
"Thomas, apa kau lihat bagaimana wajah Kakek tadi? Kakek pasti sangat marah, sampai-sampai lehernya berwarna merah sekali seperti panci mendidih."
Thomas tertawa. "Sejak kapan kau jadi nakal begini? Bukannya kau ingin aku bersikap 'sopan' kepadanya?"
Emma menghela napas. "Ya, apapun yang terjadi dia tetap Kakekku, keluargaku. Tapi yang terjadi hari ini terlalu konyol. Kalau para penduduk tak 'membantu' aku, aku sepenuhnya tidak tahu apa yang harus aku lakukan."
Membicarakan hal itu, Emma merasa tertegun.
"Sebenarnya aku juga tak tahu apa yang terjadi. Thomas, kenapa orang-orang diusir saat mereka membujuk para penduduk, tapi mereka bersedia tanda tangan saat aku yang pergi tanpa perlu bilang apapun?"
Thomas melihat sekitarnya. "Karena .... Kau terlahir sangat cantik. Saat kau muncul, kau berkilauan dan kau dapat membuat mereka semua takjub. Ketika sang dewi menunjukan dirinya, mereka secara alami menyerah."
Emma menekan kepala Thomas dengan jari telunjuknya. "Kau selalu mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal biar aku senang."
Wanita itu menatap Thomas sambil tersenyum manis.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Thomas.
"Aku menertawaimu."
"Aku?"
"Iya." Emma menaruh kedua tangannya di balik punggung sambil menatap permukaan sungai. "Aku masih ingat saat kau pertama kali pulang dari Pantai Barat, kau sangat pendiam dan tak suka bicara apalagi senyum. Pada waktu itu, aku sebenarnya takut kepadamu. Aku selalu berpikir kalau kau memiliki kepribadian yang brutal."
"Tapi, akhir-akhir ini aku mengetahui kalau ..."
__ADS_1
"Tom, kau sekarang jadi lebih cerewet. Kau juga suka tersenyum. Bahkan kau mengatakan hal-hal yang tak masuk akal seperti sekarang ini."
"Beberapa bulan lalu aku tak berani memikirkan hal ini."
Yah, siapa yang akan berpikir kalau sang Dewa Perang yang biasanya bisa membunuh tanpa ragu suatu hari bisa menjadi begitu hangat?
Sebenarnya, perubahan Thomas terjadi berkat Emma.
Saat Thomas memiliki istri seperti Emma, dia seperti tinggal di kehidupan yang manis setiap harinya. Ketika dia memiliki kehidupan yang panjang, secara alami dia 'meleleh'.
Thomas juga sering tidak menyadari perubahannya.
Namun, yang jelas sikap lembutnya hanya ditunjukkan kepada Emma. Kalau berhadapan dengan musuh, Thomas tetaplah sang Dewa Perang yang membuat orang-orang ketakutan.
Itu adalah Adery.
"Adery? Jadi, Thomas Mayo, apa kau berpacaran dengan wanita di luar sana?" Emma marah sambil bertolak pinggang.
Thomas langsung menjadi gelisah. Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan tidak tahu harus menjawab apa.
Emma tertawa meledak. "Haha, kau terlihat sangat lucu."
Thomas kembali tersadar. Padahal Emma hanya bercanda. Wanita itu benar-benar membuatnya ketakutan.
Dia menggelengkan kepalanya dan mengangkat panggilan telepon dari Adery,
__ADS_1
"Halo, Adery, ada apa?"
"Thomas, apa sekarang kau ada waktu? Tolong datang ke klinik."
"Ada pasien?"
"Bukan, ada Pak Edith Barlow yang waktu itu kita layani. Agen umum Ferrari cabang negara kita."
"Dia mencariku?"
"Iya, saat dia pergi waktu itu, bukannya dia bilang ingin memberimu hadiah mahal kalau dia ada kesempatan? Dia tak tahu dimana kau tinggal jadi dia membawa hadiah milikmu ke tempatku. Thomas, tolong datang dan terima hadiahnya."
Thomas tersenyum. "Kau bisa menerimanya menggantikanku, atau aku berikan saja padamu."
Adery menjawab, "Tidak, tidak bisa. Hadiah ini terlalu mahal. Cepat datang kesini."
Setelah Adery selesai berbicara, dia menutup telepon.
Thomas mengernyitkan dahinya. Ini sudah lama, tetapi Pak Edith tetap datang dan memberikan hadiah itu. Kira kira apa hadiahnya?
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komen
Sekian terima kasih.....
__ADS_1