selimut. Setelah itu dia dengan nyaman menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuk dengan sebuah buku dipelukannya.


Siang hari di bulan Januari hari ini tampak mendung, menandakan musim hujan yang telah tiba. Dimulai dari tahun baru, hujan selalu datang setiap malam. Hingga menyisakan genangan air setiap pagi.


Kali ini, diramalkan hujan datang di siang hari. Dan benar saja, setelah mendung, beberapa tetes air jatuh dari langit dan mulai menjadi lebat. Hujan datang dengan membawa udara dingin, tak perlu bagi Gina untuk menyalakan pendingin udara lagi di siang hari ini.


Karena pengaruh cuaca, Gina belum sempat menghabiskan satu bab untuk dibaca dan dia sudah jatuh tertidur. Tubuhnya melengkung membentuk bola menginginkan selimut untuk menghangatkan. Tapi Gina bukan tipe orang yang bisa diam di dalam selimut. Setiap kali dia tidur di bawah selimut, entah itu panas atau dingin, selimut itu selalu berakhir di bawah tempat tidur. Hingga akhirnya Gina sadar dia tidak nyaman menggunakan selimut saat tidur.


Waktu tidur siang Gina cukup cepat sekitar 30 menit, tapi kali ini dia bahkan belum bangun setelah 2 jam.


Ruangan kamar yang sepi dan suram, tiba-tiba dimasuki cahaya ketika pintu kamar terbuka tanpa peringatan.


Putri dan Lila masuk ke kamar Gina dan melihat pemandangan yang familiar. Setiap kali mereka masuk ke kamar Gina, maka kata 'berantakan' tidak bisa dihilangkan dari pikiran mereka. Lagi pula karena mereka terus melihat kondisi seperti ini, membuat dua gadis itu tidak merasa aneh. Malah jika kamar ini bersih dan Gina ada di dalamnya, maka itulah hal aneh yang tak mungkin terjadi.


Lila mengambil coklat dari atas meja belajar dengan cepat, kalah selangkah dari Putri yang baru saja melihat coklat tersebut. Dengan rasa kesal, Putri mendengus dan langsung duduk di pinggir tempat tidur.


Di tengah tempat tidur, seorang gadis tidur dengan meringkuk sambil memeluk buku novel. Nafasnya teratur membuat orang tak tega untuk mengacaukannya. Tapi kedua gadis penyusup itu berbeda.


Lila mengambil bantal yang terdampar ke lantai dan langsung melemparnya ke Gina. "Gin, ini sudah jam tiga lewat."


Merasa terusik, Gina berdecak kesal dalam mimpinya. Dia tersadar dan membuka matanya dengan berat. Dua makhluk yang disebutnya sahabat langsung masuk ke penglihatannya, membuatnya mendengus dan kembali menutup mata. Bantal yang tadi terlempar ke arahnya dijadikan bantal peluk olehnya.


Tapi dalam sekejap bantal dalam pelukannya diambil dan langsung menampar kepalanya. Gina frustrasi, dengan sangat terpaksa dia membuka matanya dan duduk dengan wajah garang. Dia mengambil bantal dan melemparnya ke Lila, lalu mengambil bantal lain dan melemparkannya ke Putri.


"Pergi dari sini! Aku mau tidur." Ucapnya kesal.


Dia melihat ke arah jendela, kini hujan tak lagi terlihat, hanya suara tetesan kecil yang jatuh dari atap rumah.


"Mereka sudah datang." Ucap Lila. Dia mengambil gigitan coklat terakhir dan membuang bungkusnya ke tempat sampah yang terbanting di samping meja belajar.


Gina mengerutkan keningnya, berpikir lama sebelum mengerti siapa 'mereka' yang disebutkan Lila ini. "Kalian keluar, temani mereka. Aku mau ganti baju dulu."


Tugas membangunkan Gina telah sukses, sehingga Putri dan Lila dengan senang hati keluar dari kamar dan menuju ke ruang belajar Gina dengan langkah besar.


"Mana Gina?" Tanya Beni saat melihat kedatangan Putri dan Lila.


Putri tanpa sadar mengalihkan pandangannya dari Beni dengan detak jantung yang kuat. Pipinya panas saat mengetahui pandangan Beni tertuju kepadanya.


Lila sebagai manusia yang memiliki rangsangan peka, mengerti dengan situasi Putri dan mengambil alih untuk menjawab. "Baru bangun, dia ganti baju dulu."


Beni mengalihkan pandangan ke arah Lila dan mengangguk paham.


Di samping Vino, Fafa duduk dengan kening yang berkerut. Wajahnya tampak membentuk ekspresi keheranan. "Baru bangun?"


Lila dan Putri telah mengambil posisi duduk di karpet lebar. Di banding dengan Beni, Putri lebih berani duduk di samping Dion. Dia telah memutuskan untuk tidak menghakimi perasaan Dion lagi, dan menganggap itu sebagai perasaan yang lewat saja di hadapannya.


"Mungkin karena cuaca, aku juga tadi ketiduran." Jawab Beni.

__ADS_1


Vino sependapat, dia melirik Beni dengan tatapan menuding. "Ya, kalau kamu tidak menelponku, aku pasti masih tidur."


Beni terkekeh, "Salahkan Oon, dia yang duluan membangunkanku."


"Pfft."


Semua pandangan langsung menuju ke Putri, terutama Dion yang berada di sebelah kanannya.


Dengan cepat, Putri berbatuk kecil dan menyesuaikan wajahnya. Setiap kali Beni memanggil Dion dengan sebutan 'Oon', Putri merasa dikelitik dan ingin tertawa keras di hadapan Dion.


Lila menggelengkan kepala ke Putri, menyalahkan sahabatnya itu. "Put, walau lucu, belajarlah untuk menahan tawamu. Setidaknya jangan sampai Dion melihatnya." Ucap Lila menasehati.


Entah kenapa, Dion tidak merasa baik sama sekali saat mendengar itu.


Putri mengangguk paham, dia menoleh ke samping ke arah Dion dan berkata dengan suara rendah. "Iya, maaf On. Pfft."


"Tidak masalah." Ucap Dion dengan wajah datar.


Putri tahu Dion merasa kesal, tapi dia sama sekali tidak takut karena dia juga tahu Dion menyukainya. Jadi walau Dion kesal, dia pasti akan memaklumi tingkah Putri demi perasaannya.


Tapi nyatanya, Dion hanya tidak suka untuk berdebat dengan wanita. Di pikirannya telah tertanam jika apapun itu wanita selalu benar.


Saat itu, suara derit pintu terdengar. Gina dengan wajah malasnya masuk dan duduk di sebelah Putri dan Lila. Dia meletakan cemilan dan kue di tengah lingkaran mereka. Menyingkirkan buku Fafa yang tebal ke pinggir. "Minumannya tunggu sebentar, lagi dibuat. Kalian ingin minum apa?"


Lila dan Putri memilih diam, dan mengatur buku bawaan mereka dengan sikap yang cerdik.


Beni yang pertama menjawab, "Aku teh."


Fafa mengambil bukunya yang tersingkir dengan wajah cemberut dan menjawab dengan asal. "Jus jeruk."


Vino mengernyit ketika mendengar jawaban Fafa, "Aku yang ada saja, yang penting dapat diminum."


"Aku juga yang ada saja." Ucap Bambang dengan pelan.


"Kyaaa, suamiku memang apa adanya dan sederhana." Lila mencubit pipi Bambang dengan gemas.


Yang lain menatap Lila dengan pandangan aneh.


Gina mengangguk paham dan diam. Dia juga mengatur alat tulisnya dan mengambil cemilan yang dibawanya tadi untuk dimakan.


Beberapa menit kemudian, seorang pembantu rumah tangga datang setelah mengetuk pintu. Dia membawa nampan yang menampung delapan gelas kopi. Setelah mengatur ke delapan gelas ke masing-masing orang, pembantu rumah tangga itu keluar dengan sikap rendah hati.


Yang lain menatap kopi dengan perasaan yang tak dapat dijelaskan. Hanya Gina, Putri, dan Lila yang santai dan tidak terganggu. Putri dan Lila sudah terbiasa karena itu mereka diam.


"Oh, aku lupa. Aku cuma punya kopi, kalau kalian tidak suka, buang saja di lantai, nanti Bi Imah yang bersihkan." Ucap Gina santai, dia menyeruput kopi dengan nikmat tanpa peduli reaksi sekitarnya.


Lila terkekeh saat melihat wajah-wajah masam yang ingin berkomentar. "Biasakan saja, lagi pula kopi ini enak. Kalau tidak percaya, coba saja."


Dion dan Vino tak masalah dengan kopi. Mereka sering minum kopi ketika lagi santai. Tapi itu berbeda untuk Beni, Bambang, dan Fafa. Beni diajarkan oleh Ibunya untuk tergila-gila oleh teh, Bambang tak terbiasa dengan kafein, dan Fafa sebagai gadis tulen seratus persen hanya suka hal yang feminim dan kopi sangat tidak feminim.


Tapi pandangan kelima pemuda dan pemudi itu berubah ketika mereka mencicipi kopi spesial ala italia itu. Keluh yang mereka pendam hilang begitu saja. Memberi kesan candu pada kafein.


Fafa adalah orang pertama yang memulai topik belajar, membuat yang lain mau tak mau harus menyelam dalam rumus dan simbol dari pelajaran Matematika.

__ADS_1


Bu Raila ialah seorang guru terkenal kejam yang mengajarkan pelajaran Matematika. Dia memiliki kebiasaan yang begitu buruk, yaitu sekali dia memlndapatkan kesan buruk pada murid maka dia akan memusuhi murid tersebut. Setiap waktu, dia akan membidik murid tersebut dan mencari kesalahannya sebagai alasan untuk menghukumnya. Tapi, sekali dia menemukan murid yang memberinya kesan baik, jangankan nilai, pujian demi pujian akan selalu terlontar dari bibirnya. Nama murid itu akan dibesar-besarkan hingga menjadi terkenal. Salah satunya adalah Fafa.


Fafa pandai dalam pelajaran Matematika sehingga Bu Raila secara otomatis menyukainya. Selain pandai dalam pelajaran, Fafa juga pandai dalam mengambil hati guru. Setiap waktu namanya akan hadir dari bibir Bu Raila. Di setiap kelas yang Bu Raila ajar akan bosan mendengar nama Fafa. Itu membuat seorang Fafa sendiri mau tak mau merasa bangga dan menjadi termotivasi.


Dalam pelajaran Matematika, antusiasnya akan melebihi orang lain. Dia mengambil buku tebal, berinisiatif untuk memulai pelajaran, memberi materi, dan mengerjakan soal-soal.


Gina, Putri, dan Lila terus diam memperhatikan bagaimana cos berubah menjadi sin, sin menjadi cos, dan cos sin tiba-tiba menjadi tan. Seolah melihat sebuah mantra sihir di depan mata kepala mereka sendiri, mereka terdiam terperangah dengan takjub saking tidak mengertinya.


"Kalian paham?" Fafa bertanya dengan semangat, matanya memindai sekeliling, seolah mencari kesukitan dalam mata setiap orang.


Beni orang yang jujur, dia langsung menggelengkan kepalanya.


Fafa mengerutkan keningnya tak suka. Dia senang belajar Matematika, tapi tidak suka mengajari orang yang sulit menyerap pelajaran. "Apa yang tidak kamu mengerti? Tanyakan saja."


"Aku tidak mengerti sampai aku tidak bisa menemukan pertnyaan." Jawab Beni jujur.


Putri tersenyum geli mendengar kejujuran Beni, itu salah satu alasan Putri menyukai Beni. Putri adalah orang yang jaim, tidak berani mengaku kalau dia tak mampu di depan orang lain, sehingga dia sangat memuja kejujuran Beni. Dia merasa Beni adalah pria terbaik dan terjujur yang pernah dia temui.


"Dia memang gitu, dijelasin puluhan kali pun tak bakal ngerti." Sindir Dion dengan suara dingin.


Senyum Putri langsung hilang, dia menatap tajam ke arah Dion seolah ingin memotong orang itu menjadi lima bagian.


Beni mengangkat bahunya tak berdaya, "Bagaimana lagi, aku tak ahli dalam pelajaran rumit sepertu ini." Lalu pandangannya mengarah ke tiga gadis lainnya. "Kalian bagaimana? Apa kalian mengerti?"


Putri langsung kaku, dia tidak ingin mengakui kekurangannya. Tapi Gina untungnya maju dalam pertempuran. "Tentu saja, ini sangat mudah." Ucapnya dengan memandang rendah ke buku pelajarannya.


Putri dan Lila menatap datar ke arah Gina, pasalnya di antara mereka bertiga, Gina yang selalu memiliki nilai Matematika terendah. Tak perlu dijelaskan alasannya, semua itu karena novel telah menjajah otaknya.


Beda Putri, beda Gina, beda juga Lila. Lila langsung mendekat ke Bambang, dia memasang wajah kesulitan. Sambil menunjuk sebuah rumus, dia mengeluh. "Aku tak mengerti ini, bang tolong jelaskan yang ini."


Fafa merasa terhina, dia yang menjelaskan materi ini, seharusnya Lila mengajukan pertanyaan padanya. Tapi dia menyembunyikan kemarahannya dengan senyum tipisnya. Sehingga walau hatinya merah membara, semua orang masih menganggapnya kalem.


Bambang dengan serius memperhatikan rumus yang ditunjuk Lila, dia mengangguk paham dan mulai menjelaskan kepada Lila dengan canggung. Takut Lila tak kunjung mengerti, dia memberi contoh soal dan persamaan serta membuatkan pemahaman yang mudah.


Lila awalnya hanya ingin menggoda Bambang dan cari perhatian, tapi dia tidak menyangka akan mengerti begitu saja dan bisa paham dari penjelasan Bambang. "Bang, kalau yang ini, yang ini!"


Bambang mengikuti gerakan tangan Lila dan menjelaskan kembali dengan perlahan. Yang lainnya secara sadar melihat kembali buku mereka dan mendengarkan penjelasan Bambang yang canggung dan perlahan. Karena suara Bambang pelan, maka setiap orang lebih fokus untuk mendengarkan hingga tidak membuat suara sekecil apapun. Membiarkan hanya suara penjelasan Bambang yang terdengar di ruangan itu.


Bahkan Fafa yang selalu merasa sebagai ahli Matematika, mau tak mau ikut hanyut ke dalam penjelasan Bambang yang begitu mudah dipahami dan menarik untuk didengar.


Setelah selesai menjelaskan, Bambang terdiam dan mendapati setiap pasang mata mengarah padanya. Dia langsung menunduk dengan malu, tanpa sadar menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Bambang, kamu memang yang terbaik!" Seru Lila, dia memeluk lengan Bambang dengan gemas. "Ayo, nikah sama aku!"


"...hah?" Bambang mengerjap tak percaya dengan yang didengarnya. Barusan Lila melamarnya? "Kita masih muda." Jawab Bambang dengan serius.


"Hahaha, aku hanya bercanda Bambang. Lucunya astaga suamiku ini." Lila terkekeh dengan senang. Saat ini dia hanya bercanda, nanti saat mereka sudah dewasa barulah Lila akan membuat Bambang menikahinya. Memikirkan hal itu, membuat Lila tertawa kesurupan.


Gina melirik Lila dan Bambang, "Semua baginya hanya candaan."


Lila langsung terkekeh, "Sewot aja pedofil ini."


Bambang menunduk dan menatap buku pelajaran Lila dengan tatapan kosong. Dia hampir lupa, jangan baper.

__ADS_1


__ADS_2