Salah Paham

Salah Paham
Gina Rapuh


__ADS_3

Setelah Gina pulang, dia langsung dihadapkan dengan aura yang penuh penekanan di rumah. Membuatnya yakin bahwa ada sesuatu yang salah telah terjadi disini. Namun, Gina tetap memasang wajah acuh tak acuhnya dan dengan tenang duduk di sofa ruang tamu bersama ayahnya dan dua lainnya.


"Gina, ada yang Ayah ingin katakan padamu. Ayah harap kamu akan menerimanya dan memaafkan Ayah." Prolog Ayah Gina, Wanto, dengan nada yang begitu penuh rasa bersalah.


Perasaan Gina benar-benar tidak enak ketika mendengarnya. Dia melirik ayahnya dengan pandangan waspada dan mengalihkannya ke dua orang lainnya. Tatapannya jelas bertanya, walau dia tidak mengatakan apa-apa untuk mengeluarkan rasa penasarannya.


Wanto menghela napas ketika melihat tingkah putrinya yang waspada padanya itu. Ketika masih kecil, Gina adalah anak yang menggemaskan dan juga sangat ceria. Namun, setelah kematian bundanya semuanya mulai berubah.


Wanto adalah seorang pria yang gila dengan pekerjaannya. Ketika Melisa, bunda Gina meninggalkan mereka, dia semakin terjerat dalam dunia kerjanya dan mengabaikan Gina yang saat itu masih kecil. Membuat anaknya yang baru saja kehilangan bundanya menjadi lebih menutup dan menjauh darinya.


Saat Gina masuk sekolah, dia mulai menunjukkan tanda-tanda keberontakan. Membuat masalah dimana-mana, mencari keributan dengan orang lain, hingga menyakiti teman sekolahnya sendiri.


Wanto yang mengabaikan Gina dan terus sibuk dengan pekerjaannya, mau tidak mau harus peduli dengan sikap Gina. Awalnya dia berpikir itu kenakalan anak kecil, tetapi semakin hari kelakuan Gina semakin jadi hingga dia tidak bisa menahannya lagi.


Dia memanggil Gina dan memarahinya, hari itu tidak pernah dilupakannya. Seorang anak kecil yang dia pikir menggemaskan benar-benar berani menentang dan berteriak padanya. Kata-kata Gina saat itu masih berbekas pada hati Wanto.


"Apa? Kenapa Ayah tidak bekerja saja? Tidak usah peduli dengan apa yang aku lakukan, kerja saja sana! Bukankah itu yang hanya Ayah pikirkan. Kerja, kerja, kerja, kerja, dan kerja. Bunda di rumah dan Ayah selalu kerja! Bunda sakit dan Ayah tetap hanya berpikir tentang kerja! Bunda tidak ada dan Ayah bahkan juga tidak ada. Kerja saja sana. Kenapa harus peduli dengan apa yang aku lakukan? Bahkan jika aku mati, apa pengaruhnya dengan Ayah? Aku tidak punya orang tua! Tidak usah peduli padaku..."

__ADS_1


Itu adalah terakhir kalinya Wanto melihat Gina menangis dengan keras, berteriak dengan suara serak, dan mendorongnya dengan tubuh kecilnya. Setelah itu, Gina tetap memberontak namun Wento tak pernah memarahinya lagi.


Dia mulai sadar diri dan meluangkan waktu untuk Gina. Mengantar dan menjemputnya dari sekolah, menemaninya di hari libur, dan selalu mengawasinya dalam pergaulan. Ingin membuktikan pada anaknya bahwa dia telah berubah dan akan selalu ada untuknya.


Tetapi Gina sangat keras kepala. Meski dia tidak lagi menunjukkan perlawanan dan menjadi lebih tenang, itu tidak membuat Wanto merasa nyaman. Gina semakin tertutup padanya dan tetap melakukan pemberontakan secara diam-diam.


Wanto sering mendengar dari pembantu rumah tangga bila Gina selalu merusak taman, menghambur barang-barang di rumah, dan dengan sengaja membongkar semua yang semulanya rapi. Itu tetap terjadi sampai sekarang. Namun, Wanto membiarkannya dan tetap berusaha menjadi ayah yang baik untuk Gina.


Hingga sekarang, dia seolah takut membuat Gina marah dan menangis lagi. Dia takut bertanya alasan perbuatan Gina dan menemukan ini masih tetap menjadi kesalahannya. Sehingga saat ini, meski Wanto tampak tenang, namun hatinya penuh rasa gelisah dengan reaksi Gina nanti.


Tatapan Gina kosong menatap ayahnya, seolah tidak mengerti bahasa apa yang baru saja ayahnya itu katakan. Sekretaris ayahnya yang dia pikir hanya sekedar orang luar dan tidak penting, ternyata begitu penting bagi ayahnya.


"Gina, Ayah tahu ini mendadak—”


"Aku mengerti." Ucap Gina cepat memotong ucapan ayahnya. Lalu tatapannya mengarah ke seorang gadis yang seumuran atau mungkin lebih muda darinya itu. "Lalu siapa dia?"


Wanto yang baru saja ucapannya dipotong merasa tidak nyaman bila tidak memberi penjelasan untuk menenangkan Gina. Namun, dia mengerti tidak ada yang bisa dia katakan untuk menenangkan anaknya itu.

__ADS_1


Dia mengikuti tatapan Gina dan menjawab pertanyaan yang diajukan anaknya. "Dia Sinta, anak Bu Riska. Sekarang dia akan menjadi saudaramu." Mengucapkan hal itu, tatapannya dengan Riska bertemu dengan bahasa isyarat yang hanya mereka berdua ketahui.


Gina mengangguk paham, tatapannya begitu kosong hingga Wanto tak dapat memahami isi pikirannya. "Ayah sebenarnya tidak ingin menikah tanpa memberitahumu seperti ini. Tetapi karena masalah dari orang tua Bunda barumu—”


"Aku mengerti, Ayah." Gina memotong ucapannya lagi. Dia berdiri dari sofa, melirik singkat tiga orang yang masih menunggu reaksinya. "Aku akan ke kamar."


Setelah mengatakan itu, Gina berjalan melalui mereka dan naik ke lantai dua untuk pergi ke kamarnya. Mengunci pintu, tatapannya tetap kosong. Dia sungguh tidak mengerti situasi saat ini. Begitu rumit dan sangat cepat, tidak menunggunya untuk mengikuti alur cerita. Untungnya dia telah membeli makanan ringan, berpikir seperti ini dia merasa sedikit lega.


Dia merebahkan dirinya ke tempat tidur, meletakkan makanan ringannya di samping. Tubuhnya meringkuk membentuk bola, seolah merasa kedinginan di hari yang cerah. Tiba-tiba dia merasa hidungnya sangat pedih, itu membuat Gina lebih meringkuk seolah ingin bersembunyi.


Karena jendela dan pintu tertutup dan lampu dimatikan, kamar Gina menjadi redup. Ruangan yang berhamburan itu ditutupi dengan cahaya remang-remang membuat semua tampak kesepian. Kesunyian yang kosong ditemani dengan isakan tertahan membuat suasana begitu mencekik. Tubuh Gina yang saat ini meringkuk di tempat tidur meringkuk dengan bahu yang bergetar tak terkendali. Di suatu titik bagian tempat tidur terdapat bekas basah air mata yang jatuh terus menerus.


Gina tidak ingin menunjukkan kelemahannya pada orang lain, dia selalu berusaha untuk tetap terlihat tegar dan tak peduli dengan semua masalah di dunia. Memandang rendah sesuatu hingga menghancurkannya. Dia sendiri tidak mengerti apa yang ingin dia buktikan dengan bertingkah seperti itu. Di usianya sekarang, semua tindakannya nampak sangat kekanakan. Gina tahu itu, tetapi dia tidak tahan untuk tidak bertindak seperti itu. Jika dia berhenti melakukannya, apakah ayahnya akan berhenti memperhatikannya?


Tangannya mengepal erat, kuku jarinya terus menusuk telapak tangannya hingga membuat bekas melengkung. Ingin sekali dia menahan bahunya untuk tidak bergetar dan matanya untuk tidak mengeluarkan air bening, namun tubuhnya sangat tidak menurut dan terus membuatnya begitu menyedihkan.


Berbeda dengan yang diperlihatkannya pada orang lain, Gina rapuh.

__ADS_1


__ADS_2