
Dion tidur tengkurap sambil membaca buku sejarah. Dia memiliki aturan yang tidak bisa dilanggar untuk dirinya sendiri. Salah satunya adalah membaca selama 77 menit dalam sehari. Peraturan itu sangat menyusahkan tetapi Dion pantang melanggar aturan, sehingga dia kadang menyicil waktu membacanya. 77 menit tersebut akan dibagi untuk pagi, siang, sore, dan malam sehingga kesulitannya berkurang.
Pintu kamarnya terbuka dengan keras, tanpa menoleh pun Dion tahu jika yang datang adalah makhluk biadab yang disebut teman. Beni berlari dan menghempaskan tubuhnya di kasur Dion. Dia mengeluh tentang rapat OSIS yang begitu lama dan betapa cerewetnya guru-guru.
"Mereka selalu menyalahkan OSIS untuk ini dan itu, kalau gitu kenapa tidak mereka saja yang melakukan semuanya?" Keluh Beni.
Dion menendang Beni agar menjauh darinya hingga Beni berguling-guling ke ujung kasur. "Kalau kamu tidak suka dengan itu semua, kenapa kamu mencalonkan menjadi Ketua OSIS?"
Beni terlihat murung, dia agak menyesali antusiasnya menjadi populer. Namun kepalanya tiba-tiba mendongak, menatap Dion dengan senyum nakal. "Jangan mengelak kali ini! Aku sudah mendengar semuanya."
Dion tetap diam melanjutkan kegiatan membacanya. Tinggal 5 menit lagi.
Beni tertawa keras, "Hahaha, seorang Dion baru saja ditolak. Hahaha, tahun lalu siapa orang yang mengatakan padaku jika dia tidak akan pacaran selama sekolah? Dion, apakah kamu tahu orang ini? Tidakkah kamu merasa orang ini hanya mengatakan omong kosong yang tidak bisa dipertanggung jawabkan? Eeeh, dia kan ditolak, jadi dia belum melanggar ucapannya. Hahahahaha."
Setelah lima menit berlalu, Dion melempar bukunya dengan keras pada Beni. "Aku tidak menembak siapapun. Hanya saja..." Kata-kata Dion berhenti. Dia cukup bingung dalam memilih kalimat yang bagus.
Beni mengangkat sebelah alisnya, "Hanya saja?"
"Tidakkah kamu merasa siswi yang bernama Putri ini sedikit... gila?" Tanya Dion sedikit ragu.
Beni memicingkan matanya, menatap aneh Dion. "Apakah kamu mengatakan jika semua cewek yang menolakmu itu gila? Ayolah, jangan seperti ini! Ditolak sekali adalah hal biasa, jadikan ini pengalaman berhargamu."
"Aku tidak menembak cewek itu!" Ucap Dion dengan nada sedikit kesal karena Beni terus saja menafsirkan ucapannya dengan hal lain.
Beni terkejut, "Kamu tidak menembaknya?"
Dion mengangguk, "Aku tidak menembaknya tapi aku ditolak."
"Hah? Bagaimana bisa?" Tanya Beni heran.
"Aku juga heran, bagaimana bisa? Jelas-jelas aku tidak menembaknya, tapi dia menolakku seolah aku sudah mengejarnya sejak lama. Bukankah cewek yang bernama Putri ini gila?"
__ADS_1
Beni duduk bersila, tangannya menyentuh dagunya saat dia berpikir keras. "Aku tidak terlalu mengenal Putri, hanya beberapa kali aku bertemu dengannya. Tapi, aku rasa dia masih waras. Atau mungkin kamu memiliki gejala syok setelah ditolak. Kamu akan melupakan segalanya setelah ditolak, karena itu kamu merasa tidak pernah menembak Putri."
Dion memutar matanya malas. Dia mengambil ponselnya dan membuka akun media sosialnya. Terlalu malas untuk meladeni imajinasi liar Beni.
Beni mengangguk seolah membenarkan ucapannya. "Tentu saja seperti ini. Sudah lama kamu tidak merasakan sakit hati, sekali kamu merasakan ini, kamu akan kembali mengingat masa lalumu. Lalu kamu terkena gejala parah yang disebut merindukan belaian seorang wanita."
Dion meletakkan ponsel di telinga kanannya, dia berbicara dengan suara keras agar Beni mendengarnya. "Beni ada disini, Tante... Oh, baik, baik... Tentu saja... Dia masih menggunakan seragam sekolahnya... Tidak tahu, Tante..."
Beni dengan cepat merebut ponsel Dion. Dia menatap ngeri nomor ponsel Ibunya yang tertulis di layar. Dion sama sekali buruk dalam bercanda, dia benar-benar menghubungi Ibunya!
Beni langsung mematikan panggilan tersebut dan menatap garang Dion. "Awas saja kamu!" Geramnya sebelum loncat dari tempat tidur dan berlari keluar dari kamar Dion.
Di dalam kamar, Dion terkekeh dan kembali bermain dengan ponselnya. "Akhirnya dunia kembali damai."
Kelemahan Beni adalah Ibunya. Dion sangat tahu itu. Karena itu, mudah baginya untuk mengendalikan Beni yang tak terkendali melalui ancaman Ibunya. Terkadang itu merupakan hal lucu yang pantas untuk ditertawakan.
Dua jam setelahnya, Beni kembali lagi. Dia kali ini menggunakan kaos hitam kebanggaannya dan rambut hitam mengkilat tanda selesai mandi. Wajahnya tak lagi lesu, hanya mengungkapkan kesegaran.
Beni mendekati tempat tidur dan langsung mencekik leher Dion di bawah lengannya. "Enak matamu!"
Dion dengan sigap meninju pinggang Beni yang membuatnya berseru sakit dan melepaskannya. "Kamu sudah mandi bukan berarti ketiakmu tidak bau lagi." Gerutunya.
Beni mendengus kesal dan duduk di depan Dion dengan ekspresi serius. "Aku lupa tadi mau kasih tau sesuatu."
"Apa?" Alis Dion mengkerut, antisipasi dengan pemberitahuan dari Beni yang kadang absurd.
Senyum Beni langsung mengembang, "Besok tidak belajar." Lalu senyumnya runtuh. "Tapi besok rapat OSIS lagi. Kenapa harus rapat mulu sih?!"
Mata Dion juga ikut mengeluarkan cahaya kebahagiaan. "Besok berarti tidak perlu datang sekolah."
Ekspresi Beni kosong saat menatap Dion. "Aku bilang tidak belajar, bukan libur, Oon. Telinga kamu masih oke, kan?"
Wajah senang Dion langsung lenyap seketika. Dia dengan malas terus bermain dengan ponsel pintarnya. Enggan untuk mempedulikan kehadiran Beni lagi.
__ADS_1
Namun Beni bukan orang yang mudah untuk diabaikan, atau bisa dibilang dia selalu berusaha membuat dirinya untuk tidak terabaikan. Dengan berani, Beni mengambil ponsel Dion dan membawanya lari. Belum sampai pintu kamar, Dion sudah mendapatkannya dan menendangnya dengan kesal. Karena tingkah Beni yang begitu kurang ajar hingga Dion selalu antisipasi dan memiliki daya tanggap yang kuat.
Beni merintih kesakitan karena terlempar di lantai yang keras. Dia dengan wajah tebal kembali duduk di tempat tidur dan menatap wajah serius Dion. "Oon, kayaknya aku tahu kenapa Sara ninggalin kamu."
Dion menatap tajam Beni, "Aku beri 7 detik untuk ninggalin tempat ini."
Beni buru-buru tertawa, "Aku bercanda, On. Hahaha, cuma bercanda."
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
"Hei, aku mau bilang Sara itu memiliki gangguan di matanya sehingga bisa meninggalkan orang setampan Dion."
"Empat."
"Aku tadi cuma bercanda!"
"Lima."
"Enam."
"Oke oke oke, aku pergi."
"Tujuh."
Tepat di hitungan ke-7, Beni menutup pintu kamar Dion dengan keras. Belum cukup dengan itu, dia menendang pintu tak bersalah itu dengan sekuat tenaga hingga membuatnya menjerit kesakitan pada bagian kakinya.
"Aku akan ingat ini!" Teriaknya dari luar kamar dan sebuah langkah yang keras terdengar menjauh.
Dion melirik pintu yang tertutup dan langsung terkekeh. Akhirnya kedamaian sekali lagi dapat dia perjuangkan. Beni sangat berisik dan selalu mengganggu, walau begitu dia adalah teman yang baik. Selalu melupakan kemarahannya dengan cepat, bahkan Dion yakin, besok Beni akan melupakan jika dia baru saja diusir dari kamar Dion.
__ADS_1