Sang Dewa Perang

Sang Dewa Perang
Bab 217


__ADS_3

Emma telah menelepon Neil berkali- kali, tetapi hasilnya sama saja. "Pelanggan yang Anda hubungi sedang sibuk sekarang."


Wanita itu tersenyum dan berkata, "Huh, ponsel Neil dimatikan sejak tadi malam. Sepertinya insiden ini telah menyebabkan kerugian besar baginya secara fisik dan psikologis."


Namun Emma tidak tahu kenapa, tapi dia merasa sangat senang.


Meskipun dia tidak mau mengakuinya, dia sangat gembira dengan masalah Neil.


Thomas berkata, "Sepertinya kau senang sekali."


Emma cemberut. "Tidak kok. Aku tidak akan menari-nari di atas penderitaan orang lain."


Meskipun Emma berkata demikian, dia diam-diam tersenyum lagi setelah berbalik.


Kejadian ini memang lucu.


Apalagi Neil yang terluka, jadi kejadian itu lebih pantas untuk ditertawakan.


Keduanya berpegangan tangan dan berjalan ke stasiun kereta api berkecepatan tinggi.


Perjalanannya begitu lancar.


Setelah mereka kembali ke rumah, Emma menerima telepon dari Richard sebelum sempat duduk.


"Halo, kakek, ada apa?"

__ADS_1


"Emma, bagaimana urusan bisnis di Distrik Rock?"


"Semuanya sudah selesai. Perusahaan itu bersedia menjual bahan-bahan tersebut kepada kita senilai tujuh puluh persen dari harganya, dan kontrak telah ditandatangani dan dibawa pulang."


"Oh itu bagus." Setelah ragu-ragu selama beberapa detik, Richard bertanya, "Apa kamu tahu apa yang terjadi pada Pak Chapman? Kakek tidak bisa menghubungi ponselnya sejak kemarin, dan Kakek tidak tahu ada apa. Ada desas desus yang bilang kalau sesuatu telah terjadi padanya."


Emma hampir tertawa terbahak-bahak.


Dia berpura-pura tenang dan berkata, "Pak Chapman? Aku tidak tahu. Kami belum bertemu satu sama lain sejak kami berpisah di hotel kemarin, dan dia juga tidak mengantar kepergian kami hari ini. Aku juga penasaran kenapa aku tidak bisa menghubungi ponselnya."


"Oh ya? Baiklah, aku akan bertanya pada seseorang nanti. Itu saja. Aku akan tutup teleponnya sekarang."


"Oke."


Setelah menutup telepon, Emma tidak bisa berhenti tersenyum. Wanita itu tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.


Itu karena Emma telah merasa terganggu oleh Neil selama beberapa waktu.


Sekarang tidak masalah. Emma tidak dapat menemukannya meskipun dia berinisiatif untuk meneleponnya.


Emma mungkin tidak akan melihat Neil lagi di masa mendatang. Pria ini mungkin terlalu malu untuk muncul di hadapan semua orang.


Thomas datang sambil tersenyum dan berkata di sebelah telinga Emma, "Setelah menonton penampilan luar biasa Neil tadi malam, aku juga ingin melakukannya denganmu...."


Emma menatap Thomas sambil berkacak pinggang." Kalau kau mau, kau bisa belajar dari Neil."

__ADS_1


"Baiklah, beraninya kau mengutukku."


Thomas mengangkat Emma dan menggelitiknya di bawah ketiaknya. Hal ini membuat Emma tertawa sampai sampai air matanya hampir menetes.


"Berhenti. Geli. Thomas, berhenti."


Saat itu, Johnson dan Felicia pulang setelah berbelanja, dan mereka baru berjalan ke pintu masuk.


Setelah mendengar suara teriakan Emma secara langsung, kedua orang tua itu tersipu pada saat yang sama.


Felicia berkata, "Kedua anak ini mulai nakal. Mereka tidak malu. Saat mereka melihat kita tidak ada di rumah, mereka melakukan itu di ruang tamu ..."


Johnson batuk-batuk. "Yah, mereka masih muda, jadi mereka kadang- kadang suka mencari sedikit rangsangan. Itu bagus juga. Setelah beberapa kali lagi, mungkin kita bisa segera bertemu cucu kita."


Felicia bertanya, "Lalu sekarang?"


"Sekarang? Kita akan pergi, tentu saja. Apa mungkin kamu mau masuk?"


"Eh...


Johnson meletakkan belanjaan di pintu dan memegang tangan Felicia. Kedua orang tua itu meninggalkan pintu masuk dan pergi ke taman terdekat.


Mereka memberi Thomas dan Emma waktu untuk sendirian.


Mereka meninggalkan cukup banyak peluang demi rencana mereka bertemu cucu.

__ADS_1


Bersambung.....


Sekian terima kasih.....


__ADS_2