Salah Paham

Salah Paham
Kenapa Dia Lari?


__ADS_3

Gina, Putri, dan Lila sangat antusias melihat ketampanan yang ada di pandangan mereka.


Saat ini Gilang berjalan santai menuju ke penjual nasi goreng. Seragamnya tampak acak-acakan tapi itu membuat aura dominannya terlihat. Dia sangat acuh tak acuh terhadap tatapan orang lain di sekitarnya, seolah sudah biasa menjadi pusat perhatian.


"Hei!" Beni dengan cepat berteriak memanggil ke arah Gilang, membuat ketiga gadis yang sedang terpana kembali ke kesadaran mereka.


Putri dengan cepat memperbaiki sikap feminimnya, Lila langsung mengeluarkan senyum menawannya, dan Gina kembali ke tampilan malas dan cueknya. Mereka menjaga penampilan mereka sebaik mungkin dan tampak menjadi gadis yang menarik.


Gilang mengalihkan pandangannya ke Beni dengan heran. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum yakin jika dialah orang yang dipanggil.


Dengan memegang sepiring nasi goreng, Gilang berjalan ke arah meja yang berisi empat orang tersebut.


"Memanggilku?" Tanya Gilang sambil menunjuk dirinya sendiri.


Beni memperhatikan penampilan Gilang dari atas ke bawah dan kembali ke atas lagi. Dia mengerutkan kening tidak suka saat melihat ketiga gadis yang duduk bersamanya tampak menaruh perhatian kepada murid nakal itu. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang bagus dari murid ini selain wajahnya yang sedikit lumayan.


"Kamu Gilang?" Tanya Beni dengan suara masam. Nada ketidaksukaannya dapat didengar dengan jelas.


Gilang mengangguk membenarkan ucapan Beni, lalu melirik ke arah lambang kelas dua belas yang ada di lengan baju Beni. "Hm, aku Gilang. Ada apa, Kak?"


"Kamu Gilang? Wah kebetulan, aku Lila. Kita pernah bertemu sebelumnya di gerbang." Lila dengan cepat mengeluarkan suaranya sebelum Beni mengungkapkan tujuannya.


Gilang tampak berpikir sejenak, namun tidak mengingat pertemuannya dengan Lila. Tapi dia tetap mengangguk, "Iya, halo Kak Lila."


Tatapan Gilang langsung jatuh ke dua gadis lainnya.


Putri tampak kalem dan duduk manis tanpa mengeluarkan suaranya. Dia tersenyum tipis pada Gilang, mengungkapkan sisi feminimnya. "Aku Putri."


"Gina." Ucap Gina singkat dengan mata yang menyelidik. Dia menatap Gilang dengan tatapan tak ramah membuat Gilang merasa tak nyaman.


Gilang mengangguk sebagai bentuk balasan, dia sudah biasa dengan para gadis yang ingin mengenalnya. Tapi kali ini hanya ada satu gadis yang agresif, tatapannya kembali ke arah Lila yang tersenyum manis. Tapi keagresif Lila hanya seperti sifat alami tanpa bentuk ketertarikan yang biasa dia dapatkan.

__ADS_1


"Ekhem." Beni berbatuk pelan, mengalihkan perhatian semua orang ke arahnya. "Kamu, apa kamu mengenalku?" Tanyanya pada Gilang.


Gilang melihat lurus ke wajah Beni yang tampak familiar, tapi dia tidak mengingatnya. Dengan jujur, Gilang menggelengkan kepalanya, dan bertanya dengan seadanya. "Kakak siapa?"


Beni menatap tajam ke arah Gilang, impiannya untuk menarik perhatian dan terkenal begitu mudah direnggut oleh anak yang baru saja masuk beberapa minggu ini. "Aku Beni."


Tatapan Gilang langsung membeku, dia tiba-tiba mengingat seseorang yang seharusnya tidak bisa dia lupakan.


Beni melihat reaksi Gilang dan melanjutkan perkenalannya, "Aku Ketua OSIS di sekolah ini."


Tepat ketika mendengar kata 'Ketua OSIS', Gilang langsung meletakkan piring nasi gorengnya di atas meja dan lari secepat kilat dari kantin. Tindakannya itu membuat empat orang yang ada di meja tertegun kaget, terutama Beni yang baru saja selesai berbicara.


Beni tidak menduga reaksi Gilang akan sebesar ini dan dengan cepat berdiri dan lari mengikuti jejak Gilang.


Ketiga gadis di meja tersebut saling memandang tak mengerti.


Gina dengan santai mengambil piring nasi goreng dan memakannya sambil berpikir. "Ada apa dengan mereka?" Ucapnya sambil memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


"Mungkin dia lari karena ketahuan bolos." Ucap Putri agak ragu.


Putri menghela napas panjang, "Aku tidak tahu, aku hanya merasa malu di depan Beni. Aku takut salah bicara dan terlihat konyol di hadapannya."


"Kenapa harus malu? Coba lihat Lila, dia terus bicara omong kosong dengan Bambang tanpa tahu malu. Lain kali kamu harus belajar dari Lila." Saran Gina dengan tulus.


Lila tidak mengelak dan mengangguk setuju, "Cinta memang seperti itu, tidak perlu menggunakan logika. Kalau malu terus, gimana cara dekatin orang yang kita sukai?"


Putri mendesah pelan, "Aku tidak bisa, aku gugup kalau di depan Beni."


Gina menatap nasi goreng yang ada di hadapannya, dan kembali memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya. "Ini aneh." Gumamnya pelan namun masih dapat didengar kedua sahabatnya.


"Apa yang aneh?" Tanya Lila yang mencoba fokus menatap Gina namun tatapannya selalu jatuh ke nasi goreng.

__ADS_1


Gina tidak peduli dengan pandangan lapar sahabatnya dan hanya menjawab singkat. "Gilang, dia aneh."


"Maksudmu apanya yang aneh?" Putri juga tidak mengerti, dia bertanya dengan penuh minat.


Gina menatap kedua sahabatnya bergantian dengan kesal, "Ingat baik-baik, murid baru itu selalu buat masalah. Dia pernah memukul seorang guru dan barusan Beni mengatakan jika anak itu juga suka memukul anggota OSIS yang ingin menangkapnya."


Putri dan Lila langsung tercerahkan, mereka dengan cepat menemukan bagian aneh dari sisi Gilang.


Gilang, murid nakal itu berani memukul anggota OSIS dan bahkan guru, tapi kenapa dia lari saat mendengar pengenalan dari Beni?


"Jadi menurutmu dia takut pada Beni?" Tanya Lila.


Gina mengangguk, "Aku yakin, ekspresinya mengatakan seperti itu."


Putri langsung tersenyum, "Tentu saja! Beni sangat hebat, memiliki aura pemimpin dan disegani banyak orang. Tentu saja murid nakal seperti Gilang akan takut padanya. Beni sangat tampan!"


Gina dan Lila mengabaikan ucapan Putri yang kebucinannya sangat over dosis. Mereka sibuk memikirkan alasan yang sebenarnya terjadi.


Saat itu, Gina tiba-tiba memikirkan sebuah gagasan yang aneh. "Aku mengerti. Beni dan Gilang dulunya adalah sahabat."


Lila mengangkat alisnya, "Tapi kenapa dia lari? Dan Beni juga tidak terlihat mengenal Gilang."


Putri mengangguk, "Ya, tadi Gilang juga bertanya nama Beni. Mereka tidak mungkin kenalan."


"Dengarkan aku baik-baik!" Gina menyingkirkan piring kosong dari hadapannya dan kembali berbicara. "Beni dan Gilang adalah sahabat yang dekat, suatu hari Gilang mengkhianati persahabatan mereka, membuat Beni dalam masalah dan menaruh kebencian yang dalam."


Putri dan Lila berpikir keras dalam mencari kelanjutan cerita Gina.


Lila menjentikkan jarinya dan berkata, "Ah, aku mengerti. Karena merasa bersalah, Gilang pergi ke luar kota untuk menghindari Beni. Membawa semua penyesalan dan rasa frustrasinya. Dia memulai hidup baru di sana."


"Terus Beni mengalami kecelakaan dan tiba-tiba melupakan Gilang. Bertahun-tahun telah berlalu dan Beni mengalami perubahan tubuh yang pesat. Sehingga akhirnya ketika mereka bertemu, mereka sudah melupakan wajah masing-masing. Namun nama mereka saling tersimpan di memori terdalam." Sambung Putri mengakhiri jalan cerita.

__ADS_1


Gina mengangguk membenarkan kisah ciptaan mereka. Namun tiba-tiba terbesit pertanyaan di kepalanya. "Tapi kenapa Gilang lari saat tahu Beni adalah Ketua OSIS?"


Mereka bertiga kembali berpikir.


__ADS_2