
"Cepat, cepat, sudah dimulai!"
Lila tidak tahu apa-apa, dia hanya mengerti orang-orang disekitarnya telah jalan. Dia dengan cepat menyimpan ponselnya dan berjalan di antara Gina dan Putri.
Tapi karena masalah kebiasaan, Putri langsung masuk di antara Gina dan Lila, mengambil posisi di tengah. Dia terbiasa dengan mereka berdua berada di sisinya.
Lila menyiku Putri dengan tidak suka, walau dia tahu Putri selalu posesif dengan posisi di antara mereka, dia cukup enggan untuk membiarkan Putri merasa puas.
"Wow, aku tidak dapat melihat ujungnya!" Seru Gina semangat ketika melihat ke depan dan belakang.
Lila dan Putri juga ikut melihat ke depan dan ke belakang, mengangkat kepala mereka berusaha untuk melihat ujung dari keramaian manusia ini.
Mereka bertiga berjalan dengan santai sambil melakukan hobi mereka, bergosip. Bahkan mereka tidak peduli dengan keramaian di sekitar dan menceritakan banyak hal secara terbuka.
Jalan santai ini dilaksanakan oleh pemerintah sebagai kegiatan tahun baru, walau disebut jalan santai, banyak juga yang membentuk kelompok kecil lari dan bersepeda di bagian pinggir orang-orang yang berjalan. Selain itu, banyak kegiatan lainnya yang akan menunggu mereka ketika sampai di bundara nanti. Seperti beberapa lomba dan acara hiburan, serta pembagian hadiah.
Lila sangat antusias tentang hadiah, dia memiliki kupon terbanyak di antara mereka bertiga. Dan ini salah satu alasan dia rela bangun pagi untuk pergi jalan santai menggunakan kedua kakinya yang lemah dan rapuh.
Baru saja berjalan sepuluh menit dan Lila berhenti dengan keringat yang membasahi tubuhnya, wajahnya terlihat begitu menyedihkan membuat Gina dan Putri mengambil beberapa foto untuk diabadikan.
"Hei, berhenti!" Geram Lila marah, dia mengulurkan tangannya ke kamera ponsel Gina untuk mencegahnya mengambil gambar wajahnya yang menyedihkan.
Gina dan Putri terkekeh dan akhirnya berhenti setelah mengambil sepuluh gambar. Mereka berdua memperlambat jalan mereka agar Lila dapat mengistirahatkan diri.
Putri mengalihkan tatapannya ke keliling, lalu bertanya pada Lila. "Kamu mau minum?"
Lila mengangkat wajah pucatnya, dia mengangguk penuh mohon. "Iya."
Tapi dia tak berharap Putri terus berjalan ke depan tanpa membelikannya air mineral, bahkan dalam kemasan gelas sekalipun. Dia hanya ber'oh'ria dan lanjut bergosip dengan Gina.
"Hei, iblis!" Geram Lila. Dia hampir tidak kuat lagi untuk menggerakkan kakinya.
Gina dan Putri terkekeh, benar-benar menguji kesabaran Lila. "Kenapa?"
Lila kembali berhenti berjalan, menyangga tubuhnya dengan berpegangan pada Putri dan Gina. "Kenapa tidak membelikanku air?"
"Kamu masih punya uang untuk beli air?" Tanya Putri tanpa mengubah ekspresinya.
__ADS_1
"Kalian ingin aku mati?" Tanya balik Lila dengan ekspresi menyedihkan.
Akhirnya Gina dan Putri merasa kasihan dan membawa Lila ke pinggir jalan raya, lalu setelah berdebat siapa yang akan membeli air, Putri pergi ke kios kecil dan kembali dengan tiga botol air mineral.
Karena kelelahan yang panjang, Lila langsung mengambil air itu dan meminumnya dengan ceroboh. Dia seperti ikan yang lama tinggal di darat, hampir mati karena kekurangan air untuk hidup.
"Bambang!"
"Puff." Lila menyemburkan air yang diminumnya ketika mendengar Gina berteriak menyebut nama yang dikenalnya. "Mana Bambang?"
Sebuah sepeda gunung berwarna merah menyala berhenti tepat di samping mereka, Bambang duduk di atasnya dengan ekspresi terkejut.
Tatapannya menyapu ke arah Gina yang memanggilnya, lalu dia mengenyit ketika pandangannya jatuh ke Lila. "Lila kenapa?" Tanyanya prihatin ketika melihat wajah pucat Lila.
Lila hampir menangis ketika melihat Bambang, dan ketika Bambang bertanya keadaannya, dia yang mulanya lemas tak bertenaga secara ajaib bisa berdiri dan mendekat ke Bambang.
"Aku sakit, Bang." Keluhnya dengan manja. Gina dan Putri memutar mata melihat tingkah norak sahabat mereka.
Bambang memasang ekspresi khawatir, membuat Lila bersorak senang. "Bang, kamu tidak tanya aku sakit apa?"
"Aku lelah, berjalan membuatku sakit. Sebenarnya aku ini memiliki phobia jalan. Aku akan mati jika jalan beberapa meter lagi." Jawab Lila dengan wajah memelas. Bahkan Bambang yang polos pun tahu dia sedang berbohong.
Putri menatap datar Lila dan langsung menarik Gina. "Mari kita lanjut jalan." Lalu tatapannya mengarah ke Bambang, "Bambang, kami serahkan si phobia jalan itu padamu. Kami sudah nyerah."
Melihat Putri dan Gina telah pergi, Bambang menatap bingung pada Lila. Walau dia tahu Lila berbohong pada phobia jalannya, tapi wajah pucat dan keringatnya jujur dia tidak mampu berjalan lagi.
Tapi sepeda yang Bambang gunakan tidak memiliki tempat duduk di belakang untuk Lila, membuatnya tak berdaya. "Um, kamu mau kembali atau lanjut ke bundaran?"
Sejujurnya, Lila tak mampu lagi. Walau dia naik sepeda, tetap saja kepalanya masih pening dan dia merasa mual. Namun, mengingat dia bisa berada di sisi Bambang sepanjang jalan menuju bundaran, Lila menguatkan fisiknya. "Tidak masalah jika aku ingin kamu mengantarku di bundaran?"
Bambang secara refleks menggelengkan kepala, dia sama sekali tidak tahu cara menolak permintaan orang lain. "Ti-tidak masalah."
Lila memaksakan senyum manisnya walau tetap terlihat menyedihkan. "Bercanda, haha. Aku akan mati setelah sampai ke bundaran."
Bambang menatapnya bingung, "Kamu tidak mau lanjut?"
Lila mengangguk, dia juga sadar sepeda Bambang tidak dapat memuatnya. Walau mungkin saja dia bisa naik di bagian top tube, tetap saja dia tidak ingin Bambang merasa kesusahan mengendalikan sepeda karena berat badannya. Dia tidak ingin Bambang menganggapnya gemuk!
__ADS_1
Bambang berpikir sebentar lalu kembali menatap Lila dengan canggung. "Jadi, kamu mau aku antar pulang?"
Mau! Sangat mau! Lila berteriak semangat dalam hatinya.
Tapi yang dilakukannya adalah menggelengkan kepala. "Tidak perlu, aku hanya akan istirahat di rumah Putri. Tempatnya sangat dekat." Walau itu yang dia ucapkan, tapi rasa khawatir pada dirinya sendiri membuatnya gelisah. Dari tanda start sampai sini saja dia sudah kesusahan, apalagi kembali sendirian ke rumah Putri. Dia pasti akan pingsang di tengah jalan.
"Tidak masalah, aku akan mengantarkanmu."
Lila sedikit terpana dengan kegigihan Bambang, pasalnya dialah yang selalu aktif dan Bambang selalu bersikap pasif padanya. Jika dia berada di situasi berbeda, mungkin dia akan loncat kegirangan dan menerimanya begitu saja.
Lila kembali memikirkan kebohongan apa lagi yang bisa dia bentuk. "Gini, Bang. Aku sebenarnya tidak phobia jalan." Ucap Lila dengan serius, Bambang hanya diam karena tahu kebohongan itu. "Aku sebenarnya phobia sepeda." Lanjutnya.
"..." Bambang tercengang. Apakah ini kebohongan lainnya?
Lila terhibur dengan ekspresi Bambang, dia berusaha bertingkah setegar mungkin, sehingga kebohongannya tak memiliki celah. "Aku akan kembali, kamu lanjut saja. Kalau kamu bertemu kembali dengan dua iblis itu, berikan ini pada mereka." Ucap Lila sambil memberikan lima kupon jalan santai pada Bambang. "Sampaikan pesanku, katakan pada mereka jangan sampai mereka mencuri barang yang menjadi hadiahku."
Bambang mengangguk otomatis, tidak memiliki cara untuk menolak Lila. Dia menatap lima kupon di tangannya dengan linglung. "Tapi, kamu?"
"Aku tahu kamu tak bisa pisah dariku, begitu juga aku. Tapi lima kertas ini, walaupun hanya potongan kertas tapi angka-angka yang tertulis di dalamnya memiliki makna yang penting. Percayalah, jika aku memenangkan kulkas dan sepeda motor, aku pasti akan menyimpannya untuk rumah masa depan kita."
Kata-kata Lila begitu lembut dan mengalir sealami mungkin, disertai dengan tatapannya yang menunjukkan seolah ini permintaan terakhirnya membuat Bambang merasa malu untuk membalasnya.
"Kalau begitu, aku lanjut. A-ku, aku akan berikan ini pada Gina dan Putri." Ucap Bambang yang gugup. Dia malu untuk melihat wajah Lila.
Mendengar itu, akhirnya Lila menghela nafas lega walau ada sedikit rasa enggan dalam hatinya.
"Dadah Bambang." Ucapnya sambil melambaikan tangan.
Itu artinya, Bambang harus segera pergi.
Bambang masih memiliki ekspresi khawatir di wajahnya, dia memperhatikan keadaan Lila terlebih dahulu. Melihat Lila memasang senyum nakalnya, Bambang tidak ragu-ragu untuk pergi begitu saja.
"Imutnya." Gumam Lila gemas.
Dia tersenyum senang karena Bambang setidaknya sedikit khawatir padanya. Lalu dia duduk di pinggir jalan dengan tragis, menunggu penatnya hilang dan kembali normal lagi.
"Bagaimana nasibku sekarang?" Tanya Lila pada diri sendiri dengan putus asa.
__ADS_1