
Pada saat bel istirahat kedua berbunyi, semua siswa yang telah berada dalam fase mengantuk langsung bersemangat dalam hitungan detik. Rasa kantuk yang tadi menyerang menghilang begitu saja tanpa jejak seolah suara bel ialah sihir ampuh yang menghilangkan rasa kantuk seseorang.
Seperti biasa, ketiga siswi dari kelas XII IPA 2 berkumpul di sudut kelas untuk bermalas-malasan. Sebuah tempat bekal berwarna merah terbuka di tengah mereka memiliki kripik pisang yang diselimuti oleh gula merah. Putri yang membawa tempat bekal tersebut, katanya ini khusus buatan mamanya yang tercinta.
Gina dan Lila tanpa malu-malu memakan kripik itu, mereka bertiga berebutan untuk mencari kripik yang memiliki gula merah terbanyak untuk diambil.
Seolah mengingat sesuatu, Gina langsung mengatakan sebuah nama pada mereka. "Namanya Gilang."
Putri dan Lila menatap Gina dengan bingung.
"Siapa Gilang?" Tanya Putri.
Gina mengunyah kripik dengan malas, berkata dengan suara acuh tak acuh. "Murid baru berandalan yang pernah diceritakan Lila."
Mata Lila sukses melebar, dia menghisap jempolnya yang memiliki cairan gula merah sebelum bertanya dengan semangat. "Sungguh? Darimana kamu tahu?"
"Aku melihatnya." Jawab Gina, dia mengingat kejadian di pagi hari yang ditontonnya secara langsung. Bibirnya miring membentuk senyum yang penuh rasa tertarik. "Lila benar, dia tampan."
Sebagai satu-satunya yang belum melihat 'murid baru berandalan' itu, rasa penasaran Putri semakin besar. "Aku juga ingin melihatnya." Gumamnya tak berdaya.
"Cepat ceritakan, dimana kamu melihatnya? Kapan? Dan bagaimana?" Lila bertanya dengan antusias, nadanya bertambah tinggi.
__ADS_1
"Pagi ini aku disuruh bu guru siapa gitu namanya untuk membawa buku daftar hadir ke kantor kepala sekolah. Saat aku baru sampai ke pintu kantor, aku mendengar suara kepsek marah-marah tidak jelas. Demi sopan santun, aku menunggu dengan sabar mendengarkan kepsek marah-marah dan tidak mengganggunya." Gina berhenti sebentar, dia mengambil kripik dan memasukkan ke dalam mulutnya sebelum lanjut bercerita. "Mendengar omelan kepsek membuatku menyimpulkan beberapa hal. Yang dia marahi itu murid baru kelas sepuluh, namanya Gilang, dan itu adalah yang ketiga kalinya dia dipanggil ke kantor kepala sekolah. Lalu saat suara kepsek mereda, aku mengetuk pintu dan masuk. Yah, tampan sih. Sesuai dengan ciri-ciri yang kamu sebutin. Dan aku mendengar, dia adalah murid kelas sepuluh tertampan di sekolah kita."
Putri meminum air mineral sambil mendengarkan ucapan Gina dengan penuh minat. Saat Gina menyelesaikan ucapannya, dia menyeka mulutnya secara acak dan bertanya. "Kenapa dia dipanggil ke kantor kepsek?"
Gina mengangkat bahunya memberi sikap tak peduli, "Pertama, berkelahi. Kedua, bolos jam pelajaran kedua. Ketiga, hehe..." Gina terkikik dengan cara yang mengerikan.
Lila mencondongkan tubuhnya ke Gina dengan antusias, dadanya berdebar-debar menunggu kelanjutan ucapan Gina. "Apa yang ketiga?"
Gina menyeringai, "Coba tebak."
"Cepat katakan saja! Jangan membuat orang mati penasaran!" Desak Putri.
Putri dan Lila membuka mulut dengan tercengang. Kata-kata yang ingin mereka ucapkan lenyap begitu saja. Tanpa sadar menelan ludah dengan susah payah.
Seseorang seperti ini benar-benar mengerikan.
Berbeda dari Putri dan Lila yang merinding, Gina tampak merasa sangat terkesan dengan murid baru itu. "Dia mengingatkanku pada Noar." Gumamnya senang.
"Siapa Noar?" Tanya Putri.
Gina mengusap bibirnya dengan lengan baju. Dia menaikkan alisnya pada pertanyaan Putri seolah tak percaya Putri melupakan sosok yang bernama 'Noar'. "Aku sering mengatakannya pada kalian, Noar salah satu tokoh utama di novel White Fight, kepribadiannya yang terburuk di antara lima tokoh utama dalam novel tersebut. Tapi jelas, dia yang terkeren. Kebetulan Noar juga seorang murid berandalan dan sering mengacau di sekolah. Saat aku melihat Gilang pagi ini, aku merasa jika yang aku lihat itu adalah Noar. Benar-benar membuatku ingin menyelamatkannya dari kepsek. Hahaha..."
__ADS_1
Putri dan Lila sudah memutar mata saat mendengar kata 'novel'. Saat Gina bercerita tentang novel, mereka dengan sengaja menulikan telinga mereka. Mencoba untuk tidak mendengar cerita lebih lanjut.
"Gilang... namanya bagus juga." Gumam Lila sambil mengangguk membenarkan ucapannya.
Gina dan Putri mengangguk setuju.
Mereka bertiga adalah pecinta cogan. Walau memiliki orang yang mereka sukai, tetap tidak akan menghalangi mereka untuk menghargai ciptaan Tuhan yang lainnya.
Sebagai contoh, Putri suka Beni, tapi tetap masih terpesona dengan roti sobek Dion. Lila suka Bambang, tapi tetap masih memuja aura keren Gilang. Gina suka bocah— eh tidak.
Mereka bertiga terus bercerita dan mencari tahu tentang jati diri Gilang.
Tanpa mereka sadari, seorang pemuda yang tempat duduknya tepat di belakang kelas dapat mendengar pembicaraan mereka. Bambang terus duduk diam di bangkunya menatap buku yang ada di depannya. Tatapannya lurus dan fokus, tapi pikirannya melayang ke alam liar. Setelah bel masuk berbunyi, dia diam-diam menghela napas berat.
Merasakan Gina yang kembali duduk di sebelahnya, Bambang mengangkat kepalanya. Gina mengangkat sudut bibirnya, tersenyum dengan maksud terselubung.
Dia melirik Lila yang sedang berbincang dengan teman sebangkunya, dan berbisik pada Bambang. "Dia menyukai semua pria tampan. Aku mengatakan ini demi kebaikanmu, jangan baper."
Bambang mengikuti pandangan Gina, dia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak pernah baper." Balasnya kembali menatap buku pelajaran yang ada di depannya. Rasanya buku itu menjadi memuakkan.
"Itu bagus."
__ADS_1