Sang Dewa Perang

Sang Dewa Perang
Bab 151


__ADS_3

Nada bicara Thomas dingin tanpa emosi. Kekejaman Dewa Perang langsung membara.


Satu tamparan demi tamparan, dan satu pukulan demi pukulan.


Jeffy dipukuli selama sekitar lima jam.


Jeffy dipukuli sedemikian rupa sehingga wajahnya terdistorsi, dan lantai dipenuhi darah.


"Bunuh... Bunuh saja aku..." Kata Jeffy dengan napas terakhirnya.


Baru pada saat inilah dia menyadari apa artinya rasa sakit, dan apa itu neraka dunia. Alih-alih dipukuli sampai mati seperti ini, dia lebih suka langsung mati.


Thomas mencibir. "Membunuhmu? Aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku akan membuatmu hidup merasa kecil dan rendah sepanjang hidupmu."


Pria itu berdiri dan berjalan ke arah Jeffy. Dia mengulurkan tangan untuk meletakkan tangannya di kepala Jeffy sebelum dia menekan beberapa titik tekanan dengan jari-jarinya. Kemudian, Thomas menekan dengan kuat!


"Uh!"


Jeffy menjerit kesakitan, dan dia merasa sengsara.


Thomas mengendurkan tangannya, dan dia membiarkan semua orang meninggalkan rumah.


Sementara itu, kepala Jeffy telah "terluka" oleh Thomas, sehingga dia lumpuh. Dia akan terus hidup tetapi hanya sekadar hidup.


Itulah konsekuensi dari memprovokasi Thomas.

__ADS_1


Setelah mereka pergi, Thomas memberikan alamat kepada Ballard.


"Bos Tom, ini?"


"Ini alamat Shalom Technology. Bawa saudara saudaramu ke sana besok. Aku akan memenuhi janjiku."


"Oh saya mengerti. Kami akan ke sana besok."


Setelah Thomas berbicara, dia mengucapkan selamat tinggal kepada yang lainnya dan menghentikan taksi untuk pulang.


Malam yang gelap sepertinya menunjukkan kalau dia bahkan belum muncul. Hanya kekacauan mengejutkan yang menjadi bukti betapa menakutkannya Si Dewa Perang itu!


***


Thomas mengangkat bahu.


"Aku baru saja kembali ke perusahaan untuk mengurus sesuatu. Apa terjadi sesuatu?"


Sementara itu, Johnson dan Felicia telah menyiapkan beberapa hidangan, jadi mereka mengundang Thomas dan Emma untuk makan. Empat anggota keluarga ini berkumpul bersama dan menikmati makanan lezat.


Saat mereka sedang makan, berita itu disiarkan di televisi: Bos Void Interaction Media Corporation, Bonnie Marsh, dan editor perusahaan, Rafferty Cook, menyelenggarakan konferensi pers khusus untuk memverifikasi beberapa berita secara terbuka.


Semakin lama Emma menontonnya, dia semakin bahagia. Dia tak bisa menahan tawa.


Pada saat ini, Thomas berbisik ke telinganya, "Oh, kita bertaruh. Aku bilang kalau mereka akan meminta maaf. Aku menang. Bukankah kau seharusnya menepati janjimu ...."

__ADS_1


Emma melihat sekeliling. Wajahnya memerah. Dengan canggung, dia mendorong Thomas menjauh.


"Ibu dan Ayah ada di sini. Kamu ngomong apa sih? Menjauh dariku."


Johnson melihat keduanya agak aneh. Jadi, dia bertanya, " Ada apa dengan kalian? Apa kalian sedang bertengkar?"


"Tidak..." Emma sangat malu. Dia menundukkan kepalanya dan berkata, "Aku sudah selesai makan. Aku harus kembali ke kamar dan tidur dulu."


Emma berdiri dan segera berlari ke kamar.


Karena penasaran, Felicia bertanya, "Kenapa dia berhenti makan setelah beberapa suap? Tom, apa kalian bertengkar?"


Thomas tersenyum. "Tidak, kami hanya memiliki pendapat yang berbeda."


"Pendapat apa?"


"Um ... aku ingin meluangkan waktu untuk memberikan kalian berdua seorang cucu, tapi dia tidak mau."


Felicia dan Johnson saling berpandangan. Keduanya tersenyum.


Felicia sengaja berpura-pura marah dan berkata, "Ya ampun! Bagaimana kau bisa mengatakan hal ini ketika kau sedang makan? Kau sungguh tidak tahu malu."


Bersambung.....


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2