
Harvard bangkit dan pergi untuk menyiapkan draf.
Richard mengangkat cangkir teh dan menyesapnya puas. Dia terkekeh sambil menatap Jade. "Kalian berdua adalah cucu perempuanku, tapi Jade, kau membuatku merasa bahagia, tidak seperti Emma. Dia selalu membuatku marah!"
Jade tersenyum. "Kakek, terlalu memuji."
"Hei, jangan khawatir. Sayang sekali kau adalah seorang wanita. Jika kau adalah seorang pria, aku akan segera mewariskan posisi kepala keluarga kepadamu. Hah, Harvard tidak sebagus dirimu dari aspek mana pun. Aku sangat khawatir."
"Kakek, Harvard hanya sedikit impulsif. Kemampuannya sebenarnya tidak terlalu buruk."
Richard menghela napas. "Bagus jika dia memiliki setengah dari ketenanganmu."
Di sisi lain.
Emma dengan marah kembali ke kantornya. Dia melemparkan proposal itu ke lantai. Dia dengan kejam menginjaknya dengan sepatu hak tinggi beberapa kali dan membuat beberapa lubang.
Dia tidak pernah merasa begitu tidak nyaman seperti ini sebelumnya!
Dia pernah digertak oleh orang luar sebelumnya, dan itu tak mengapa! Tapi sekarang keluarganya juga menggertaknya. Mereka bahkan bekerja sama untuk menggertak. Dia merasa lebih berduka saat memikirkannya.
Air matanya hampir jatuh saat mulai berkata-kata.
Thomas segera berjalan mendekat dan memeluknya." Jangan menangis. Ini akan membuat mereka merasa lebih bahagia."
Emma menyeka air matanya dan dengan sedih berkata, "Tapi, Kakek dan yang lainnya terlalu konyol. Bagaimana mereka bisa merudungku seperti ini? Aku benar-benar tidak ingin tinggal di keluarga ini lebih lama lagi."
__ADS_1
"Thomas, kenapa tidak kita lupakan saja?"
"Aku akan mengembalikan 10% saham kepada Kakek dan aku akan menemukan pekerjaan yang stabil di luar seperti ayah."
Thomas tersenyum saat dibiarkannya Emma duduk.
"Kau hanya terlalu marah, lantas kau jadi konyol sekarang. Apa kau tahu apa makna 10% saham keluarga Hill? Kau dapat memiliki sekitar dua juta dolar keuntungan pada akhir tahun tanpa harus melakukan apa pun setiap tahun.. Kenapa kau tidak menginginkannya?"
"Tapi aku benar-benar tidak senang tinggal di sini!"
"Jangan khawatir, mereka tidak akan lama bahagia."
"Apa maksudmu?"
Thomas menyeringai saat berkata, "Seperti yang aku katakan, para warga tidak akan setuju dengan perubahan rencana ini. Jika mereka tidak setuju, tidak peduli seberapa sombong kakekmu, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa."
Thomas dengan lembut memegang tangan Emma.
"Percayalah padaku. Kau hanya perlu tidur nyenyak sekarang. Masalahnya akan hilang setelah kau bangun."
"Oke."
Emma benar-benar lelah. Dia berbaring di sofa dan meletakkan kepalanya di kaki Thomas. Dan seperti inilah dia tertidur.
Sementara itu, Thomas mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan teks ke Samson.
__ADS_1
Dia kemudian menyingkirkan ponselnya. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Dengan lembut, Thomas membelai rambut panjang Emma. Dia diam-diam berpikir, 'Emma, istirahatlah dengan baik. Serahkan hal-hal lain padaku. Tidak akan ada masalah ketika aku ada di sini'.
Satu jam kemudian, hari sudah siang.
Harvard datang ke kantor ketua dengan draf yang baru saja dia cetak.
"Kakek, aku sudah meminta seseorang membuat draf. Apa bisa Kakek memeriksa apakah ada masalah?"
"Oke, tunjukkan padaku."
Richard dengan hati-hati membaca draf dari atas ke bawah. Dia mengangguk. "Harvard, kau melakukannya dengan cukup baik kali ini. Draf ini ditulis dengan sangat baik. Oke, telepon para warga dan bicara sesuai draf ini. Semakin awal kita mengkonfirmasi hal ini dengan mereka, semakin awal kita memulai pekerjaan ini."
"Oke, aku akan menelepon sekarang."
Harvard menggunakan saluran telepon perusahaan untuk menelepon. Cara ini akan membuat panggilan teleponnya terdengar lebih resmi.
Kali pertama, dia menemukan nomor telepon Fabian. Dia menekan nomornya, dan dengan sabar menunggu sekitar dua puluh detik. Kemudian, panggilan itu dijawab.
"Halo?"
"Halo, Pak Burke, saya Harvard Hill, wakil presiden Perusahaan Manufaktur Hill. Saya ingin berdiskusi dengan Bapak mengenai rekonstruksi kompleks perumahan ...."
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen
Sekian terima kasih.....