
Keesokan paginya....
Selvi bangun dari tidurnya. Dia lalu merenggangkan tangannya mencoba untuk mencapai sesuatu tapi dia tidak bisa mencapainya. Matanya masih tertutup dia tiba-tiba menyadari bahwa tempat tidur itu begitu besar. Dia lalu membuka matanya perlahan dan melihat ke sekeliling.
"Di mana aku?" Ucap Selvi.
Dia mencoba untuk mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Kamar di mana dia berada saat ini tampak begitu asing baginya.
'Apakah aku melakukan hal yang tidak pantas dengan orang asing semalam?' tanya Selvi dalam hati.
Selvi lalu menyibak selimut dan melihat ke arah tubuhnya. Dia pun begitu terkejut melihat dirinya yang tengah memakai pakaian seorang pria. Dia lalu menyentuh semua bagian tubuhnya. Dia merasa tidak ada yang terluka kecuali rasa perih di bibirnya. Dia lantas dengan cepat turun dari atas tempat tidur dan berlari ke arah kamar mandi. Dia lalu melihat dirinya sendiri di cermin.
"Sial, bibirku sakit sekali." Umpat Selvi.
Dia lalu berjalan keluar dari dalam kamar mandi dan melihat sekeliling.
__ADS_1
'Sebenarnya kamar siapa ini?' pikir Selvi masih bingung.
Dia kemudian mulai mengingat semuanya lagi. Dia mengingat jika semalam dia berada di sebuah klub bersama dengan Alena dan Dani. Dia dan Alena mabuk lalu bersandar di tubuh Dani. Tapi kemudian Alex datang.
'Oh ya Tuhan, apakah ini kamar Alex?' Ucap Selvi dalam hati.
Selvi kembali mengingat bahwa semalam dia melihat Alex dan juga dia berada di dalam mobil bersama dengan Alex. Semalam dia sendiri bahkan menggoda Alex.
"Tidak... sial... sial... ini sangat buruk." Ucap Selvi lagi.
Memikirkan semua itu membuat Selvi ingin pergi dengan cepat. Kemudian dia mencoba untuk mencari pakaiannya. Namun dia tidak menemukannya meski dia sudah mencari di semua sudut ruangan kamar itu.
'Tidak mungkin... Bukan. Itu tidak mungkin dirinya bukan?' pikir Selvi lagi.
Selvi bergegas kembali naik ke atas tempat tidur dan langsung menutup dirinya dengan selimut berpura-pura untuk tidur lagi. Dia tidak sanggup untuk berhadapan dengan Alex di situasi seperti ini. Dia merasa begitu malu memikirkan bahwa semalam dia telah mencoba untuk menggoda Alex.
__ADS_1
Pintu kamar terdengar terbuka yang membuat jantung Selvi berdetak semakin kencang. Dia benar-benar tidak sanggup bertatap mata dengan Alex. Namun rasa penasarannya membuatnya mengintip sedikit. Kemudian saat dia melihat seorang wanita paruh baya yang masuk dan bukannya Alex, dia merasa begitu lega. Akhirnya dia bisa bernapas lega. Dia pun membuka matanya dan membuat wanita itu melihat dia yang ternyata sudah terbangun.
"Nona Selvi, anda sudah bangun. Ini pakaian anda. Tuan Alexander sudah menyiapkan ini untuk anda dan juga sarapan anda sudah bersiap di meja." Ucap wanita itu tersenyum sopan pada Selvi.
"Hmmm.... Terima kasih bibi........."
Selvi tidak melanjutkan kalimatnya karena tidak tahu siapa nama dari wanita yang ada di depannya saat ini.
"Sama-sama Nona. Panggil saja saya Bibi Fina." Balas wanita itu.
"Oh ya Bibi Fina, di mana Alex?" Tanya Selvi.
"Tuan Alex sudah pergi bekerja Nona." Jawab Bibi Fina.
"Oh baiklah kalau begitu." Balas Selvi.
__ADS_1
Kemudian wanita itu pun pergi dari dalam kamar. Selvi lalu kembali turun dari atas tempat tidur dan melihat ke arah pakaian yang disiapkan oleh Alex untuknya. Pakaian itu ternyata adalah sebuah gaun berwarna biru terang.
Bersambung...