
Gina berjalan ke arah rumah dengan langkah yang lambat dengan sengaja. Dia sangat yakin bahwa ketika di rumah nanti, ayahnya akan memberikan seribu satu pertanyaan tentang perbuatannya kepada Sinta tadi. Itu membuat Gina merasa malas dan hanya ingin memperlambat waktunya sampai ke rumah.
Di pinggir jalan, dia melihat beberapa pedagang kaki lima sedang bersarang menjual berbagai macam hal. Mencium aroma makanan yang menggoda, Gina langsung singgah dan memesan dua mangkok bakso mercon yang bisa membuat Lila mengeluarkan banyak air mata ketika memakannya.
Gina duduk di depan meja panjang, menunggu pesanannya dibuat sembari bermain ponsel saling mengirim pesan absurd di grup tiga orang yang berisikan dia, Lila, dan Putri. Tidak ada bahasan yang penting, hanya lelucon dan saling menghina seperti biasanya.
Ketika dua mangkok bakso muncul di depannya, dia memotretnya dan mengirim ke grup tersebut, membuat Lila maupun Putri mengeluh karena Gina sangat pelit tidak mengajak mereka makan bersama.
Terkekeh sebentar, Gina akhirnya melepaskan ponselnya dan fokus dengan makanan di depannya.
__ADS_1
"Eh Kakak juga di sini?"
Sebuah suara familiar terdengar menyeda aktivitas makan Gina yang nikmat. Dia mengangkat kepalanya, melihat bocah yang masih mengenakan seragam SMP sedang nyengir menatapnya dengan mata polosnya. Gina mengangkat satu alisnya, merasa sangat tak terduga bertemu kenalan di tempat seperti ini.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Gina langsung.
Beta duduk di depan Gina, niatnya pergi membeli buku di toko buku dekat perempatan terlupakan langsung dari kepalanya. Dia segera memesan semangkok bakso yang sama dengan milik Gina dan dengan patuh menjawab yang dipertanyakan gadis di depannya itu.
Gina mengangguk acuh tak acuh, "Oh."
__ADS_1
Ketika pesanannya tiba, Beta segera menyantapnya, tak ingin membuang kesempatan untuk terus membuat percakapan dengan Gina. Namun satu gigitan dari bakso di mangkoknya membuat matanya sukses melotot lebar. Lidahnya seperti terbakar dan dia ingin menangis dengan keras. Jika saja dia tidak sedang menjaga image di depan Gina, dia mungkin akan membuka mulutnya untuk mengeluarkan asap api yang terpendam.
"Kenapa? Pedas?" tanya Gina merasa tertarik dengan ekspresi Beta yang lucu. Wajah merah bocah itu yang sedang menahan pedas membuatnya ingin tertawa.
Meski terlihat sangat jelas, Beta menolak untuk mengakui kelemahannya. Dia menggelengkan kepala dengan tegas. "Tidak sama sekali," jawabnya dengan tidak meyakinkan.
Dia melihat isi kedua mangkok di depan Gina yang dengan mudahnya dilahap oleh gadis itu. Warna kuahnya merah seperti lava, tampaknya gadis itu sangat suka makanan pedas. Beta sebelumnya tidak menyadari bahwa yang dipesan Gina adalah bakso dengan bom di dalamnya, yang dia inginkan hanyalah satu rasa dengan kakak kelas yang menarik itu. Tetapi nyatanya, dia tidak mampu untuk menyaingi pengecap rasa Gina.
Beta menatap horor bola-bola daging di dalam mangkoknya, merasa ragu untuk memakannya. Namun di depannya, Gina sedang menatapnya dengan senyuman, membuat Beta mau tidak mau mengeraskan kepalanya dan dengan histeris terdalam hatinya dia memakan bakso itu satu persatu. Lidahnya hampir mati rasa dan keringat sudah mulai membasahi seragamnya. Berpikir bahwa semangkok bakso ini adalah ujian untuk bisa akrab dengan Gina, akhirnya dia berhasil memecahkan misi menghabiskan semangkok bakso tersebut.
__ADS_1
Gina makan dengan santai, merasa terhibur dengan tindakan dan ekspresi Beta. Dia ingin tertawa tetapi menahannya, menunggu bocah itu mengakui kekalahan bahwa dia kepedasan. Namun dia tidak menyangka bahwa harga diri bocah itu sangat besar, mampu menghabisinya meski tidak tahan dengan pedas. Dia pikir, Lila harus belajar dari bocah SMP ini.