Salah Paham

Salah Paham
Rencana


__ADS_3

Beni memiliki jam biologis yang tak bisa dihilangkan, kapanpun dia tidur, dia akan selalu bangun jam 6 pagi. Setelah kedua matanya terbuka dengan paksa, tangannya dengan lihai menemukan ponsel genggamnya dan membuka obrolan pesan pacarnya untuk mengucapkan selamat pagi. Setelah itu, dia meletakkan ponselnya kembali ke samping bantalnya dan kembali tidur dengan nyaman.


Sepuluh menit sebelum jam 7, alarm dari ponsel pintarnya berbunyi dengan berisik membuat Beni bangun dengan perasaan terkejut. Dia mematikan alarm dan dengan cepat cuci muka, gosok gigi, memakai baju seragam, dan pergi ke sekolah dengan berlari sekuat tenaga.


Seperti biasanya, dia sampai di kelas tepat jam 07.05 pagi. Dia duduk di bangkunya dengan terengah-engah menatap Dion yang tengah asik bermain dengan ponsel pintarnya. Dua menit kemudian, mata Dion fokus pada jam dinding yang berada di atas papan tulis. Tatapannya dalam dan kosong, penuh dengan penindasan dan kerapuhan. Setelah menit berubah, Dion kembali bermain dengan ponselnya seolah tidak ada yang terjadi.


"Oon, bagaimana hubunganmu dengan Putri?" Tanya Beni dengan rasa penasaran yang besar. Sengaja untuk memprovokasi Dion.


Jari Dion yang bergerak di layar ponselnya langsung berhenti, tatapannya tajam menusuk tepat ke inti Beni. Membuat Beni bertanya-tanya, apakah dia pernah menyinggungnya.


"Aku tidak memiliki hubungan dengan Putri." Ucap Dion penuh penekanan. Dia masih memiliki dendam dengan kenyataan bahwa Putri salah paham dengan perasaannya dan menyatakan menolaknya karena dia menyukai Beni. Walau Beni tentu saja tidak bersalah atas itu, tetapi kenyataan dia dikalahkan olehnya karena seorang wanita membuat Dion menjadi kesal. Dia tidak ingin mengakui jika Beni memiliki daya tarik yang lebih kuat darinya.


Beni mengangkat bahunya tak berdaya, "Urusan cinta selalu rumit."


Dion mengabaikannya dan terus sibuk dengan ponsel pintarnya.


"Kak Beni!"


Beni menoleh ke arah pintu dan menemukan seorang siswi yang sedang menatapnya dengan mata gelisah. Melihat Beni telah mengalihkan perhatiannya kepadanya, siswi itu melangkah maju ke depan meja Beni.


"Ada apa, Fa?" Tanya Beni sambil mengangkat alisnya, suaranya terdengar tegas dan penuh tanggung jawab. Namun dalam hatinya, Beni tahu dia pasti akan direpotkan lagi dengan nama OSIS.


Siswi yang bernama Sifa itu meremas kedua tangannya dengan cemas, matanya berair seolah sedang diintimidasi. "Pak Satya ingin rapat bersama anggota OSIS untuk membahas masalah festival itu."


"Ck, guru botak itu." Gumam Beni kesal. Dia mengangguk penuh keyakinan, "Oke, atur saja rapat sesuai yang Pak Satya inginkan. Aku akan membicarakannya dengan baik nanti."


Sifa mengangguk mengerti, "Aku akan memberitahu Kak Beni waktunya." Ucapnya tergesa-gesa. Sepertinya dia baru saja terkena omelan tajam dari Pak Satya yang terkenal kejam itu.

__ADS_1


"Oke."


"Jangan terlambat lagi, Kak!" Pinta Sifa sebelum meninggalkan kelas XI IPA 5.


"... Oke."


Di belakang Beni, Dion terkekeh dengan geli. "Jangan terlambat lagi, Kak." Ucapnya mengejek mengulangi perkataan Sifa.


Beni memutar tubuhnya dengan cemberut, wajah penuh percaya diri dan ketegasannya hilang seketika. "Guru botak itu selalu mencari kesalahan OSIS, menentang semua rancangan tetapi tidak memberi masukan." Keluhnya.


Dion menepuk bahu Beni dengan penuh prihatin. "Yang penting kamu terkenal, hahaha."


Beni mendengus keras, mengeluarkan semua unek-uneknya pada Dion. "Guru itu terlalu ketinggalan jaman, sama sekali tidak memikirkan hasrat anak muda. Dari awal sampai akhir, dia selalu menentang kebijakan OSIS. Mengatasnamakan dirinya sebagai guru dan begitu mudah merombak peraturan. Padahal guru lainnya oke oke aja dengan kebijakanku. Belum lagi tentang festival ini, aku sangat menantikannya! Tapi jika saja guru botak itu tidak menghalangi, pasti akan mudah mengadakan festival dari dulu. Kali ini pasti akan berhasil, aku tidak akan gagal lagi."


Dion sedikit tertarik dengan festival yang dikatakan Beni, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dengan penuh minat. "Festival apa?"


"..." Dion menatap kosong pada Beni yang tergila-gila pada festival. Tentu saja anak itu hanya ingin hiburan dan bermain-main dengan alasan meningkatkan dan mengeratkan ikatan persaudaraan satu sama lain. "Enyahlah."


Beni menggelengkan kepalanya enggan untuk pergi seperti kecoak yang enggan mati. "Aku harus berjuang untuk festival kali ini! Pasti akan berhasil."


Dengan malas, Dion mendorong Beni untuk kembali menghadap ke depan. "Oke, oke, semoga berhasil." Ucapnya dengan terpaksa.


Seperti perkataannya, Beni benar-benar berusaha keras untuk memperjuangkan keberhasilan Festival Tahun Baru yang dia rancang dengan baik. Dia mulai berdebat dengan Pak Satya, lalu meminta dukungan dari guru-guru lain yang selalu mendukungnya, dan mulai mendapatkan persetujuan resmi.


Dengan begitu, OSIS mulai sibuk dalam pengaturan festival dan menyebarkan lembaran-lembaran undangan Festival Tahun Baru.


Tentu saja itu akan menarik perhatian para murid, mengingat festival tersebut akan dilaksanakan setelah ujian kenaikan kelas berakhir. Menjadikan hiburan pas untuk mendinginkan otak yang telah selesai berperang dalam soal-soal ujian.

__ADS_1


Setiap kelas diharuskan untuk membuat stan atau pertunjukan untuk hiburan. Selain itu, orang luar dapat ikut datang ke dalam festival sekolah hingga acaranya akan dijamin ramai dan meriah.


Beni mati-matian mengemis dana pada kepala sekolah dan terus mengutarakan kata-kata mutiara sebagai alasan. Seperti, ini adalah acara terakhir kelas 12 dan ini untuk membangun kedekatan warga sekolah. Selain itu, acara ini juga akan menjadikan sarana untuk orang luar lebih mengenal sekolah ini, dan memberi peningkatan dalam sudut pandang orang lain.


Dan setelah semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya, barulah Beni dapat duduk tenang dengan puas. Tatapannya dengan sombong menatap Dion seolah meminta pujian atas kerja kerasnya yang selalu dihina dan diabaikan.


Dion bertepuk tangan dengan enggan sebagi apresiasi, "Selamat." Ucapannya tanpa emosi sama sekali.


Beni sama sekali tidak memperhatikan sikap acuh tak acuh Dion dan hanya mengangguk senang. "Festival Tahun Baru pasti akan meriah!"


Dion memutar matanya, "Jangan terlalu berharap, nanti kelas kita mau buat stan apa?"


"... hah? Itukan urusan kalian." Ucap Beni dengan enteng.


"Menurutmu kamu berada di kelas mana? Tentu saja ini juga urusanmu, lagipula semua ini idemu." Geram Dion.


Beni mengangkat bahunya acuh, "Buat stan makanan atau minuman saja. Aha! Pelayannya menggunakan kostum kucing!" Mata Beni langsung berbinar.


Dion mengerutkan keningnya tidak setuju, "Menggunakan kostum pasti sangat panas."


Beni menggelengkan kepalanya, "Kostum menurutmu berbeda dengan kostum menurutku. Pelayannya memakai baju pelayan tapi menggunakan bando telinga kucing dan ekor kucing. Wah pasti meriah."


"..."


Beni tertawa saat melihat wajah datar Dion, "Hahaha tentu saja kamu tidak perlu menggunakan itu. Ini khusus untuk siswi saja! Yang laki-laki tugasnya membuat hidangan dan tidak perlu melayani pembeli."


"Terserah kamu."

__ADS_1


Beni mengangguk dan mulai memaparkan idenya kepada semua murid kelas XI IPA 5. Setelah memberitahu ide cemerlangnya, para siswa laki-laki bersorak setuju dan tak sedikit siswi yang ikut setuju merasa itu menarik dan menyenangkan. Dengan begini, mereka mulai mempersiapkan kebutuhan festival nanti.


__ADS_2