
Putri dan Lila sudah sangat familiar dengan rumah Gina, tanpa mengetuk ataupun menekan bel, mereka masuk begitu saja dan segera naik ke lantai dua letak kamar sang ratu berada.
Dan tentu saja, kamarnya berantakan dengan baju yang berserakan di lantai, buku novel yang berhamburan di atas meja, tempat tidur yang acak-acakan tak tahu lagi dimana seprainya, dan seorang gadis dengan nyaman tidur terlentang di atas tempat tidur sambil membaca buku novel.
Gadis itu tampak menyadari kedatangan kedua sahabatnya namun dia enggan untuk menoleh dan tetap memusatkan perhatiannya pada cerita yang kini telah memulai konflik yang membingungkan. Setiap kata demi kata yang tertulis dalam buku tersebut dibaca dengan teliti seolah takut melewatkan poin-poin penting yang menjadi inti dalam konflik tersebut. Lalu kebenaran terungkap dan berakhir.
Gina sangat suka membaca genre fantasi dan aksi, namun kali ini dia terpikat dengan genre romantis dan tragedi. Ceritanya cukup umum, bahkan karakternya pun sering dijumpai dalam cerita-cerita romantis lainnya. Peran utamanya ialah seorang gadis yang naif dan seorang pemuda yang dingin. Cerita cinta yang diawali dengan kepolosan sang gadis hingga membuat pemuda itu merasa terganggu. Konflik demi konflik terjadi, gadis naif itu 'terlalu' baik sehingga merasa perlu ikut campur dan menyelamatkan semua masalah, tapi bukannya membaik, itu malah memperumit keadaan. Rahasia demi rahasia yang membuat orang penasaran mulai terungkap dan ternyata tidak penting. Lalu langsung ke akhir cerita, konflik utama semakin memanas dan gadis itu dengan karakter 'terlalu' baiknya mencoba menyelamatkan sang pemuda. Dan sang gadis mati membawa konflik yang dia ciptakan sendiri. Lalu pemuda itu menyadari perasaannya ketika melihat kematian gadis itu.
Gina puas dengan akhir ceritanya, benar-benar akhir bahagia. Dengan kematian sang gadis yang 'terlalu' baik dan suka ikut campur itu, maka kehidupan pemuda itu akan tenang dan bisa menjalani hidup bahagia selamanya.
Setelah novel yang dibacanya tamat, Gina menutup buku yang ada di tangannya itu dan menyerahkannya ke Lila. "Baca ini, genre romantis."
Lila mengambil buku novel tersebut dan membaca judulnya untuk membuktikan ucapan Gina. Dan benar saja ini genre romantis dengan judul 'Pengorbanan Cinta Kamila'.
"Tumben baca yang ginian?" Tanya Lila dengan heran.
Jika ini genre lain, maka Lila akan dengan tegas menolak untuk meminjam buku novel Gina. Karena Lila sangat jelas jika Gina sangat menyukai novel yang memiliki cerita berat dan penuh misteri. Tapi itu jelas membuat Lila merasa jenuh dan pusing, dia bahkan bisa tertidur hanya dengan membaca sipnosis dari novel tersebut.
Gina menyeringai, "Itu bonus saat aku membeli buku seri kedua dari 'Tank'."
"... Oh." Lila sama sekali tidak tahu buku seri-seri itu.
"Gin, aku ambil ini ya." Ucap Putri meminta izin untuk memakan coklat tapi coklat tersebut sudah digigit setengah. Bahkan jika Gina ingin menolak, dia tidak akan memiliki kesempatan untuk melakukan itu.
Gina melirik malas ke jam dinding, dia mengangkat alisnya ketika mengetahui kedua sahabatnya ini datang setengah jam lebih awal dari waktu perjanjian.
"Kenapa kalian datang sangat cepat?" Tanya Gina dengan nada menyelidiki.
Jawaban Putri, "Tentu aku harus datang lebih awal dari Beni!"
Jawaban Lila, "Aku mengatakan pada Bambang datang jam 3, hehe."
__ADS_1
Tepat ketika Lila selesai berbicara, bunyi bel terdengar. Mata Lila bersinar dan langsung berlari keluar dari kamar. "Aku akan membuka pintu!" Serunya saat berlari.
Gina dan Putri hanya bergumam tak peduli.
Merasa suasana sangat suram, Putri berjalan ke arah pintu menuju balkon. Tatapannya menghujat Gina yang memiliki kamar lebih berantakan dari gudang. "Lihat kamarmu ini, semuanya berantakan, dan sangat gelap. Kamu setidaknya harus membuka jendela atau pintu ini agar cahaya bisa masuk—"
Putri terdiam ketika tangannya telah membuka pintu balkon. Matanya melebar dengan ekspresi ketakutan, dengan cepat dia menutup pintu itu kembali.
Gina yang melihat ekspresi Putri, langsung mengetahui alasannya. Dia terkekeh pelan dan menatap Putri dengan pandangan menghina. "Kenapa ditutup? Cepat buka agar cahaya bisa masuk."
Putri masih tercengang dengan tangannya yang menggenggam erat gagang pintu. "Six pack, six pack, six pack ..." Dia bergumam dengan keadaan yang mengkhawatirkan.
"Hah? Kamu kenapa?" Tanya Gina tak mengerti. Putri tak mungkin jadi gila hanya karena melihat Dion tinggal di rumah sebelah, kan?
"Six pack!" Seru Putri dengan volume tinggi. Tatapannya mengarah lurus ke Gina, seolah meminta cahaya kehidupan. "Perutnya six pack." Ucapnya dengan suara bergetar.
Gina langsung bangkit dari tempat tidurnya dengan semangat. "Mana? Aku mau lihat!"
Gina menatap Putri dengan wajah serius, "Put, kita sahabat, bukan?"
Putri mengangguk dengan enggan.
"Mari kita saling berbagi, aku juga ingin melihat keindahan dunia." Gina menekan kedua pundak Putri dengan keras, ambisi kuatnya terlintas melalui matanya, membuat Putri tak berdaya dan memberi Gina jalan untuk membuka pintu.
Gina tanpa ragu-ragu membuka pintu dan berjalan ke balkon. Tatapannya meredup ketika melihat Dion berada di kamar seberang telah memakai baju kaos yang menutupi keindahan dunia.
"Lihat, aku tidak bisa melihat apa-apa." Desahnya kecewa.
Putri dengan cepat menarik Gina masuk dan kembali menutup pintu. Dia menatap sahabatnya itu dengan penuh semangat dan kemarahan. "Kenapa dia bisa ada di sana?"
"Apa lagi? Tentu karena dia tinggal di sana." Jawab Gina acuh tak acuh, kehilangan semangat dan motivasinya.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak tahu?" Tanya Putri lagi.
"Karena aku tidak beritahu." Jawab Gina dengan nada yang sama.
Putri tak menyerah dan terus bertanya, "Kenapa kamu tidak beritahu?"
"Kenapa aku harus memberitahumu? Kamu bahkan tidak bertanya."
"Berhenti mengelak! Jawab yang jujur!"
Gina mendengus kasar, "Aku baru tahu tadi siang. Dia belum lama pindah ke sebelah, lagi pula apa peduliku? Dan kenapa kamu peduli?"
Putri tidak mempedulikan sindiran Gina dan duduk dengan ekspresi serius di tempat tidur. "Aku paham."
Gina mengernyit, "Apa yang kamu paham?"
"Kamu sama sekali tidak mengerti?" Putri bertanya dengan nada seolah mengatakan 'cuman orang bodoh yang tidak mengerti'. Lalu dengan antusias menjelaskan pemahamannya. "Tentu saja ini taktik yang licik! Dia pasti ingin mendekatiku secara perlahan dengan cara mendekati sahabatku terlebih dahulu. Lihatlah tindakannya, dia bahkan dengan sengaja memilih kamar yang berseberangan langsung denganmu. Setelah dia sudah dekat denganmu, dia pasti akan mencari tahu semua tentangku darimu. Sangat licik! Dia benar-benar seperti kecoa, pantang menyerah."
Gina dengan sabar mendengarkan penjelasan Putri dengan pandangan kosong. Di antara mereka bertiga, Lila sangat suka menonton drama dan Gina sangat suka membaca novel, tapi entah kenapa Putri yang paling memiliki imajinasi tergila dan liar sampai level tak bisa dicapai oleh kebodohan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Gina dengan malas, mengikuti alur pikiran Putri.
"Tentu saja aku akan terus menolaknya!"
Gina mengernyit, "Kenapa kamu tidak memberinya kesempatan? Lagi pula Dion memiliki six pack."
Kali ini Putri terdiam. Mereka bertiga adalah pemuja roti sobek dan jelas tak bisa mengabaikan fakta ini!
Jadi, Putri batuk kecil sebelum memikirkan saran Gina. "Baiklah, aku akan memberi Dion kesempatan. Tapi ini karena six pack! Namun tentu aku masih akan menyukai Beni, itu fakta yang tak terelakkan. Um... memiliki six pack juga tidak buruk."
Di sudut ruangan yang remang, Gina tertawa dengan geli. Pikiran Putri sangat sederhana.
__ADS_1