
Gilang Purnama
Umur, 16 tahun
Zodiak, Libra
Tinggi Badan, 170 cm
Berat Badan, 57 kg
Status, Jomblo
Makanan Kesukaan, Ikan goreng
Minuman Kesukaan, Kopi susu tanpa gula
Anti Makanan, Ayam goreng
Anti Minuman, Jus tomat
Hobi, Basket
Kelebihan, Pesona
Kekurangan, Tampan
Mantan, 12
...
Beni menampar kertas biodata Gilang yang ada di atas meja. Tatapannya jatuh pada Sifa yang sedang menundukkan kepalanya.
"Jelaskan apa ini?" Tanya Beni dengan suara datar. Anggota OSIS yang tadinya bercanda dan bergosip tentang Gilang terdiam tanpa mampu untuk mengucapkan sepatah kata. Mereka tidak biasa dengan nada ucapan Beni yang tajam.
Sifa mengaitkan kedua tangannya dengan takut, dia melirik ke arah kertas putih yang dipenuhi dengan biodata seorang murid.
"Itu biodata Gilang yang Kak Beni minta kemarin." Jawab Sifa dengan suara kecil.
Beni memijat pelipisnya, mencoba untuk bersikap tenang. Dia melihat kembali ke kertas biodata dan kepalanya kembali sakit.
"Aku memintamu untuk mencari biodata murid yang bernama Gilang Purnama, bukan biodata untuk kencan buta. Apa gunanya kamu memberi informasi tentang makanan dan minuman kesukaannya? Apa kamu berniat mendekatinya?" Ucap Beni dengan suara yang tak pelan.
__ADS_1
Sifa diam mendengarkan ucapan Beni tapi pipinya langsung memerah malu-malu begitu mendengar Beni mengatakan dia ingin mendekati Gilang.
Sontak Beni terperangah, "Kamu benar-benar ingin mendekatinya?"
Sifa senyum malu-malu, "Bu, bukan, bukan seperti itu." Jawabnya dengan gugup.
"..." Beni dapat dengan jelas melihat bahwa adik kelas terpercayanya ini sedang jatuh dalam keindahan yang bernama cinta.
Beni menghela napas dan berpikir untuk tidak ikut campur. Dia kembali mengambil kertas biodata itu dan membacanya kembali dengan seksama.
Di kertas itu, Beni dapat yakin bahwa informasi ini lebih lengkap daripada biodata yang dimiliki sekolah. Melihat masing-masing informasi yang mencengangkan ini, Beni seketika merasa merinding dengan kekuatan stalker wanita yang sedang jatuh cinta.
"Ini, apa maksudnya kelebihannya adalah pesona?" Tanya Beni tak mengerti.
Sifa tersenyum malu-malu, "Semua murid yang aku tanya mengatakan jika Gilang kelebihan pesona. Setiap orang tidak bisa untuk tidak melihatnya kembali."
"..." Beni memaklumi jawaban ini, lagipula orang jatuh cinta ini pasti akan dibutakan dengan pesona sosok yang disukainya.
"Lalu apa maksudnya kekurangannya adalah tampan?" Tanya Beni lagi, nadanya tampak ragu.
Kali ini bukan cuma Sifa, semua anggota OSIS perempuan langsung tersipu, bahkan Dadan seorang pria gemulai juga ikut memerah. Beni langsung memiliki firasat buruk.
"Karena ketampanannya, dia selalu membuat gadis-gadis menangis karena ditolak, bahkan baru-baru ini terjadi perang kelas antara siswi kelas X IPA 4 dan XI IPA 1 untuk mendapatkan poster foto Gilang terbaru minggu ini." Jawab Sifa dengan senyum bahagia.
Sifa mengangguk antusias, "Aku memenangkan poster Gilang minggu ini!" Jawabnya gembira, bahkan dia menaikkan suaranya tanpa sadar.
Lalu ruangan pertemuan para anggota OSIS itu menjadi sunyi. Sifa juga menyadari kesalahannya dan dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Sifa saat ini kelas sebelas, tepatnya XI IPA 1.
"Bagus." Beni bertepuk tangan. Dia berdiri dan keluar dari ruang OSIS. Sebelum menutup pintu, Beni berkata, "Besok aku akan bertugas menjaga kantin saat mata pelajaran pertama. Kalian jangan ada yang keluar dari kelas."
Lalu terdengar suara 'bang' dan pintu tertutup sempurna.
Para anggota OSIS saling memandang dan dengan cepat berkumpul membuat lingkaran kecil.
"Fa, kamu benaran dapat posternya?"
"Iya, iya!"
"Kasih lihat aku! Aku juga ingin punya."
__ADS_1
"Aku juga."
"Mana, mana?"
"Oke, aku akan memperlihatkannya."
Beni kembali ke kelasnya dengan frustrasi, dia duduk di bangku dan menghadap ke Dion yang sedang membaca buku.
"Oon, coba tebak apa yang aku temukan tadi di ruang OSIS?" Ucap Beni yang mengalihkan perhatian Dion.
Tanpa berpikir, Dion langsung menjawab dengan asal. "Sesuatu yang membuatmu kesal."
Beni memukul meja dengan keras, membuat alat tulis yang ada di atas meja bergetar. "Benar! Aku sangat kesal kali ini. Di ruang OSIS itu aku hampir sakit kepala dan muntah darah. Aku meminta Sifa untuk memberiku biodata murid nakal yang selalu buat ulah baru-baru ini dan coba tebak apa yang dia berikan padaku!"
Dion melirik Beni dengan malas, "Apa yang dia berikan?" Tanyanya dengan nada kosong.
"Dia memberiku biodata yang sangat lengkap!"
Dion menutup buku yang ada di hadapannya, berpikir dia tidak bisa lagi berkonsentrasi dalam membaca. "Bukankah itu bagus?" Dia bertanya sambil mengangkat alisnya.
Beni mendengus keras, "Apanya yang bagus? Biodata itu jelas-jelas ditunjukan untuk seseorang yang ingin kencan buta. Bahkan dia menulis makanan dan minuman yang disukainya, juga berapa mantan yang dimiliki murid nakal itu. Aku sama sekali tidak mengerti dengan otak para gadis, anak itu hanya memiliki wajah tampan tanpa kebaikan tapi berhasil merebut hati seluruh anggota OSIS perempuan."
"Siapa murid nakal itu? Gilang?" Dion bertanya dan langsung menebaknya sendiri.
Akhir-akhir ini Beni selalu mengomel tentang seorang murid baru yang banyak bertingkah di luar kendali. Karena sibuk mengatur kegiatan ekstrakurikuler, Beni memandang rendah murid itu dan menganggapnya hanyalah murid labil biasa. Sehingga dia menyerahkan tugas itu untuk diurus oleh anggota OSIS lainnya. Lagi pula masalah tentang murid yang nakal lebih sering diurus oleh guru BK dan kepala sekolah. Namun, siapa yang sangkah murid baru itu bahkan berani memukul anggota OSIS yang sedang menjalani tugas dan itu bukan hanya sekali.
Melihat dengan tingkahnya yang bebas dalam buat masalah namun tetap dapat santai bersekolah, maka Beni menduga jika status murid itu tidaklah sesederhana yang dia pikirkan.
Beni mengangguk, wajahnya jarang mengungkapkan ekspresi serius seperti sekarang. "Aku akan mencarinya sendiri dan melihat, apakah aku bisa mengurusnya."
"Lalu kalau kamu tidak bisa?" Dion mengangkat alisnya dengan tatapan menantang.
Beni menghela napas panjang, dia mengangkat bahunya tak berdaya. "Lalu akan akan tutup mata, jika bahkan kepala sekolah tidak bisa mengaturnya, maka aku hanya bisa memperingati dan membiarkannya." Beni tersenyum kecut, lagi pula posisinya hanyalah Ketua OSIS. Ada banyak kekuatan tak terlihat yang dapat menindas orang dengan mudah. Itu disebut kekuasaan.
Dion tidak menentang ucapan Beni, lagi pula mereka sekarang sudah kelas dua belas. Dia berada di ujung periode OSIS-nya, tidak baik baginya untuk menyinggung seseorang yang tidak boleh disinggung.
"Kapan kamu akan mencarinya?"
Bunyi bel masuk menghentikan Beni yang akan menjawab. Dia melirik ke arah jam dinding dengan bingkai berwarna hitam legam yang terpasang di atas papan tulis. Sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke Dion dan menjawab dengan pasti.
"Besok jam pertama. Mereka mengatakan anak ini suka nongkrong di kantin saat kelas pertama dimulai."
__ADS_1
Karena pada saat itu, kantin mulai memiliki makanan untuk disantap.