Salah Paham

Salah Paham
Multi Panggilan


__ADS_3

"Ayah mau keluar dulu."


Gina bergumam malas, dia memusatkan pandangannya ke televisi yang sedang menayangkan iklan. Kakinya lurus berada di atas meja dan tangannya terus menerus mengambil kripik kentang dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


Ayah Gina melihat respons malas putrinya dan menggelengkan kepalanya. Dia mengacak rambut Gina yang membuat putrinya itu mendengus kesal. "Hati-hati di rumah, jangan berkeliaran di luar. Kalau lapar, makanan sudah ada di meja makan, dan jangan lupa mandi. Selama libur kamu jadi malas mandi."


"Iya, iya Yah!" Gina menggelengkan kepalanya mengusir rambut yang menghalangi wajahnya. "Ayah keluar aja, nanti telat." Usir Gina dengan gusar.


Ayah Gina melihat jam tangannya dan mengangguk membenarkan ucapan Gina. "Ayah keluar dulu."


"Iyaaaaa."


Gina melirik ke arah ayahnya yang berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu, setelah pintu kembali tertutup sempurna, Gina kembali memusatkan perhatiannya ke televisi dengan pandangan kosong. Rumahnya besar dan sepi, hanya ada dia disini dan suara televisi yang menemaninya.


Walaupun Gina sedang libur panjang dari sekolah, dia tetap ingat ini hari minggu, jelas ayahnya tidak pergi ke kantor. Tapi tadi ayahnya keluar dengan pakaian rapi yang lebih rapi dari pergi ke tempat kerjanya, membuat Gina mau tidak mau menaruh perasaan curiga terhadap ayahnya.


Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Ayah Gina masuk dengan lari kecil menuju kamarnya. "Ayah lupa bawa sesuatu."


"Lupa apa?" Tanya Gina acuh tak acuh.


"Sudah ketemu. Ayah keluar dulu!" Lalu pergi begitu saja setelah mengacak rambut Gina.


Gina sekali lagi menatap pintu yang kembali tertutup, dia merapikan rambutnya dan menatap malas ke televisi.


Berapa banyak pun Gina memakan kripik kentang di tangannya, perutnya tak akan mengaku kenyang sebelum ia memakan nasi. Sehingga dengan malas Gina berdiri dan berjalan ke meja makan, dia membuka penutup makanan dan melihat nasi dan kari ayam yang menggodanya.


Di ruangan dengan cahaya remang dari matahari, suara sendok dan piring saling beradu menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Gina makan dalam diam, dan menghabiskannya. Setelah itu, meninggalkan piring kotor di meja makan dan berjalan ke kamarnya.


Dia mengambil buku novel yang ada di meja belajarnya dan membawanya ke kasur. Dengan tidur terlentang, dia membaca novel untuk membunuh waktu.


Nada dering ponselnya membuat perhatiannya terganggu, dia menjawab panggilan dari Putri dan menggunakan mode pengeras suara dan meletakkan ponselnya ke kasur.


"Ginaaaa!" Suara nyaring Putri memecahkan keheningan di kamar Gina.


Kemudian terdengar gerutu kesal dari Lila. "Jangan teriak-teriak, Put! Sakit telingaku."


"Oh, ini multi panggilan." Gumam Gina.


"Iya, baru sadar?" Tanya Putri. Kegembiraan dalam suaranya tak bisa disembunyikan.


"Kamu ketemu dengan Beni?" Tanya Gina sambil terkekeh pelan.


"*Bagaimana kamu tahu?"


"Apa? Putri dan Beni ketemuan? Dimana?"


"Haha, di lapangan! Aku senang gila*."


"Mungkin maksudmu, kamu senang dan gila." Ucap Gina dengan geli.


"Kamu yang gila!"

__ADS_1


"Jadi napa nelpon kami?" Suara Lila terdengar cemberut. "Untuk pamer?"


"Hehe, iya, salah satunya untuk pamer."


Gina menangkap petunjuk dalam ucapan Putri, "Selain itu apa?"


"*Beni ajak kita belajar kelompok, yeeee!"


"Apa*?!"


"Hah?"


Gina dan Lila terkejut bersamaan, mereka tak berpikir sahabat mereka sudah berjalan cepat tanpa sepengetahuan mereka.


"*Serius kamu?"


"Duarius malahan*."


Gina memutar matanya, "Put, kembali tidur sana. Jangan mimpi di siang bolong. Untuk apa coba Beni ajak kita belajar kelompok?"


"*Ini bukan mimpi! Bukannya jelas Beni suka sama aku!"


"Dalam mimpimu! Kenapa aku harus ikut belajar kelompok*?" Gerutu Lila.


"Hei, kita sudah kelas 12."


"Terus?" Tanya Gina dengan datar. "Aku lebih baik baca novel daripada baca buku pelajaran."


"Benar! Aku lebih baik nonton drama Korea daripada ngerjain rumus." Timpal Lila.


"Baca novel itu berguna, kamu bisa merasakan bagaimana menjadi tuan putri, penjahat, dan pahlawan dengan membaca. Kamu bisa mengerti tentang masalah hidup dan kekejaman dunia."


"Benar! Yang kami lakukan jelas berguna, nonton drama juga salah satu apresiasi kita terhadap sutradara dan para aktris dan aktor. Tidak mudah untuk menciptakan suasana menyenangkan dan menyedihkan yang ada di drama. Bayangin aja kalau kamu aktris dan diminta untuk berakting gembira saat hatimu sedang sedih, itu sulit!"


Gina tahu Lila mendukungnya, tapi dia tidak bisa untuk tidak menghina Lila. "Iya, kamu mengapresiasi drama dari negara asing, tapi tidak dari negara sendiri. Kalau kamu benar-benar mengapresiasi itu, maka mulailah untuk menonton sinetron dari sekarang."


Putri tertawa senang, sedangkan Lila mendengus keras merasa dikalahkan.


"Aku sedang membantumu!"


"Terima kasih, tapi tak perlu." Jawab Gina datar.


Putri kembali ke topik utama. "*Jadi kalian mau ya ikut belajar kelompok."


"Ogah*." Jawab Lila cepat.


"Malas." Jawab Gina juga.


"*La, kamu bisa mengajak Bambang juga."


"Oke*!"

__ADS_1


Gina terdiam tanpa bisa berkata-kata.


"Gin, kamu..."


"Apa? Kamu mau bujuk aku pakai apa?" Tanya Gina dengan kesal.


Putri tertawa, "Gina yang terbaik, pasti bakal ikut tanpa dibujuk."


"Dih, aku maunya dibujuk."


Lila putar haluan dan mendukung Putri, "Gin, kamu ikut aja."


"Iya, kamu bilang gitu karena mau ajak Bambang."


"*Haha, kamu bisa bawa pacar shotamu itu."


"Apa? Gina punya shota*?"


"*Benar! Kamu belum lihat kan? Waktu festival, aku melihat Gina bersama anak laki-laki. Imut bangat!"


"Gina, aku tidak menyangka kamu benar-benar pedofil*."


Gina memijit pelipisnya dengan frustasi. "Itu bocah yang tak sengaja aku temui, oke? Jangan asal."


"*Put, siapa nama anak itu?"


"Um, entah. Gin, siapa namanya*?"


Gina terdiam, bocah itu selalu menyebutkan namanya, tapi Gina bahkan tak mengingatnya sedikit pun. "Tidak tahu."


"*Ekhem, tenang kami tidak bakal merebutnya."


"Haha, kamu salah La. Kalau kamu melihatnya, kamu pasti ingin menculiknya."


"Apa seimut itu? Gina, kamu benar-benar pedofil*."


"Tidak! Itu cuma bocah asal yang tak sengaja aku temui."


"*Um, begitu kah? Putri, kamu lihat kedekatan Gina dan anak itu?"


"Ya! Mereka berbicara dengan riang. Dan ah, Gina juga mengusap rambutnya."


"Demi apa? Ginaaa, kamu pedofil*."


"Tidak, bukan begitu."


"*Jadi, bagaimana? Apa kamu ingin bilang tanganmu keseleo tak sengaja menyentuh kepala anak itu? Hahaha..."


"Hahaha... Tidak apa-apa, Gin. Kami sebagai sahabatmu akan menerimamu apa adanya. Kami terima kamu pedofil*."


Gina frustasi mencari alasan untuk mengelak, jelas dia memang menyukai anak kecil karena mereka lucu tapi bukan perasaan seperti yang Putri dan Lila pikirkan. Dia bahkan tak berpikiran untuk jatuh cinta pada siapa pun, apalagi bocah yang imut itu.

__ADS_1


"Lupakan saja." Gina memutuskan panggilan dan kembali membaca novelnya.


Keheningan panjang kembali terjadi, membuat Gina sedikit menyesali dirinya yang memutuskan panggilan dengan kedua sahabatnya itu.


__ADS_2