Salah Paham

Salah Paham
Tentangnya


__ADS_3

Lila membuka pintu utama dan senyum bahagia terpampang langsung di wajahnya. "Hehe, hai Bambang." Sapanya dengan senang.


Bambang mengenakan baju kaos berlengan panjang dipasangkan dengan celana jins hitam pekat memperlihatkan porsi tubuhnya yang tegap dan bagus.


Pemuda itu tersenyum canggung ketika melihat Lila. Dia membalas menyapa dengan suara kaku dan melangkah masuk ketika dipinta.


Dia tidak berani untuk melihat sekeliling ruangan, takut dianggap tidak sopan dan kampungan. Hidupnya dulu selalu terbiasa dengan pemandangan rumah papan yang sederhana, sehingga dia agak sulit untuk beradaptasi dengan rumah besar dan mewah seperti saat ini.


"Mau minum atau makan sesuatu?" Tawar Lila berperan sebagai tuan rumah. Matanya tak kunjung lepas dari pesona Bambang yang begitu manis. Sikap Bambang yang canggung dan pemalu membuat Lila tidak ingin kehilangan sedetik saja dari momen menyenangkan ini.


Bambang duduk di sofa dengan kaku, gaya duduknya sangat sopan selayaknya seorang murid yang ingin terlihat baik di mata gurunya. Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Tidak perlu." Jawabnya sambil menunduk.


"Kenapa? Yang lain pasti akan datang terlambat, lebih baik kita minum dulu sambil bicara empat mata, dua hati, satu cinta." Ucap Lila dengan santai tapi sukses membuat Bambang merasa malu dan tak nyaman.


Melihat tingkah Bambang yang sepertinya tersiksa, Lila tersenyum geli dan akhirnya merasa kasihan pada Bambang. Dia duduk di sofa tunggal, dan menyalakan televisi untuk meredakan kecanggungan Bambang.


"Bambang, ini hari apa?" Tanya Lila walau sudah mengetahui jawabannya.


Bambang tahu Lila sedang berusaha untuk menggodanya lagi, sehingga dia tidak akan mengikuti alur percakapan Lila. "Aku tidak tahu." Jawab Bambang dengan tatapan fokus pada televisi yang sedang menayangkan animasi anak-anak.


Lila cemberut, "Ini bulan apa?" Tanyanya lagi.


Bambang sekali lagi menolak untuk mengikuti alur percakapan Lila dan menjawab, "Aku tidak tahu."


"Banyak yang kamu tidak tahu ya, tidak apa-apa, aku juga memiliki banyak hal yang tidak aku ketahui. Tapi satu hal yang pasti aku ketahui, yaitu perasaanku padamu Bang."


Ekspresi Bambang tidak berubah dan pandangannya tetap pada layar televisi, tapi itu tidak bisa menyembunyikan telinga dan pipinya yang memerah dari pandangan Lila.


Lila terkekeh pelan dan kembali menyesuaikan senyum manisnya, "Bang, apa warna baju kamu?"


Kali ini Bambang terdiam sebentar berpikir apa yang harus dia lakukan, jika dia mengatakan tidak tahu, maka Lila akan menggodanya dengan narasi yang sama seperti sebelumnya, tapi jika dia menjawab dengan benar, mungkin saja ada godaan yang telah disiapkan oleh Lila. Karena itu, Bambang berpikir untuk menjawab yang salah.


Saat ini Bambang memakai baju warna abu-abu, tapi dia sengaja menjawab dengan salah. "Warna putih."


Lila mengernyit, "Kok putih? Itu kan warna hijau." Koreksinya.


Kali ini Bambang yang bingung, "Ini abu-abu."


Wajah Lila terlihat terkejut, "Benarkah? Ternyata benar kata orang, cinta itu buta."


"..." Bambang mengaku kalah.


"Ekhem, yang lain kapan datang?" Tanya Bambang sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


Senyum Lila tetap bertahan dan dia menjawab dengan suara yang lembut. "Kamu datang kecepatan, kita janjian jam setengah empat."


"Tapi kamu mengatakan jam tiga."


Lila menatap Bambang dengan pandangan tak percaya, "Aku tahu kamu sangat tidak sabar untuk melihatku, Bang. Tapi jangan melemparkan alasan ke orang lain, itu tidak baik."


Pemuda itu tahu kali ini dia dipermainkan lagi, "Kamu mengatakan jam tiga, aku ingat."


"Oh." Jawab Lila santai, "Kalau begitu anggap saja begitu, aku tahu kamu pemalu."


"Kamu benar-benar mengatakan jam tiga."


Lila terus tersenyum, "Iya, anggap saja aku yang mengatakan. Tidak masalah."


"..."


Lila yang mengalah, tapi entah kenapa Bambang yang merasa kalah.


"Mana Gina?" Tanya Bambang kembali mengalihkan topik pembicaraan.


Dia mengetahui ini rumah Gina, tapi dari awal sampai sekarang, dia belum melihat sosok tuan rumah dan hanya bertemu dengan Lila.

__ADS_1


Tatapan Lila langsung redup, senyumnya juga menghilang. "Kenapa mencari wanita lain saat bersamaku?"


"..." Bambang merasa dirinya sedang selingkuh dan ditemui oleh istrinya.


Tepat saat itu, Gina dan Putri berjalan turun dari tangga. Mereka tampaknya asik membicarakan suatu hal sehingga tidak menyadari kehadiran Bambang di ruangan itu.


"Tapi kan nanti dia malah kepedean."


"Kamu tidak sadar diri?"


"Nanti dia mengira aku memberinya harapan."


"Kamu pikir dia sebodoh kamu?"


"Bagaimana kalau Beni mengira aku juga menyukai Dion?"


"Emang Beni suka gitu sama kamu?"


"Ahhh, ini rumit. Beni nanti cemburu dan menyerah terhadap perasaannya."


"Perasaan apa yang Beni punya untukmu?"


"Tapi aku juga tidak boleh menyalahkan perasaan Dion, dia memiliki hak untuk mencintai. Sekarang aku sadar itu."


"Kamu tidak sadar dia tidak menyukaimu?"


"Tapi aku tidak memiliki perasaan padanya."


"Dia juga seperti itu."


"Ahhh, benar-benar merepotkan terlibat cinta segitiga."


"Itu hanya ilusimu, oke?"


Lila dan Bambang menyaksikan komunikasi antara ayam dan bebek yang benar-benar tak dapat tersambung satu sama lain. Situasi ini sama seperti 'aku tidak peduli kamu mengerti atau tidak, aku hanya ingin kamu mendengarkan'.


Lila langsung pindah duduk di samping Bambang, sebelum kedua sahabatnya bergerak. Gina mendengus sebelum duduk di tempat Lila sebelumnya dan Putri duduk di sofa seberang.


"Yang lain kapan datang?" Tanya Bambang pada Gina.


Gina mengangkat alisnya menatap Lila dengan sikap merendahkan, lalu melirik ke jam dinding dengan bentuk kuno yang ada di samping lemari kaca. "Sekitar sepuluh menit lagi. Kamu datang terlalu cepat."


Setelah Gina mengatakan itu, bunyi bel kembali terdengar. Gina melirik Lila dengan malas, "Buka pintu." Perintahnya dengan santai.


"Kenapa aku yang buka?" Tolak Lila.


Bibir Putri melengkung ke atas, "Bukannya tadi kamu sangat antusias untuk membuka pintu."


"Itu berbeda! Itu karena aku tahu kalau Bambang yang tekan bel, sekarang mungkin saja Beni yang ada dibalik pintu itu. Maaf, aku tidak tertarik dengan Beni."


Putri langsung berdiri dan melangkah ke pintu dengan kecepatan yang tak terlihat. Dia mempersiapkan diri saat memegang gagang pintu dan membuka dengan perlahan. Benar saja, Beni dan 'temannya' serta dua orang lainnya sedang berdiri menunggu pintu terbuka.


Putri langsung menyingkir ke samping dan memberi mereka jalan untuk masuk dengan senyum lembut. "Mari masuk." Sambutnya.


Beni yang pertama masuk, diikuti oleh 'temannya', lalu dua orang lainnya yang diyakini adalah Fafa dan Vino.


"Aku tidak menyangka ternyata Dion dan Gina tetangga, hahaha. Aku tadi takut terlambat karena perlu mencari jalan ke rumahmu, tapi ternyata kekhawatiranku percuma." Ucap Beni dengan nada yang bersahabat.


Gina bergumam malas, kakinya yang ada di atas meja diturunkan dengan enggan. "Ya, aku juga baru tahu tadi. Ayo kita naik ke atas."


Dia berdiri dan memimpin orang-orang untuk masuk ke ruang belajar yang jarang dipakai olehnya. Ruangannya ini khusus dibuat oleh ayah Gina agar anaknya suka belajar, ruangannya begitu berwarna dan menyenangkan mata. Rak-rak buku diletakkan dengan cara yang unik, di tengah ruangan ada karpet besar yang direntangkan di lantai. Gina duduk di karpet itu dan memukul pelan ke ruang kosong di sampingnya, menyiratkan agar para tamu mengikuti tindakannya.


Para tamu terlihat takjub pada ruang belajar Gina terutama Vino, Dion, Bambang dan Fafa yang suka menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca.


Melihat penampilan terpesona dari beberapa orang, Gina dengan enggan menjelaskan. "Ini sama seperti gudang untukku. Kalau ada buku yang tidak aku pakai lagi, aku akan melemparnya ke sini."

__ADS_1


Gudang?!


Selain Putri dan Lila yang sudah mengenal karakter Gina, yang lainnya menatap Gina dengan pandangan yang rumit.


Ruangan yang rapi, bersih, dan bervariasi ini, yang menjadi impian jutaan pemuda dan pemudi dianggap hanya gudang bagi pemiliknya? Dan apa maksud dari melempar buku yang tidak dipakai lagi? Hei itu buku, bukan tisu yang sekali pakai.


Putri dan Lila tahu jika beberapa hari yang lalu, ruangan ini benar-benar berantakan seperti gudang. Tapi tak perlu untuk menunggu sehari untuk mengubahnya menjadi rapi kembali. Ini pekerjaan pembantu rumah tangga, dan pasti setelah ini akan berantakan kembali. Tentu itu pekerjaan Gina.


"Um, aku Vino. Kita sudah saling mengobrol di grup obrolan tapi ini pertama kalinya kita berkumpul. Jadi aku kurang tahu yang mana Putri, Lila, dan... Gina." Ucap Vino memecahkan kecanggungan. Saat dia mengucapkan kata 'Gina' tatapannya langsung pas ke arah Gina.


Lila selalu menyukai pemuda tampan, tidak peduli dengan kekurangan apapun, yang namanya tampan tetaplah tampan. Sehingga walaupun Lila tahu Vino punya pacar dan pacarnya ada disini, dia tetap bersemangat. Senyumnya manis, wajahnya mengeluarkan aura menggoda. "Aku sering mendengar tentangmu. Kamu benar-benar hebat dalam Fisika! Aku Lila, orang pertama yang menyapamu di grup!" Ucap Lila dengan semangat. Beberapa saat kemudian, dia ingat jika Bambang -salah satu pemuda tampan— duduk di sampingnya. Sehingga dia dengan cepat menyesuaikan dirinya dan memperkenalkan Bambang. "Ini Bambang, dia tidak pernah aktif di grup obrolan. Agak pemalu, haha."


Bambang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika mendengar pengenalannya dari Lila, dia tersenyum tipis pada Vino sebagai bentuk sapaan.


Gina memasang wajah acuh tak acuhnya, berusaha untuk terlihat keren. "Aku Gina, semoga betah belajar di gudangku."


Vino memasang senyum terpaksa ketika mendengar perkenalan Gina, benar-benar gadis yang langka.


Lalu giliran Putri, gadis itu tersenyum tipis dan berbicara dengan malu-malu. "Aku Putri." Ucap Putri dengan lembut. Dia menunduk sedikit, berusaha untuk menutupi ekspresinya yang mengungkapkan rasa malunya.


"Aku—”


"Oh, iya sekarang kita bakal ngapain disini?" Tanya Lila dengan antusias. Detik berikutnya, dia langsung berhenti dan memalingkan kepalanya ke Fafa. "Um? Tadi kamu mau bilang apa?"


Fafa menggelengkan kepala, dia tersenyum tipis. "Bukan apa-apa."


Lila mengangguk dan kembali bertanya. "Setelah perkenalan, sekarang kita ngapain? Masa langsung belajar?"


"Kenapa tidak langsung belajar saja? Aku sudah bawa buku."


Semua mata langsung tertuju ke Dion. Tatapan yang aneh jatuh padanya.


Dia pasti orang yang membosankan.


Beni memukul bahu Dion dengan gemas. "Tentu kita harus merancang dulu!"


Gina mendukung, "Ya, saat ini kita tidak tahu mau belajar apa. Lebih baik kita sekarang mengatur jadwal dan yang lainnya."


"Aku juga berpikir begitu." Sambung Vino.


"Aku—”


"Bang, kamu juga berpikir begitu?" Lila yang menatap Bambang langsung menoleh ke Fafa. "Eh, tadi kamu mau bilang apa?"


Fafa kembali tersenyum 'ramah', "Bukan apa-apa."


Lila mengangguk cepat lalu kembali menatap Bambang. "Jadi kamu juga berpikir begitu?"


Bambang mengangguk canggung.


"Bagus, aku juga berpikir seperti itu. Sepertinya pikiran dan hati kita tersambung."


Gina dan Putri memberi tatapan jijik kepada Lila.


"Tidakkah kamu mendengar Vino mengatakan dia juga berpikir begitu, apa kamu tidak berpikir kalau pikiran dan hati kalian juga tersambung?" Tanya Gina dengan nada sindiran.


Bukannya malu atau marah, Lila malah berseri-seri. Tapi dia langsung ingat jika Vino memiliki seseorang yang berstatus menjadi kekasihnya dan ada tepat di sampingnya, jadi Lila langsung menahan antusiasnya. "Itu hanyalah takdir, lagi pula takdir tiada yang tau." Jawabnya tetap tersenyum manis.


Gina mendelik jijik, "Jadi bagaimana dengan Beni? Dia juga mengatakan yang sama."


Lila ragu-ragu sejenak, dia tidak tertarik dengan Beni. Bukan karena Beni tidak tampan atau apa, hanya saja Beni tidak setampan Bambang, hanya lumayan saja.


Tapi beruntung baginya, sebelum dia menjawab, Beni sudah berbicara untuknya. "Haha, aku tentu sudah memiliki orang yang sehati denganku."


Mendengar itu Putri langsung memerah, dia menundukkan kepalanya dengan malu.

__ADS_1


Tentu, Beni pasti berbicara tentangnya!


__ADS_2