
Gina dan Putri duduk beristirahat di pinggir lapangan.
Lapangan pusat ini selalu dijadikan tempat untuk acara-acara resmi dan upacara nasional.
Walau disebut jalan santai ini akan bertujuan ke bundaran, namun acara besarnya tentu berada di lapangan yang kebetulan berada di sisi kiri bundaran.
Di tengah keramaian ini, Gina dan Putri duduk di pinggir lapangan, dimana bayangan pohon besar melindungi mereka dari pancaran langsung sinar matahari. Angin panas dan sejuk terus menyapu melewati mereka.
Gina memakan cilok yang tadi dibelinya dari pedagang kaki lima. Dia dengan enggan membiarkan Putri juga ikut menikmati ciloknya sebagai balas budi atas air mineral yang tadi diberikan padanya. Di antara mereka bertiga, mereka memegang teguh bila tidak ada yang gratis di dunia ini. Untuk orang lain dapat disebut dermawan, tapi untuk sahabat mereka sendiri itu utang. Orang lain dapat melupakannya, tapi mereka harus balas budi.
Sebagai contoh, Putri memberikan permen kaki kepada Gina dan Lila jika dia punya lebih. Maka besok jika Lila dan Gina memiliki permen kaki, dia harus mendapatkan bagian. Tapi ketika dia memberikan permen kaki kepada teman sekelas lainnya, maka dia akan melupakannya dengan ikhlas.
Sehingga bila ada salah satu yang memberi, keduanya tak akan sungkan untuk menerima.
Putri juga tidak segan untuk mengambil cilok terakhir dan menghabiskannya. Sedangkan Gina yang baru saja ingin menusuk cilok, hanya bisa menghentikan tangannya di udara dengan kekesalan.
"Lila, kira-kira kembali atau lanjut kemari, ya?" Ucap Putri sambil terkekeh.
Gina juga memikirkannya, "Mungkin kembali. Tubuhnya benar-benar merepotkan, jalan dikit, langsung pucat."
"Kan ada Bambang, apalagi dia antusias bangat saat pembagian kupon." Balas Putri tidak setuju.
"Ya, sih. Orang centil kayak dia pasti berbunga-bunga saat ini. Liat aja nanti, dia akan menceritakan pengalaman bersepeda dengan Bambang seperti orang kesurupan."
Putri terkekeh geli, dia baru saja ingin membalas ucapan Gina namun matanya menangkap sesuatu. "Itu bukannya sesuatumu?"
"Sesuatuku?" Gina mengangkat alisnya tak mengerti, dia mengikuti garis pandang Putri dan melihat Beta bersama sekelompok sebayanya berjalan bersama dengan riang. "Oh, bocah itu."
"Um? Tidak mau disamperin nih?" Putri tersenyum geli, dia menyiku lengan Gina mencoba untuk menggodanya.
Gina membersihkan sudut bibirnya yang memiliki bekas kecap, matanya tak acuh ketika mengawasi Beta. "Aku bukan pedofil, jika kamu ingin menemuinya, temui saja sana."
"Haha, baiklah, aku akan menemuinya." Putri tertawa kecil dan berjalan meninggalkan Gina.
"Hei, kamu benar-benar ingin menemuinya?" Tanya Gina dengan kesal.
__ADS_1
Tawa Putri menjadi besar, dia melambaikan tangan pada Gina tanda dia tidak akan melakukan itu, tapi kakinya terus berjalan menjauhi Gina.
"Lalu kamu mau kemana?"
Putri menunjuk ke deretan pedagang kaki lima yang berbaris rapi di pinggir lapangan. "Ada penjual gulali disana, mau?
Gina memasang wajah aneh, dia menggelengkan kepala dengan cepat. "Pergilah dan habiskan disana! Aku eneg hanya dengan melihatmu makan itu."
Putri mendecih kesal, dia berjalan ke penjual gulali sambil menggerutu. "Biasanya aku kasih permen, dimakan juga. Padahal sama-sama manis."
Suara Putri tidak kecil, sengaja agar Gina dapat mendengar ocehannya. Tapi Gina hanya memutar matanya acuh tak acuh. Jika saja bukan karena kebiasaan, dia bahkan tidak akan melirik sedikit pun pada permen manapun. Hanya saja, Putri membuatnya terbiasa menghisap permen hingga dia mengecualikan permen dari daftar sesuatu manis yang dihindarinya.
Pandangan Gina berpusat pada panggung yang jauh darinya, dimana ada penyanyi dangdut yang diundang sedang bernyanyi dengan meriah. Suara teriakan serta jogetan menjadi pusat perhatian di lapangan.
Sebuah tepukan di bahu membuat Gina tersentak, dia menoleh dan mendapati Bambang sedang berdiri di belakangnya.
"Mana Lila?" Tanya Gina dengan pandangan menyelidiki.
Bambang menyerahkan lima kupon kepada Gina yang telah kusut. "Lila tidak ingin lanjut, dia memintaku untuk memberikan kalian ini."
Mendengar nada Gina yang dingin, membuat Bambang merasa gugup. Sebuh penyesalan muncul dibenaknya.
Dia mengangguk kaku, "Lila memintaku untuk lanjut."
"Lalu bagaimana dengan dia?"
Bambang menurunkan pandangannya tidak berani menatap mata Gina. "Balik ke rumah Putri."
"Maksudmu dia ngesot ke rumah Putri?"
"...ah?" Bambang terkesiap.
"Dia itu lemah, jangankan ke rumahnya Putri, dia bahkan tidak akan mampu untuk kembali ke Jalan Soedirman."
Rasa bersalah langsung menghujati Bambang, "Maaf."
__ADS_1
"Kenapa minta maaf padaku? Kembali dan bawa Lila dengan selamat!" Ucap Gina tegas.
"Baik." Bambang lekas berdiri dan hendak berjalan ke arah sepedanya. Ekspresi khawatir terpampang jelas di wajahnya. Dia benar-benar takut jika Lila kembali ke rumah Putri dengan ngesot di jalanan.
"Hahaha, hei! Bambang! Hahahahaha astaga hahahaha... Oi Bambang kembali! Hahahaha..." Gina tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya dengan keras. Bahunya bergetar serentak dengan nafasnya yang tak beraturan.
Bambang berjalan kembali dengan bingung, dia tidak mengerti bagaimana bisa seseorang berubah dalam hitungan detik. Jelas saja ekspresi Gina tadi sangat dingin dan membuatnya merasa tak nyaman, namun sekarang Gina telah kembali menjadi orang yang menyenangkan dan mengesalkan.
"Kenapa?" Tanya Bambang dengan canggung.
Gina mengusap air mata di sudut matanya, dia terkekeh geli ketika menatap Bambang yang berdiri kaku di depannya.
"Aku tidak menyangka kamu benar-benar akan kembali ke tempat Lila sekarat. Kamu menyukainya? Hahaha." Ucap Gina dengan nada geli.
Tubuh Bambang seketika kaku, "Suka? Tidak, tidak." Bambang cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
Gina mengangkat alisnya, suaranya mulai santai. "Oh, kamu tidak suka Lila? Iya sih dia menyebalkan, jadi tak heran banyak yang tak suka dengannya."
"Bukan begitu!" Ucap Bambang panik.
Senyum licik langsung muncul di wajah Gina. "Bukan begitu bagaimana? Intinya kamu suka dia atau tidak?"
Bambang diam, dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Gina.
"Biar aku perjelas," Gina menatap Bambang penuh minat, berusaha untuk mendapatkan perhatiannya. "Lila hanya bercanda padamu." Lanjutnya dengan mata lurus menatap Bambang, mengamati setiap reaksi sang lawan bicara.
Bambang menatap Gina tak mengerti. "Maksudnya?"
"Lila selalu begitu, dia selalu menggoda cowok tampan. Setiap dia melihat cowok yang menurutnya tampan, dia akan mendekatinya dan merayunya, jadi jangan menganggap serius setiap ucapannya. Kamu mengerti maksudku bukan?" Kata-kata Gina begitu santai, dikeluarkan tanpa beban dan bebas.
Bambang mengangguk paham, dia tersenyum pahit. Jelas dia mengerti, beberapa gadis sering memperlakukannya seperti itu. Menatapnya karena dia tampan, lalu mendekatinya, setelah bosan dengannya, mereka akan pergi ke seseorang yang lebih menarik darinya.
"Kenapa kamu terlihat sangat kecewa? Kamu benar-benar menganggap serius ucapan Lila?" Ada sedikit nada terkejut dalam ucapan Gina. Dia menatap Bambang tak percaya. Jelas semua hanya aktingnya.
Bambang dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak! Aku pergi dulu." Dia lalu berjalan cepat meninggalkan Gina. Jalannya tidak seimbang, membuatnya terlihat linglung.
__ADS_1
"Ah, sekarang aku tokoh antagonis." Gumam Gina sambil terkekeh geli.