Sang Dewa Perang

Sang Dewa Perang
Bab 39


__ADS_3

Thomas mengulurkan tangan padanya. "Apa kamu meminjam uang dari orang lain selain Ballard?"


"Ya, ada."


"Berikan aku ponselmu dan beri tahu aku semua orang yang kamu pinjam uangnya."


"Oke.'


Thomas mengambil ponselnya, mencatat nama-nama mereka, dan mengirimkannya ke Samson. Kemudian, dia mengembalikan ponsel itu ke Susan. 'Mulai sekarang kamu tidak memiliki hutang lagi."


"Hah? Totalnya ada beberapa ratus ribu dolar. Apa kamu sudah membayar semuanya?" Susan bertanya dengan kaget.


"Ya."


Susan benar-benar tercengang. Baginya, pria ini sangat mengejutkan. Sebelumnya, Susan telah memandang rendah Thomas dan menyerangnya dengan kata-kata yang sangat jahat.


Namun, Thomas bukannya marah, dia justru membantunya membayar semua hutangnya.


Pria itu telah membalas rasa marahnya dengan kebaikan.


Susan benar-benar tidak tahu bagaimana dia harus membalas kebaikannya.


"Kenapa kamu sangat baik padaku?"


"Karena kamu sepupunya Emma."

__ADS_1


Thomas menginjak pedal gas, menyalakan mobil, dan pergi. Di belakang mereka, Ballard dan gengnya dengan hormat membungkuk.


"Selamat tinggal, Bos!"


Susan melihat dari jendela belakang dan tertawa terbahak-bahak.


"Orang-orang ini biasanya sangat galak dan kejam. Mereka selalu mengganggu orang baik. Banyak siswa sudah sangat disiksa oleh mereka, tetapi mereka tanpa diduga dikalahkan olehmu. Hei, Thomas, kenapa kamu sangat jago berkelahi?"


"Aku berada di militer selama beberapa tahun. Orang orang ini bukan apa-apa." Thomas berbelok sebelum dia mengingatkan Susan, Tapi, cukup kita berdua yang mengetahui tentang kejadian hari ini. Tolong jangan ceritakan pada orang lain."


"Kenapa?"


"Tak ada alasan. Kamu juga tidak ingin orang-orang tahu soal 'insiden terhormat' mu yang berhutang uang di mana mana dan dikejar-kejar oleh para gangster, kan?"


Ketika mereka kembali ke rumah, Emma sudah bangun. Saat dia melihat sepupunya tiba, Emma dengan senang hati pergi dan memeluknya


Keduanya adalah teman bermain saat mereka masih kecil, jadi hubungan mereka sangat dekat.


Saat mereka berbincang, Susan tiba-tiba mencubit Emma dengan lembut. "Emma, senang sekali kamu menikah dengan pria yang sangat baik." Ketika Susan berkata demikian, dia merasa sedikit cemburu. Emma tertegun sejenak, "Umm, apa maksudmu Thomas?".


"Ya! Dia luar biasa hari ini! Dia... Thomas memelototi Susan, jadi wanita itu dengan cepat menutup mulutnya.


Saat itu, Johnson dan Felicia berjalan mendekat.


"Paman! Bibi!

__ADS_1


"Hei, kamu datang, Susie! Ayo, aku menyiapkan banyak hidangan hari ini untuk menyambutmu.


Terima kasih, Bibi."


Saat mereka sedang makan, Johnson berkata kepada Thomas, "Kamu makannya nanti. Sana pel lantai di dapur.


"Oke."


Thomas tidak membantah dan langsung berjalan ke dapur. Emma melihat situasi tersebut dan merasa kasihan padanya.


Susan merasa lebih penasaran, dan dia bertanya, "Paman, kenapa Paman tidak membiarkan Thomas makan bersama kita?"


Richard mengejek. "Makan bersama? Mimpil Dia pergi-pergi setiap hari, dan dia sangat miskin dan tidak beradab. Aku merasa marah setiap kali aku melihatnya. Berani sekali dia mau makan bersama aku!"


"Pergi-pergi? Miskin dan tidak beradab?"


Susan merasa hal itu sulit dipercaya. Kakak iparnya ini mampu menangani Ballard dan orang-orangnya dalam tiga puluh detik. Ditambah, dia dapat menggunakan beberapa pesan teks untuk membantunya membayar semua hutangnya. Apa Thomas miskin dan tidak beradab?


Johnson berkata, "Semakin aku melihatnya, semakin aku merasa marah. Aku akan membuat Emma menceraikannya cepat atau lambat!"


Ekspresi Emma sontak menggelap.


Bersambung......


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2