
Beni mencari nomor Dion dalam kontak ponselnya, lalu menyentuh ikon telepon dan mendekatkan ponsel pintarnya ke telinga.
Setelah nada dering ketiga, panggilan terhubung dan suara kebisingan yang mengalahi keramaian tempatnya berdiri terdengar di telinga Beni.
"Posisi dimana?" Tanya Beni sambil mengernyit.
"Hah? Halo? Tunggu, tunggu." Suara Dion terdengar tergesa-gesa, membuktikan kesibukan yang dideritanya.
Sebuah suara keras menghantam dan jeritan keras terdengar.
Beni tertawa keras menikmati kekacauan dari seberang telepon. Setelah beberapa saat, kondisi dari seberang sana mulai tenang dan damai, suara Dion kembali terdengar.
"Ben? Kok berisik? Kamu di lapangan?" Tanya Dion yang suaranya terdengar tenang tak seperti sebelumnya.
Beni mengangguk tanpa sadar, "Hooh, aku sendiri disini. Kamu dimana? Cepat kemari!"
"Aku sibuk, lagi pindahan."
Beni menoleh ke belakang untuk melihat Beta yang sedang mengamatinya. "Kak, aku mau jalan sama temanku." Ucap Beta sambil menunjuk lima anak muda seusianya.
Beni mengangguk, "Kalau pulang, telpon aku."
"Oke." Beta memberikan jempol dan berlari kecil ke arah teman-temannya.
Beni kembali memusatkan perhatiannya ke panggilan di teleponnya. "Halo On? Tadi kamu bilang apa? Pindahan?"
"Iya, aku pindah ke rumah Kak Dandi."
"Pintar, kenapa tidak dari dulu? Kalau gini kan enak kalau mau ketemuan, tidak perlu jauh-jauh."
"Um, sebenarnya Kak Dandi udah minta aku pindah tujuh bulan yang lalu."
"Terus kenapa kamu tidak pindah tujuh bulan yang lalu?"
"Tunggu 7 bulan dulu."
"..." Beni menatap ponselnya dengan kosong, dia kembali meletakkannya ke telinganya dan mengumpat dengan nada datar. "Gila."
"Sebentar sore datang saja ke rumah Kak Dandi."
"Tumben ngajak, biasanya ngomel kalau aku samperin terus."
"Iya, nanti bantu angkat barang, banyak yang berat-berat."
Beni mendengus keras, "Sialan, tidak jadi."
"Haha, aku traktir."
__ADS_1
"Oke."
"Maksimal dua puluh ribu."
"Empat puluh!"
"Tiga puluh."
"Sepakat!" Teriak Beni penuh semangat.
Kesunyian singkat melanda di seberang telepon, lalu terdengar gerutu kesal Dion. "Sialan kutu kumpret!"
Beni terkekeh, dia berjalan secara acak dengan riang. "Ingat kata-katamu. Lupa juga tak masalah, aku akan ingatkan. Hahaha..."
"Mati saja kamu!"
"Jangan dong, kalau aku mati, siapa yang akan membantumu angkat-" Suara Beni menggantung ketika melihat sosok yang dikenalnya. "Putri?"
Putri menoleh dan terpana dengan mode bisu, mulutnya yang terbuka ingin memakan gulali berhenti di jalan. Dia memandang Beni tak percaya. "Beni." Gumamnya kecil.
"Sendiri?" Tanya Beni dengan nada yang bersahabat.
Putri menggelengkan kepalanya, dia menunjuk ke sebuah pohon besar di pinggir lapangan dan tercengang ketika tak menemukan Gina di sekitar pohon itu. "Aku tadi bersama Gina."
Beni mengikuti arah pandang Putri dan ikut mencari keberadaan Gina, namun tak ada tanda-tanda gadis itu di sekitarnya. "Mungkin dia pergi ke tempat lain."
"Kemana?"
"Dia mencari Lila." Jawab Putri dengan suara kecil.
Beni mengangguk paham dan tak mempertanyakan itu lagi. Dia melihat ke arah Putri yang sedikit menunduk dan mengernyit heran. "Kenapa? Dion tidak ada denganku."
Tanpa sadar, Putri menghela napas lega. "Baguslah."
"Apanya yang bagus?"
Tersentak kaget, Putri menunjuk gulali yang ada di tangannya. "Gulali ini rasanya bagus, sangat bagus!"
"Hahaha, aku mengerti. Kamu lega karena Dion tidak ada. Kamu benar-benar tidak menyukainya?"
Putri mengangguk, suasana hatinya menjadi kesal jika menyangkut tentang Dion. "Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya."
"Um, jadi gitu." Beni bergumam mengerti, dia terkekeh ketika melanjutkan ucapannya. "Tapi aku rasa Dion tidak seburuk itu, walau dia sangat payah tentang wanita dan pernah ditinggalin pacarnya waktu SMP, serta menjadi kadidat yang paling dibenci wanita, sebenarnya dia itu sedikit baik."
Putri mengangguk setuju. "Benar, sedikit."
Beni merasa tidak baik untuk menjatuhkan sahabatnya di depan wanita yang dicintainya hingga dia meralat ucapannya. "Maksudku sedikit lebih baik."
__ADS_1
Putri hanya diam, enggan menyetujui ucapan Beni.
"Jadi, bagaimana kamu dan Dion bisa kenalan?" Tanya Beni dengan penuh minat. Jiwa keponya keluar begitu saja.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia menyukaiku. Bukannya dia sahabatmu?" Putri dengan perlahan mengangkat kepalanya, menatap Beni penuh tanya.
Beni terkekeh, "Mana ada? Dia itu babuku."
"Pfft." Putri menutup mulutnya dengan tangannya, menahan tawa yang hampir keluar.
"Oh iya, kita sudah naik kelas 12. Kamu ikut bimbel atau belajar kelompok?" Tanya Beni dengan santai.
Putri terdiam, dia merasa malu karena belum mempersiapkan apapun untuk ujian. Menurutnya itu masih lama, masih banyak waktu untuk mempersiapkan itu. Tapi, dia benar-benar kagum dengan Beni yang sudah berpikiran untuk belajar.
Melihat Putri yang masih diam dengan kebingungan, Beni dengan cepat melemparkan umpan sebelum ikan berenang jauh. "Bagaimana kalau kita membentuk kelompok belajar?"
"Kita?" Mulut Putri terbuka tak percaya. Dia mengangguk dengan cepat, sebuah senyuman terpampang nyata di wajahnya. "Oke!"
"Sekalian ajak teman-temanmu, aku juga akan ajak teman-temanku."
Putri mengangguk lagi, "Baik. Aku akan ajak Lila dan Gina."
"Bagus, kalau begitu berikan aku nomor ponselmu." Beni mengangkat ponsel yang ada di tangannya. Dia terkejut ketika melihat ponselnya masih terhubung panggilan dengan nomor Dion, dia menatap ke arah Putri dengan pandangan aneh.
Putri juga mengambil ponselnya, dia dengan gemetar mencari nomor ponselnya. Jantungnya berdetak hebat dalam kegembiraan yang menyenangkan. "Nomorku- ada apa?" Tanya Putri ketika melihat wajah Beni terlihat tidak baik.
Beni dengan cepat mengubah ekspresinya, dia tersenyum canggung. "Ya, nomormu?"
Putri menyebutkan nomor ponselnya dengan hati-hati, takut salah sebut dan mengakhiri pertemuan dengan orang yang disukainya. "Um, nomormu?" Ucapnya pelan ketika selesai mengucapkan nomornya.
Beni juga menyebutkan nomor ponselnya tanpa melihat layar ponselnya. Dia tidak berani memutuskan panggilan dengan Dion, takut dikira sedang menggombal Putri dan menikung sahabat sendiri.
"Kalau gitu aku pergi dulu, aku mau cari adikku." Ucap Beni sambil menunjuk arah secara acak.
Putri merasa kecewa namun tetap mengangguk, "Oke."
Dengan lambaian tangan kiri, Beni mempercepat langkahnya meninggalkan Putri dan mencari tempat aman untuk kembali meletakkan ponselnya ke telinga.
"Hehe, halo On."
"Oh, masih ingat kalau panggilannya belum putus. Lain kali kalau mau ceritain orang, jangan lupa matiin dulu panggilannya." Ucap Dion dengan nada datar.
Beni tertawa kecil, "Lupa."
"Sialan. Tadi ngapain sok ajak belajar kelompok, emang kamu pernah belajar?"
"Ini nih alasan Putri nolak kamu, karena kamu tidak peka. Aku ajak dia belajar kelompok itu demi membantumu untuk dekat dengannya. Lihat, kurang baik apa aku sebagai sahabat?"
__ADS_1
Panggilan tiba-tiba putus secara sepihak, Beni menatap ponselnya dengan bingung. Dia mencoba menghubungi Dion kembali, tetapi mengetahui nomornya telah diblokir oleh pihak lain. Itu membuat Beni bertanya-tanya apa lagi kesalahannya.