
Meja makan dipenuhi dengan berbagai jenis makanan . Keluarga yang berjumlah 5 orang itu tampak duduk mengelilingi meja makan dan mulai menikmati makanan mereka.
Opa David terlihat bahagia. Setelah begitu lama, Alexander akhirnya mau duduk dengan mereka menikmati makan malam mereka tanpa pertengkaran apapun.
"Vi, ayo coba ini." Ucap Tante Jessy seraya menaruh makanan di piring Selvi.
"Terima kasih Tante." Balas Selvi." Ini sangat enak." Lanjut Selvi seraya menaruh makanan itu di mulutnya dan tersenyum. "Tante, masakan Tante memang selalu yang terbaik." Ucap Selvi lagi dengan memberikan jempolnya ke arah Tante Jessy.
Kemudian Selvi beralih bicara kepada yang lainnya.
"Opa, Om, kalian berdua harus mencoba ini juga. Masakan ini sangat enak." Ucap Selvi tampak bahagia.
"Tante mu itu begitu bahagia mendengar bahwa kalian berdua akan pulang untuk makan malam. Jadi dia memasak semua makanan ini sendiri." Ucap Om James.
"Terima kasih banyak Tante." Ucap Selvi dengan matanya yang mulai berair.
Saat dia mendengar ucapan Om James, Selvi merasa begitu tersentuh karena selama ini Tante Jessy sangat menyayangi dirinya, sama seperti Om James dan juga Opa David.
Melihat matanya yang memerah, Opa David pun berkata, "gadis bodoh. Kenapa kau menangis? Cepat makan."
Selvi mengusap air matanya dan kemudian tersenyum.
"Baiklah Opa."
Sementara itu Alexander Hanya duduk di sana tanpa mengatakan apapun. Dia hanya fokus dengan obrolan mereka semua. Dia merasakan kehangatan yang dia rindukan selama ini.
Tante Jessy melihat ke arah Alex dan berkata,"kau juga makan. Ini adalah makanan favoritmu. Jika kau menyukainya, aku akan memasaknya untukmu jika kau kembali lagi nanti." Ucap Tante Jessy menunjuk ke arah makanan yang merupakan makanan favorit dari Alex.
Alex tidak mengatakan apapun, dia hanya mengambil makanan yang ditunjuk oleh Tante Jessy dan mencicipinya. Tante Jessy merasa begitu tersentuh dan bahagia karena untuk pertama kalinya. Alex tidak pernah mau memakan masakannya, tapi hari ini dia mau memakannya.
__ADS_1
James melihat ke arah istrinya dan mengusap punggungnya. Tante Jessy pun tersenyum. Sementara itu, Selvi melihat ke arah Alex dan berpikir.
'Dia tidak terlalu buruk hari ini.' Ucap Selvi dalam hati.
Setelah makan malam, Opa David meminta Selvi untuk menemani dirinya untuk berjalan di taman. Sementara James dan Alexander pergi ke ruang belajar untuk membicarakan tentang pekerjaan, sementara Tante Jessi kembali ke kamarnya.
Di ruang belajar....
"Alex Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya James.
Walaupun James sudah pensiun, tapi dia tetaplah pemilik dari saham dari perusahaan. James memegang saham 25% Opa David memiliki saham terbesar yang memegang 35% dan Alex sendiri memegang 20% dan sisanya merupakan pemilik dari saham lainnya.
Alex lalu memberikan laporan kepada Papanya tentang pekerjaannya di kantor. James pun melihat ke arah putranya dan berkata,
"Kau hampir berusia 31 tahun. Kapan kau akan menikah? Opa mu selalu menanyakan tentang hal itu. Jangan biarkan dia khawatir. Kesehatannya tidak terlalu baik akhir-akhir ini." Ucap James
"Aku mengerti." Ucap Alex.
"Saat itu Opa mau kau menikahi Selvi. Tapi kau menolak hal itu. Kau mengatakan bahwa kau mau bersama dengan model itu. Kami membiarkanmu melakukan apa yang kau inginkan. Tapi sampai sekarang.... Apa kau yakin benar-benar ingin bersama dengan wanita itu? Kami semua tahu kau tidak suka untuk dikontrol. Tapi tolong setidaknya hargai Opa mu. Opa mu selalu mengkhawatirkan tentang kalian berdua. Walaupun Selvi bukanlah cucu kandungnya, tapi dia tetap mengkhawatirkan tentang hidup Selvi. Sejak kau menolaknya, saat itu kami sudah menganggapnya sebagai putri kami. Papa harap kau bisa menjadi kakak baginya dan memberikan perhatian kepadanya. Dia tinggal di luar sendirian." Ucap Papa Alex kepadanya dengan begitu panjang lebar.
"Aku tahu apa yang aku lakukan." Ucap Alex.
Setelah keduanya mengobrol panjang, mereka pun berjalan naik ke lantai atas dan melihat Opa David dan Selvi yang sudah kembali dari jalan-jalan mereka. Opa David melihat ke arah James dan Alex. Setelah itu dia yang kembali melihat ke arah Selvi.
"Jangan lupa hari Rabu." Ucap Opa David.
"Hmmmm." Balas. Selvi.
Opa David lalu pergi ke kamarnya dibantu oeh seorang pelayan dan setelah itu James pun pergi ke kamarnya. Sementara itu, Selvi berjalan keluar diikuti oleh Alex.
__ADS_1
Alex berjalan ke arah mobilnya dan membuka pintu belakang. Namun Selvi berjalan melewatinya dan menuju ke arah gerbang.
"Kau mau pergi ke mana?" Tanya Alex.
Selvi melihat ke belakang dan berkata, "tentu saja pulang ke rumah."
Alex menunjuk ke arah pintu dan memerintahkan Selvi.
"Masuklah." Titah Alex.
Selvi melihat ke arahnya dan bertanya, "aku? Tidak... tidak perlu. Aku bisa naik taksi sendiri." Balas Selvi.
Dia tidak mau naik ke dalam mobil Alex. Alex mencoba untuk menahan emosinya. Dia sudah kesal melihat Selvi mengabaikan dirinya lagi.
Alex pun berkata, "ini sudah larut. Tidak ada taksi di sini."
Selvi melihat ke arah ponselnya dan melihat jam di sana. Apa yang dikatakan Alex memang benar. Tapi dia tetap menolak Alex. Dia tidak mau mengalami situasi yang sama lagi seperti saat itu saat dia ditinggalkan di jalanan yang sepi.
"Tidak apa-apa, aku bisa menelpon Alena atau Dani."
Setelah mengatakan hal itu, Selvi kembali berbalik dan berjalan ke arah gerbang.
Wajah Alex tampak murka dan dia pun berjalan mendekat ke arah Selvi.
Selvi begitu terkejut dan hampir terjatuh saat Alex tiba-tiba menggendong dirinya.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Selvi.
Selvi lantas dengan cepat menaruh lengannya di leher Alex. Posisi mereka membuat Selvi tampak merona. Sementara Alex tidak menjawab apapun dia lalu memasukkan tubuh Selvi ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya dengan segera.
__ADS_1
Dia pergi ke pintu mobil di sisi lainnya dan masuk . Setelah itu dia meminta sopir untuk mengendarai mobilnya pergi dari kediaman keluarganya itu.
Bersambung....